Langsung ke konten utama

Postingan

Postingan terbaru

OS-Brain Bab 25: Kilatan Listrik

Nui kemudian melihat seisi ruangan, beberapa detik kemudian, dia merasa kalau pernah melihat ruangan ini, dia juga merasa kalau dia pernah mengalami hal yang serupa.

Seketika, Nui ingat kenapa ruangan ini terlihat tidak asing. Setelah dia ditabrak mobil, dia dilarikan ke rumah sakit dan bangun di ruangan ini.

Namun Nui segera menghilangkan pikirannya, bagi Nui, tidak ada hal yang lebih penting dari ibunya. Karena itu dia mulai keluar dari ranjang dan segera berlari ke luar ruangan. Hal yang pertama ingin dia lakukan adalah memeriksa ibunya, dia ingin memastikan kondisi ibunya. Nui tahu kalau ibunya sudah meninggal, namun dia juga berharap kalau keajaiban terjadi, mungkin ibunya masih hidup? Nui tahu semakin seseorang berharap maka akan semakin hancur hatinya saat tahu harapan itu tidak terkabul, namun Nui tidak mau berhenti berharap.

Saat dia keluar dia melihat seorang suster berjalan berlawanan arah dengannya, Nui memperhatikan mata suster yang berada di depannya namun suster ini memil…

OS-Brain Bab 24: Aku Tidak Akan Memaafkanmu!

Pihak rumah sakit mengatakan kalau jam besuk sudah selesai, dan Nui sudah tidak bisa melihat ibunya. Namun dia memohon ke sang dokter sampai akhirnya dokter mengizinkan Nui menemui ibunya.

Nui berjalan ke ruang tempat ibunya dirawat, ruangan tempat ibu Nui dirawat memiliki 5 pasien lain, jadi Nui berusaha setenang mungkin saat masuk ke dalam ruangan, tiap tempat tidur dipisahkan oleh kain berwarna biru muda, Nui berjalan ke tempat tidur ibunya dan menarik sebuah kursi ke dekat tempat tidur.

Dia duduk dan memerhatikan ibunya yang masih belum sadar.

Saat melihat ibunya, air mata mengalir di matanya.

Dia akhirnya melihat sosok ibu yang sangat dia khawatirkan.

Ibu Nui adalah perempuan yang diberkahi dengan wajah yang cantik, walaupun kulitnya pucat karena terlalu sering berada di dalam ruangan, ibu Nui tetaplah sehat. Umurnya lebih dari 40 tahun, namun semua orang berkata kalau ibu Nui terlihat baru berumur 28 tahun. Tubuhnya juga ramping dan terlihat enak dipandang. Namun Nui tahu tubuh…

OS Brain Bab 23: Luka Tembak?

Setelah mendengar perkataan Nui, Feri berusaha membuka mulutnya, namun walaupun dia membuka mulutnya dia kesusahan untuk bicara, dia seperti ikan yang baru ditangkap dari laut, mulut terbuka dan tertutup namun tidak ada suara yang keluar dari mulutnya.

Nui kemudian mendengar beberapa orang berteriak.

“Akhirnya pemadam kebakaran datang!”

“Mereka akhirnya datang!”

Dan teriakan yang sejenis. Secara refleks Nui melirik ke arah suara teriakan itu dan melihat beberapa orang pemadam kebakaran mulai menerjang api dengan air yang mereka semprotkan lewat selang pemadam kebakaran.

Namun Nui segera kembali mengalihkan pandangannya ke Feri.

Mata Feri melihat ke sana ke sini, ini adalah bukti kalau Feri gelisah dan panik. Nui tidak terlalu kenal Feri walaupun dia selalu berada di dekat Kiki, namun Nui pernah melihat ekspresi Feri yang sekarang. Saat itu dia diinterogasi oleh guru, dan wajahnya persis seperti ini.

Nui kemudian menyimpulkan kalau Feri bukan panik karena rumah Nui terbakar, namun pan…

OS Brain Bab 22: Di Mana Kiki?

Nui berlari di trotoar dengan wajah yang bahagia, beruntungnya, tidak banyak orang yang berjalan di trotoar, jadi dia bisa berlari sekencangnya, Nui juga bersyukur trotoar di Bogor dipenuhi oleh pohon yang rindang. Nui berlari seperti orang yang dikejar sesuatu, kadang, orang yang berpapasan dengan Nui mencari apa yang sebenarnya mengejar Nui.

Di pikiran Nui hanya satu, yaitu ingin segera pulang dan bertemu ibunya. Dia ingin segera mengatakan kalau ‘Aku bisa ikut olimpiade besok!’, di dalam pikirannya ibu Nui tidak akan melakukan sesuatu yang dramatis seperti memeluk Nui atau menangis karena bahagia. Di pikiran Nui, ibunya hanya akan diam dan mengangguk kemudian meneruskan pekerjaannya. Namun di dunia ini Nui adalah orang yang paling mengerti dengan ibunya, walaupun di luar dia tidak mengeluarkan ekspresi apa-apa, di dalam hatinya ibu Nui senang luar biasa.

‘Namun akan lebih baik kalau ibu memujiku,’ pikir Nui sambil berlari menghindari orang yang kebetulan berada di jalannya.

Nui te…

OS Brain Bab 21: Apa Itu Artinya Aku Boleh Ikut Olimpiade Besok?

Saat pak Darma masih berpikir, tiba-tiba seseorang memotong pembicaraan pak Darma dan pak Murhadi, suaranya kecil, dan dia mengatakannya sambil menunduk, dia jelas-jelas agak ketakutan saat melihat dua orang guru bertengkar di depannya.

“A-aku sebenarnya datang ke sini,” Lani menyodorkan secarik kertas ke pak Darma, “Untuk mengembalikan ini.”

Pak Darma mengambil secarik kertas yang diberikan Lani dengan wajah yang sedikit kebingungan, namun ekspresi kebingungan itu berubah menjadi ekspresi kaget yang beberapa detik kemudian menjadi ekspresi bahagia.

“I-ini kan?” Pak Darma melihat Nui dengan senyuman di wajahnya, “Ini hasil ujian saringanmu tadi pagi! Pak Enim belum membakarnya!”

###

Pak Darma awalnya berencana untuk menunggu pak Reno. Dia memiliki jawaban yang Nui tulis, dan berniat membujuk pak Reno untuk membiarkan Nui masuk ke SMA Fajar Biru—atau setidaknya membiarkan Nui mengikuti olimpiade matematika besok. Pak Darma merasa kalau Nui layak masuk ke SMA Fajar Biru, dan SMA Fajar …

OS Brain Bab 20: Aku Membuangnya Ke Tempat Sampah!

Pak Murhadi untuk pertema kalinya tidak membalas perkataan seseorang. Pak Murhadi tidak punya hak untuk menghentikan ibu Nina karena dia sendiri mengadakan ‘tes pribadi’. Jadi pak Murhadi diam dan tidak mengatakan apa-apa.

Karena pak Murhadi diam, ibu Nina menganggap kalau dia tidak keberatan, dia bertanya pada Nui, “Pak Darma memujimu karena memiliki ingatan yang bagus, dan dia juga yakin kalau kamu pandai dalam matematika, jadi perkalian tidak menyulitkanmu kan?”

Nui mengangguk.

“Bagus, kalau begitu mari mulai dari yang mudah, berapa hasil dari 27 x 86?”

“Dua ribu tiga ratus dua puluh dua.” Jawab Nui secara refleks. Dia tidak butuh waktu lebih dari satu detik untuk menjawabnya. Nui kaget karena otaknya berjalan dengan sendirinya!

Sehari yang lalu perkalian adalah sesuatu yang membuat Nui menggaruk kepalanya karena stress, jika dia adalah Nui yang dulu dia butuh waktu beberapa saat untuk mendapatkan hasilnya, ditambah, Nui tidak akan bisa mengerjakannya jika dia tidak memegang pulpe…

OS-Brain Bab 19: Ibu Nina

Pak Murhadi berjalan ke arah Nui dan menggeledah pakaian Nui, namun tidak ditemukan apa-apa di sana.

“Aku tidak curang,” jawab Nui, “Aku kebetulan pernah membaca soal ini.”

 “Apa katamu?!” Tanya pak Murhadi, “Kamu pernah membaca soal ini?! Di mana?!”

“Di toko buku,” jawab Nui.

Keadaan Nui yang sekarang buruk, dia dituduh curang oleh pak Murhadi, namun keadaan ini tidak seburuk saat Nui melihat soal yang sama sekali dia tidak mengerti, yang perlu dia lakukan hanya satu, yaitu: ‘Aku hanya tinggal membuktikan kalau aku tidak curang.’

Nui berada di posisi yang menguntungkan, dan dengan mudah menemukan cara untuk membalikkan tuduhan pak Murhadi.

Nui melihat ke arah pak Murhadi dan berkata, “Bapak adalah seorang pendidik, jadi aku yakin bapak tahu kalau seorang guru adalah suri tauladan bagi generasi muda, tapi apa bapak tahu kalau fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan?”

Mendengar ini Pak Murhadi kembali mengepalkan tangannya, namun Nui tidak berhenti, “Di buku yang bapak pegang barusan,…

OS-Brain Bab 18: Dia Curang!

‘Teorema terakhir Fermat menyatakan bahwa tidak ada bilangan bulat bukan-nol yang memenuhi persamaan: xn + yn = zn dengan n bilangan bulat lebih besar dari 2.’

Nui berusaha mencerna hasil akhir dari teorema fermat dan segera menghubungkannya dengan soal yang ada di depannya. Nui tidak perlu mengerjakan soal ini dari awal, karena separuh bagiannya sudah dia lihat. Namun sebagiannya masih menjadi misteri, karena itu Nui perlu mencerna semua informasi yang dia ingat. Namun beruntungnya, OS-Brain melakukan tugasnya dengan baik! Dengan dasar logika dan separuh jawaban yang sudah Nui lihat, Nui berusaha mengerjakan soal ini.

Suara gesekan pulpen dan kertas mulai terdengar, Nui menulis apa yang dia lihat di buku pak Murhadi dan menambahkan bagian yang belum selesai. Nui terus menulis jawabannya sampai keringat mulai mengalir dari dahinya, waktu yang tersisa hanya lima menit, namun Nui berusaha keras untuk menjawab soal ini, sampai akhirnya di menit terakhir-

“Huuuh~”

-Nui selesai!

“Apa kamu…