Chapter 2 : Kakek Ars dan Toko Buku

Ini adalah hari ke 10 Aku berada di dalam tempat yang disebut sebagai [kandang], Aku sebenarnya tidak setuju dengan nama [kandang], jadi secara pribadi Aku menyebut tempat ini sebagai penjara, pagi ini seperti biasanya paman Schwan memberikanku jatah sarapan, menunya sama seperti biasanya, hanya sebuah roti keras dan air putih..
“Hey paman Shcwan, apa paman pikir setelah dibeli kakek Ars Aku bisa makan enak”

Sambil menggigit roti yang merupakan sarapanku, Aku mulai bertanya kepada paman Schwan, kemarin kami mengobrol tentang kakek Ars, kakek yang kemungkinan besar akan membeliku.

“Hmmp, kurasa kau bisa mendapatkan makanan yang lebih baik daripada roti keras yang kau makan itu”

Paman Schwan dengan wajah yang terlihat masih mengantuk menjawab pertanyaanku.

Sebenarnya ini agak aneh, penjara tempatku berada ini berada jauh dari pos penjagaan, namun paman Schwan selalu duduk di depan sel penjaraku dan menjadi teman mengobrolku, mungkin bukan Aku saja yang merasa terhibur dengan obrolan kami ini.

“Jadi paman Schwan, kapan kakek Ars akan menjemputku?”

Paman Schwan menjawab pertanyaanku sambil menguap.

“Katanya dia akan datang memeriksamu siang ini, setelah selesai mengecekmu dia akan langsung membawamu pergi”

“Hmmp, begitukah”

Aku mulai penasaran dengan kakek yang bernama Ars ini, paman Schwan bilang dia adalah kakek tua yang ramah, namun Aku merasakan banyak hal yang janggal tentang kakek Ars ini, seperti kenapa dia mau menjual buku di kota ini atau alasan kenapa dia tinggal sendirian puluhan tahun di kota ini, apa dia tidak menikah atau punya anak?

Yah, Aku tinggal bertanya padanya setelah bertemu dengannya.

“Ngomong-ngomong, setelah 10 hari mengobrol denganmu, akhirnya Aku bisa bebas dari pertanyaanmu yang menyebalkan”

Tiba-tiba paman Schwan berbicara dengan nada yang agak riang, ini mungkin pertama kalinya Aku mendengar paman Shcwan berbicara dengan nada seperti itu.

“Haha, itukah caramu mengungkapkan kalau kau akan kesepian, paman Schwan?”

“Tentu saja tidak, namun yah … Aku juga berpikir mengobrol denganmu itu sedikit menyenangkan, walaupun terdapat bagian yang memang sangat menyebalkan darimu”

“Begitukah”

Aku menjawab pernyataan paman Schwan dengan pendek, sejujurnya Aku hanya mengobrol dengannya karena Aku merasa bosan, tapi berkat dia Aku mulai sedikit mengerti dengan dunia yang baru ini, setidaknya mulai dari sekarang Aku tidak akan terlalu terkejut dengan dunia luar … mungkin.

Kami mulai berbicara tentang banyak hal yang tidak penting lagi sampai akhirnya tengah hari tiba.

Ada 3 orang yang datang menuju sel penjaraku dan saat ini berada di depanku, satu-satunya hal yang memisahkan kami hanyalah jeruji besi.

2 orang diantaranya sudah ku-kenal wajahnya, yang satu adalah pria pendek yang gendut bernama Orbo dan satu lagi orang berbadan besar yang memiliki wajah preman bernama Sergei, satu orang lagi baru pertama kali Aku lihat, dia memiliki rambut putih dan berdiri dengan membungkuk, Aku yakin dia adalah kakek tua yang akan membeliku, dia mungkin adalah kakek Ars.

Dia melihat ke arahku dan mulai memperhatikanku, dia melihat Aku dari ujung kepala sampai ujung kaki dan akhirnya mengeluarkan sebuah senyum yang menurutku terlihat sangat ramah, Aku mengeri kenapa kakek ini disebut orang paling ramah di kota Dusten.

“Jadi, kau anak yang bernama Clay?”

“Iya, sejujurnya beberapa hari yang lalu namaku bukan Clay, tapi sekarang namaku adalah Clay”

Aku menjawab pertanyaan kakek ini.

“Jadi bagaimana menurutmu Ars?” tanya paman Orbo.

“Aku akan membawanya, anak ini seperti yang kau beritahukan kepadaku, terlihat seperti seorang anak yang pintar”

Paman Orbo mulai mengeluarkan senyum yang terlihat bahagia, rasanya seperti melihat senyuman seorang ayah yang senang ketika memberikan anaknya sebuah hadiah, sungguh … senyuman yang tidak cocok dengan wajahmu.

“Schwan, keluarkan dia dari dalam [kandang]”

“Baik!”

Paman Schwan mulai membuka sel penjaraku dan Aku mulai berjalan keluar dari tempat ini.

Akhirnya setelah 10 hari berada di ruangan sempit ini Aku bisa keluar, sejujurnya Aku ingin mengatakan kalau sekarang Aku bebas, namun fakta tentang diriku yang sekarang adalah seorang budak tidak berubah.

Kami berempat, mulai pergi dari penjara ini, Aku mulai melihat ke belakang dan melihat wajah paman Schwan yang terlihat agak kesepian, kemudian berbalik dan mulai menyongsong cahaya.

*****

Seorang pria berkumis yang memiliki tubuh yang lumayan besar berjalan dengan santai, di pinggannya tergantung sebuah pedang yang ukurannya lumayan panjang, pedang itu masih di sarungkan, namun dari bentuknya Aku yakin kalau pedang itu memiliki dua mata, tipe pedang yang biasa dipakai karakter dalam game RPG.

Disisi lain seorang perempuan yang memakai jubah berwarna biru berjalan dengan terburu-buru, Aku tidak yakin tapi Aku pikir dia adalah penyihir, kenapa Aku bisa tahu kalau dia adalah penyihir? Yah, mungkin karena dia memegang sebuah tongkat yang mirip tongkat sihir, panjangnya mungkin sama seperti sebuah pedang normal, hanya saja di ujung tongkat tersebut terdapat sebuah batu yang terlihat seperti permata.

Selain dua orang yang Aku lihat barusan, banyak orang yang memiliki penampilan yang hampir sama lalu lalang di jalan ini.

“Hey, Clay … bisakah kau berhenti memperhatikan para petualang?”

Kakek Ars bertanya dengan nada yang terdengar sangat lembut.

Saat ini Aku sedang berada di sebuah jalan kota, Aku berjalan bersebelahan dengan seorang Kakek, dengan postur yang agak sedikit membungkuk dan rambut yang sudah mulai memutih.

Nama kakek ini adalah Ars, dan sepertinya mulai sekarang dia adalah tuanku, Aku adalah seorang budak yang dibeli oleh kakek ini.

“M-maaf kakek Ars, Aku baru pertama kali melihat pemandangan seperti ini”

“Begitukah, Aku mulai percaya kalau kau mungkin berasal dari dunia lain, tapi yah, di kota lain kau juga tidak bisa melihat jalan yang dipenuhi oleh para petualang”

Kakek Ars mulai menjelaskan kalau Dusten juga memiliki sebuah nama lain, yaitu ‘Kota Para Petualang’.

Nama itu diberikan karena kota ini memang disinggahi oleh banyak petualang, posisi kota yang berada di antara dua kerajaan besar dan juga dikelilingi oleh dungeon dengan berbagai macam level membuat kota ini bisa dibilang mekahnya para petualang.

“Dungeon dengan berbagai macam level? Memang ada berapa banyak dungeon di kota ini?”

Aku secara spontan bertanya pada kakek Ars saat dia sedang menjelaskannya, ini hanya sebuah spontanitas, Aku harap kakek ini tidak menganggapku bocah yang tidak sopan karena memotong perkataannya.

Tapi entah kenapa di malah tersenyum, kemudian menjelaskannya.

Kota ini berada di sebelah utara sebuah gurun, dan jika seseorang berjalan kaki ke arah utara, timur atau barat maka dia akan bisa dengan mudah keluar dari gurun ini, normalnya hanya dalam waktu 20 hari seseorang bisa keluar.

Di sebelah barat kota Dusten terdapat sebuah kerajaan besar bernama Darua dan di sebelah timur ada sebuah kerajaan lain bernama Lind, dua kerajaan ini dikelilingi oleh hutan dan gunung, dan di hutan dan gunung tersebut banyak monster yang berkeliaran, namun selain monster juga terdapat beberapa dungeon dengan level kesulitan yang bermacam-macam yang tersebar di sekitar hutan dan gunung tersebut.

Dungeon merupakan tempat wajib para petualang, biasanya para petualang akan mengumpulkan beberapa item seperti batu sihir, mineral sihir, permata, berlian dan lain-lain dari dalam dungeon, bahkan beberapa bagian tubuh monster juga dicari oleh para petualang, item-item yang ada di dungeon tersebut bisa dijual dengan harga yang lumayan, semakin dalam para petualang pergi ke dalam dungeon, semakin mahal item yang bisa didapatkan.

Namun yang paling menantang dari sebuah dungeon tentu saja bukan itu, melainkan harta yang berada di level paling dasar sebuah dungeon, hanya para petualang dengan level tinggi saja yang bisa sampai di level terdalam, selain itu banyak rumor yang mengatakan kalau lantai paling dasar dari sebuah dungeon dihuni oleh monster-monster terkuat, dari cerita Kakek Ars, hanya beberapa orang saja yang pernah mengalahkan monster di lantai terdalam, dan orang-orang itu tentu saja [4 Pahlawan Suci], konon monster di level terdalam tersebut menjaga harta yang sangat berharga, harta yang lebih berharga dari segunung emas.

Singkatnya sampai sekarang tidak pernah ada orang yang bisa mengalahkan monster di level terdalam sebuah Dungeon selain [4 Pahlawan Suci], dan dungeon yang sudah ditaklukkan menjadi dungeon yang cocok untuk para pemula karena kebanyakan monster kuatnya sudah di taklukan, katanya ada 7 Dungeon yang sudah ditaklukkan oleh [4 Pahlawan Suci], dua yang paling terkenal berada di arah barat Gurun Dusten dan di sebuah gunung di sebelah utara kota Brook, salah satu kota yang masuk dalam wilayah kerajaan Lind, dan sisanya tersebar di beberapa penjuru dunia, 5 diantaranya berada di benua utama (benua tempat hidup manusia), satu di benua Ras Iblis, dan satu di benua Ras Demi.

Selain masalah dungeon, yang membuat kota ini dipenuhi oleh para petualang adalah karena lokasinya yang strategis, kota Dusten berada di tengah-tengah segalanya, jika seseorang dari kerajaan Darua ingin pergi ke kerajaan Lind maka mereka pasti melewati kota Dusten, begitu juga sebaliknya.

Di sebelah utara kota Dusten juga ada sebuah kota pelabuhan yang merupakan wilayah dari kerajaan Darua, untuk pergi ke kota pelabuhan ini, seseorang membutuhkan waktu kurang lebih dua bulan setelah keluar dari gurun.

Bisa dibilang kota Dusten ini wilayah yang sangat strategis karena bisa diakses dari 3 arah yang berbeda, itulah alasan kenapa para petualang mulai berkumpul di kota ini.

Berkaitan dengan sebelah selatan gurun Dusten, bagian gurun itu jarang dilewati oleh orang-orang, alasannya karena memang tidak banyak hal disana, di sebelah selatan gurun Dusten ada beberapa Dungeon yang levelnya sangat berat, jadi jarang ada orang yang datang ke dungeon tersebut, dan jika terus pergi ke arah selatan (setelah keluar dari gurun) disana terdapat sebuah hutan hujan yang sangat besar, hutan ini banyak dihuni monster yang kuat, jadi tidak banyak petualang yang pergi berburu ke hutan yang disebut sebagai [Lautan Pohon] tersebut.

Saat kakek Ars menjelaskan tentang hal ini, kami sampai di sebuah tempat yang lebih sunyi dibandingkan tempat lainnya, terdapat orang yang lalu lalang di sini namun jika dibandingkan dengan jumlah orang beberapa saat yang lalu, jumlah orang yang berkumpul di sini bisa dibilang sedikit.

Ini adalah salah satu sudut kota yang berada di bagian paling selatan kota Dusten, tempat dimana “Toko Buku Ars” berada, dan yah … sepertinya ini akan menjadi rumah baruku, maksudku rumah baru tempat Aku mengabdi.

“Maaf jika rumahku terlihat kotor, tapi Aku bisa membanggakan bagian dalam toko ini”

Kakek Ars mulai berbicara dengan senyum yang tergurat di wajahnya.

Bangunan ini daripada terlihat sebagai sebuah toko lebih terlihat seperti sebuah rumah, namun di depannya terdapat papan besar yang bertuliskan “Toko Buku Ars”, sejujurnya tulisan yang ada di papan tersebut menggunakan karakter yang sama sekali asing bagiku, namun Aku bisa membacanya, mungkin ini fungsi dari skill “Pemahaman Bahasa”.

Tidak lama kemudian kami mulai masuk ke dalam bangunan ini.

Bagian dalam bangunan ini sangat bersih, dari yang Aku lihat daripada sebuah toko buku tempat ini lebih terlihat seperti sebuah perpustakaan, Aku terkejut dengan jumlah buku yang ada di sini, tentu saja buku di tempat ini lebih sedikit jika dibandingkan dengan toko buku di dunia asalku, namun menurut paman Schwan di dunia ini buku adalah sesuatu yang jarang.

Pantas saja kakek Ars bangga dengan toko ini.

“Clay mari kesini, Aku tahu koleksi bukuku sangat mengagumkan, tapi kau tidak perlu terkejut seperti itu”

“A-ah, iyah, Aku terkejut dengan jumlah buku yang ada di sini”

Sambil berbicara, Aku mulai berjalan ke arah kakek Ars pergi, di sebelah kanan ruangan yang terlihat seperti perpustakaan ini ada sebuah pintu, kakek Ars pergi melewati pintu tersebut.

Di balik pintu ini, ada sebuah ruangan yang terlihat seperti ruangan tunggu.

“Silahkan duduk di tempat yang kau sukai”

“Baik, terima kasih”

Kakek ars menyuruhku duduk dengan nada yang ramah, saat ini Aku merasa kalau Aku diperlakukan sebagai seorang tamu, apa Aku benar-benar seorang budak?

Kakek Ars menghilang dari pandanganku dan pergi ke bagian belakang rumah, dan sesaat kemudian kembali.

“Ini, minumlah”

“Ah, terima kasih”

Sesaat setelah Aku selesai melihat sekitar ruangan ini, kakek Ars meletakan dua gelas air di atas meja yang berada di depanku, Aku meminum air tersebut dan mulai bertanya.

“Emm, Kakek Ars, Aku tahu ini tiba-tiba tapi bukankah Aku seorang budak? Kenapa kakek repot-repot mengambilkanku minuman?”

“Ahaha, benar juga”

Jangan katakan kalau kakek ini pikun? Aku tahu kalau dia adalah orang yang ramah, namun Aku pikir memperlakukan seorang budak layaknya seorang tamu itu salah, tapi yah Aku juga tidak keberatan jika memang dianggap seorang tamu.

Kemudian kakek Ars mulai mendekatkan tangannya ke arah leherku, apa? Apa dia berusaha untuk mengencangkan ikat leher ini? Kemudian-

-Klek

Ikat leher ini terlepas.

“Eh” suara itu spontan keluar dari mulutku.

Sambil sedikit demi sedikit mencerna keadaan, Aku mulai memasang wajah yang penuh pertanyaan, Aku tahu, Aku senang kalau dibebaskan menjadi seorang budak, namun keadaan ini sama sekali tidak terbayangkan olehku.

“Mulai sekarang kau bukan budak”

“Eh, S-Serius?”

Aku mengeluarkan ekspresi wajah yang berbeda dari biasanya, kalau diingat-ingat ini pertama kalinya di dunia ini Aku mengeluarkan senyum bahagia seperti ini.

“Yah, serius, kau bukan budak lagi, namun Aku ingin kau membayarku karena membebaskanmu”

Begitukah, Aku tahu kalau di dunia ini tidak ada yang gratis, tapi perubahan keadaan yang tiba-tiba ini membuatku sedikit lengah.

“T-tapi, Aku tidak punya uang untuk membayarmu kek” jawabku.

“Tidak mengapa, sebagai gantinya kau harus membantuku di toko ini”

Ehh, begitukah, dari awal ternyata kakek Ars memang menginginkan seseorang untuk membantunya di toko ini.

“Jadi kenapa kakek melepaskanku? Bukankah Aku tetap bisa membantumu walaupun statusku adalah seorang budak?”

“Apa kau ingin kembali menjadi budak?”

“Tentu saja tidak”

Aku mengeluarkan pernyataan secara spontan.

“Kalau begitu mulai sekarang kau akan membantuku di toko ini, mulai sekarang kau bekerja padaku”

Kakek Ars, kau tahu, kau adalah penyelamat hidupku, Aku berhutang budi padamu.

“Aku akan berusaha untuk membantu kakek!”

Kakek Ars mulai mengeluarkan senyum yang ramah dan mulai bertanya lagi.

“Jadi nak Clay, Aku mendengar kau bisa membaca, menulis dan berhitung”

“Yapz, Aku bisa melakukannya, di dunia tempatku berasal Aku adalah seorang pelajar” jawabku.

“Hoho~ dan Aku dengar kau memiliki sebuah skill yang tidak biasa, [Pemahaman Bahasa] kalau tidak salah?”

“Yah, Aku memilikinya”

“Jadi, apa kau bisa membaca bahasa lain selain bahasa manusia?”

Hmmp, sejujurnya Aku yakin, barusan Aku memang bisa membaca karakter yang sama sekali tidak ku-kenal, Aku bisa mengetahui tulisan diluar memiliki arti “Toko Buku Ars” walaupun ini pertama kali Aku melihatnya, namun Aku tidak yakin bisa mengerti selain bahasa manusia, alasannya karena Aku belum mencobanya.

“Hmmp, Aku tidak tahu, Aku bisa membaca kata yang tertulis pada papan yang ada di depan toko ini dengan mudah walaupun karakternya sama sekali tidak ku-kenali, namun untuk mengatakan bisa atau tidak, Aku tidak bisa menjawabnya jika Aku belum mencobanya”

Aku berusaha menjawab pertanyaan ini sejujur mungkin, sekarang Aku tidak mau membohongi orang yang mengeluarkanku dari kelas sosial terendah.

Mendengar jawabanku kakek Ars mulai bergegas pergi ke bagian belakang rumah ini, suara gaduh terdengar, sepertinya kakek Ars sedang mencari sesuatu, setelah beberapa saat mengeluarkan suara gaduh kakek Ars datang dengan membawa 3 buah buku, buku yang memiliki sampul berwarna biru, merah dan emas.

Kakek Ars meletakan buku itu di meja.

“Jadi nak Clay, bisa kau membaca sampul 3 buku ini”

Aku mulai memperhatikan buku itu, dan yah, Aku bisa membacanya, buku yang memiliki sampul berwarna biru berjudul [Kisah Naga Yang Bijak], buku yang memiliki sampul berwarna merah berjudul [4 Orang Pembawa Bencana], dan buku bersampul emas berjudul [Rahasia Dunia]

Dari 3 buku tersebut tentu saja yang mencuri perhatianku adalah buku yang berjudul [Rahasia Dunia], siapa orang yang tidak mau mengetahui rahasia dunia?

“Sepertinya Aku bisa, kakek Ars!”

Setelah Aku mengatakannya, Kakek Ars terlihat sangat bahagia, senyum yang sering dia keluarkan memiliki aura ramah di dalamnya, namun senyum yang dia keluarkan sekarang berbeda dengan senyum biasanya, senyumnya seperti senyum seorang anak yang mendapatkan hadiah yang selama ini dia inginkan.

“Begitukah, syukurlah, dengan ini Aku bisa menyelesaikan penelitianku, nak Clay berbanggalah, mulai saat ini kau tidak lagi bekerja untukku, melainkan bekerja bersamaku”

“Ehaha~” Aku memberikan senyum yang pasti terlihat sangat dipaksakan, saat ini Aku kembali kebingungan dengan perubahan kondisi yang tiba-tiba.

Maksudku, kurang dari lima menit yang lalu Aku masih menjadi budak, kemudian berubah menjadi seorang karyawan (bawahan), dan sekarang malah menjadi rekan kerja.

Setelah itu kakek Ars mulai menyuruhku untuk masuk ke sebuah kamar yang terlihat tidak terlalu buruk, tidak, ini jauh lebih baik dibandingkan di dalam penjara, kakek Ars menyuruhku istirahat dengan senyum bahagia yang masih tergurat di wajahnya.

Sungguh, sepertinya Aku memiliki keberuntungan yang kuat di dunia ini, awalnya Aku khawatir akan berakhir sebagai seorang budak, namun dihari ke 10 aku, Aku berhasil keluar dari kelas sosial terendah di dunia, selain itu sepertinya kakek Ars mengatakan sesuatu tentang penelitian, jadi mulai sekarang Aku adalah seorang peneliti, mungkin seperti seorang asisten peneliti?

.

Lelah mulai menghampiriku, 10 hari Aku lalui dengan tidur dalam penjara yang dingin, dan sekarang Aku bisa tidur di sebuah kamar, jika dibandingkan dengan kamarku tentu saja kamar ini tidak ada apa-apanya, namun setidaknya Aku bersyukur hari ini Aku bisa tidur diatas sebuah ranjang.

Tidak lama kemudian Aku tertidur lelap seperti sebongkah kayu.

*****
Chapter Sebelumnya | Chapter Selanjutnya | Index Cerita

Postingan populer dari blog ini

[Jangan Liat] 37+ Anime Hentai Terbaik Yang Seharusnya Tidak Kamu Tonton!

41 Anime Harem Ecchi Terbaik Yang Dijamin Mantab! | 2016