Chapter 8 : Desa di Balik Hutan Perbatasan

Sudah beberapa hari kami berjalan di bagian luar hutan yang di sebut sebagai [Hutan Perbatasan] ini.

Di hutan ini kami tidak menaiki kuda, aku tidak tahu alasannya dan aku juga tidak peduli, karena itu kami membutuhkan waktu yang agak lama untuk melewati hutan ini.

Aku tidak menyangka kalau akan membutuhkan waktu selama ini untuk melewati sebuah hutan, mungkin karena kami berjalan dengan rute yang memutar.

Aku mulai merasa bosan.

“Kakek, apa tidak ada desa di sekitar sini?”

“Ada”

Kakek Ars menjawab dengan senyum di wajahnya.

“Desa seperti apa itu?”

“Hmmm, desa itu berada di jalur yang akan kita lewati, seingatku desa yang ada di depan sana memiliki tanah yang subur, desa yang sangat makmur dan dipenuhi oleh orang yang ramah.

Aku tidak tahu bagaimana keadaan desa itu, namun dari kabar yang kudengar desa itu tidak banyak berubah”

“Begitukah?” Aku menjawab dengan nada yang agak datar, kemudian Aku bertanya.

“Apa di desa itu ada pandai besi? Atau orang yang menjual pedang”

“Seingatku tidak, desa itu adalah desa para petani”

“Begitu”

Aku menjawab dengan wajah yang terlihat sedikit kecewa.

Aku ingin segera mendapatkan sebuah pedang! 

“Tapi setelah kita melewati desa ini, kita akan sampai di sebuah kota yang bernama Ribiana, kotanya tidak terlalu besar, namun Aku yakin ada yang menjual pedang di sana”

“Begitukah?” Aku menjawab dengan nada yang riang.

“Yah, Seingatku begitu” kakek Ars menjawab dengan senyuman ramah yang sudah puluhan kali Aku lihat.

Setelah beberapa saat kami berjalan di bagian luar hutan ini, akhirnya kami sampai di sebuah desa.

Aku yakin kakek Ars mengatakan kalau desa ini adalah desa yang makmur dan ramah, namun yang Aku lihat di sini adalah desa dengan aura yang suram.

Kami berjalan menuju desa tersebut, namun sesaat sebelum kami memasuki desa ini, datang seorang pria yang menghampiri kami.

Dia memakai baju yang sedikit kotor dan wajahnya terlihat sangat kelelahan, ada kantung mata berwarna hitam yang tergantung di bawah matanya dan wajahnya sangat suram, pria itu berkata dengan wajah yang penuh harapan.

“Permisi, apa kalian orang yang dikirim kota Ribiana?”

Ribiana? Kalau tidak salah itu adalah nama kota yang sebelumnya kakek Ars sebutkan, kota yang paling dekat dengan desa ini.

Aku dan kakek Ars saling bertukar pandangan dan kemudian Aku menjawab.

“Bukan”

“Begitu” kemudian wajah pria itu terlihat sangat kecewa.

Apa yang terjadi dengan desa ini?!

“Apa ada sesutu yang terjadi di dsesa ini?” orang yang bertanya adalah kakek Ars.

Dan kemudian pria yang bernama Giri tersebut menceritakan semuanya.

Desa ini sedang dilanda wabah penyakit dan dalam waktu bersamaan juga diserang para monster.

Mereka mengirim utusan ke kota Ribiana untuk meminta bantuan, namun sampai sekarang belum ada orang yang datang, sejujurnya Aku pikir dari awal pria bernama Giri ini tahu kalau kami bukan utusan dari kota Ribiana.

Apa dia sengaja berbicara seperti itu agar kami mau membantu desa ini?

Maksudku, kami datang dari arah yang berlawanan dengan kota Ribiana, jadi harusnya mereka tahu kalau kami bukan utusan dari kota Ribiana.

Sepertnya mereka sangat putus asa sampai berani meminta tolong pada orang yang hanya numpang lewat.

“Bagaimana kakek Ars?”

Aku bertanya pada kakek Ars yang mengeluarkan ekspresi yang terlihat bermasalah, aku yakin Kakek Ars ingin membantu mereka, namun dia juga ingin segera sampai di Ibukota Darua untuk bertemu dengan anak dan cucunya.

“…”

Kakek Ars tidak menjawab.

Saat ini kami di undang untuk masuk ke rumah paman Giri, dan tiba-tiba Aku mendengar suara gaduh yang menghampiri kami, suara itu terdengar seperti suara orang yang sedang berlari di dalam ruangan.

Seketika seseorang datang dan membuka pintu dengan lumayan keras.

“Sayang, Andi!”

“!”

Asal dari suara tersebut adalah seorang ibu yang memiliki tubuh yang sedikit gemuk, namun Aku bisa melihat wajah ramah yang tertutup oleh ekspresi yang penuh dengan kekhawatiran.

“Ada apa dengan dia?” paman Giri menjawab dengan tubuh yang terlihat gemetar.

“Keadaannya lebih parah dari sebelumnya, kompres saja tidak cukup untuk menenangkannya”

Kemudian wajah paman Giri menjadi pucat, orang yang bernama Andi ini mungkin adalah anak dari paman Giri yang sekarang sedang sakit dan ibu itu adalah istri dari paman Giri.

Aku dan kakek Ars kembali saling menukar pandangan, dan pada saat kakek Ars akan bicara, paman Giri mulai berbicara sendiri

“Seandainya, seandainya saja dia tidak terkena penyakit [Arang Api], Aku pasti sudah berlari untuk mencari tanaman obat” paman Giri bergumam dengan air mata yang terjatuh di pipinya.

“!”

Mendengar perkataan tersebut, kami berdua memasang ekspresi yang terkejut, kakek Ars sepertinya sangat terkejut sampai-sampai membuka lebar kedua matanya

“A-apa anakmu terkena penyakit [Arang Api]?” tanya kakek Ars sambil mengeluarkan keringat dari dahinya.

“Betul, Aku tidak tahu harus berbuat apa untuk mengobati penyakit itu” paman Giri berbicara sambil mengusap air matanya.

“B-bolehkah kami melihatnya”

"!"

Paman Giri memasang wajah dengan ekspresi terkejut, kemudian berubah dengan wajah penuh harapan serta menuntun kami ke tempat dimana anak bernama Andi berada.

Di sebelah ruangan tempat kami berbicara, terbaring seorang anak laki-laki yang umurnya kira-kira 14 tahun, anak itu terlihat sangat kesakitan dan bernafas dengan terengah-engah, dan yang paling parah dari kondisinya adalah karena setengah wajahnya berwarna hitam dan beberapa bagiannya berwarna merah menyala.

Ini pertama kalinya Aku melihat penyakit ini secara langsung, penyakit yang benar-benar terlihat mengerikan.

“Syukurlah, masih belum menjalar ke seluruh tubuh” gumam kakek Ars, kemudian paman Giri berbicara.

“A-apa kau tahu penyakit ini?”

“Yah, Istriku juga mengalami penyakit yang sama”

Mendengar perkataan kakek Ars paman Giri langsung berwajah penuh harapan kemudian bertanya.

“Apa istrimu sembuh?”

“… dia sudah meninggal”

Seketika wajah yang awalnya penuh harapan itu berubah menjadi keputusasaan, lalu kakek Ars berkata.

“Tapi tenang saja, sekarang Aku tahu obat dari penyakit ini!” dengan senyuman di wajahnya kakek Ars berbicara, dan sekali-lagi wajah paman Giri dan istrinya dipenuhi dengan harapan sekaligus perasaan tenang.

Dari sini kemudian kakek Ars menceritakan semuanya pada paman Giri, tentang istrinya yang sakit, tentang dia yang diusir dari kerajaan, dan tentang dia yang mati-matian berusaha mencari obat [Arang Api].

Disisi lain paman Giri juga menceritakan semuanya dengan lebih detil, tentang keadaan desa ini, dan tentang seberapa parah wabah penyakit yang menyebar di desa ini.

Yang paling parah adalah kondisi anaknya, namun kondisi warga lain juga tidak kalah membahayakan.

Dari sini kami menuju rumah kepala desa untuk mengatakan kalau kami bersedia membantu desa ini, jujur saja, jika Aku sendirian Aku tidak akan berani untuk menolong desa ini, tapi kakek Ars adalah penyihir jenius, jadi entah bagaimana, mungkin kami bisa mengatasi masalah ini.

Sang kepala desa menerima bantuan kami dengan wajah yang terlihat bahagia, dia berkali-kali berterima kasih kepada kami karena dengan sukarela mau membantu desa yang di ujung tanduk ini, tentu saja kakek Ars menceritakan tentang masa lalunya dan alasan dia mau membantu desa ini.

Setelah berbicara dengan kepala desa kami berkeliling di sekitar desa melihat orang-orang yang terkena penyakit, kebanyakan orang terkena penyakit yang sebenarnya tidak terlalu berbahaya namun jika dibiarkan tetap bisa mengancam nyawa.

Beruntungnya, semua penyakit itu juga bisa disembuhkan dengan obat penyakit [Arang Api], sepertinya obat dari penyakit [Arang Api] bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Setelah selesai melihat seluruh keadaan desa kami kembali ke rumah paman Giri dan mulai menyusun rencana.

“Dengan menggunakan tanaman yang bernama Aramatemia, kita bisa menyembuhkan semua penyakit warga desa”

Saat mendengar kabar ini paman Giri dan istrinya kembali memperlihatkan wajah yang terlihat senang, namun ada masalah di hutan itu…

“Akhir-akhir ini, monster yang berkeliaran di hutan ini menjadi lebih kuat dari biasanya” kata paman Giri.

“Begitu, dan monster-monster itu mulai menyerang desa?” tanyaku.

“Yah, seharusnya monster-monster itu hidup sendiri-sendiri di dalam hutan, namun mereka datang bergerombol dan mulai memakan beberapa ternak kami”

“Jadi bagaimana kakek Ars? Apa kita akan pergi ke kota mencari bantuan?”

“Aku khawatir hal itu tidak akan sempat, warga di sini sudah berada dalam bahaya, lagipula tidak banyak orang yang menjual tanaman Aramatemia di kota”

Aku tentu saja tahu apa itu Aramatemia, itu adalah nama tanaman yang bisa menyembuhkan penyakit [Arang Api] jika diolah dengan cara tertentu, tanaman itu hidup di tengah hutan, dan hanya beberapa hutan saja yang ditumbuhi tanaman tersebut, dan beruntungnya di dalam [Hutan Perbatasan] juga tumbuh tanaman tersebut.

“Jadi, apa kita akan pergi ke tengah [Hutan Perbatasan]”

“Tidak, Aku yang akan pergi sendirian”

“Ehh, apa tidak apa-apa? Maksudku, bukankah saat ini hutan itu dipenuhi monster yang kuat?”

“Tapi Aku tidak bisa membawamu, ini terlalu berbahaya”

Begitukah, kakek Ars tidak mau membahayakan ku, kakek Ars adalah seorang penyihir jenius, jadi harusnya tidak masalah walaupun dia pergi sendirian, tapi …

“Aku akan ikut”

Tiba-tiba Aku berkata begitu, niat utamaku tentu saja adalah membantu kakek Ars namun di bagian kecil hatiku, di bagian terdalam hatiku, Aku ingin merasakan petualangan yang mendebarkan!

Kakek Ars sepertinya tahu dengan alasanku dan mulai menghela nafas.

“Aku tidak bisa membawamu, selain terlalu berbahaya kau mungkin juga malah memperlambatku, Clay”

“…” Aku tidak bisa membantah perkataan itu.

“Tapi jika kau bisa membuktikan kalau kau bukan halangan bagiku, kau boleh ikut bersamaku”

“Ehh? Benarkah, jadi apa yang harus kulakukan untuk membuktikan kalau Aku bukan halangan”

Kakek Ars mulai menaruh tangan di dagunya

“Besok kita akan melakukan latih tanding, kau bilang kau ingin mencoba skill barumu kan? Besok kau bisa mencobanya”

“Baik!”

Aku menjawab dengan nada yang penuh tenaga, tentu saja Aku senang jika Aku bisa mencoba skill baruku, namun Aku tidak pernah berpikir untuk bertarung dengan kakek Ars.

Aku mulai gugup, apa Aku bisa memenangkannya? Maksudku bukankah kakek Ars adalah seorang penyihir jenius? 

Tidak, Aku tidak perlu menang melawan kakek Ars, yang perlu Aku lakukan hanya membuktikan kalau Aku bukanlah halangan.

Baiklah … Aku mulai bersemangat!

Aku berbaring di ruangan tengah di rumah paman Giri, tidak ada kasur di sini jadi Aku dan kakek Ars tidur dilantai, hal ini bukanlah apa-apa bagiku, ditambah selimut yang diberikan paman Giri lumayan tebal

… sambil melakukan banyak simulasi pertarungandi kepalaku, Aku mulai tertidur

*****

Di depanku terlihat sebuah sungai yang terlihat sangat jernih, sebuah sungai berwarna biru yang memantulkan cahaya, Aku tidak yakin ada dimana Aku sekarang namun Aku merasa nyaman dengan tempat ini.

Angin semilir membelai wajahku dan matahari menghangatkan kulitku dengan cara yang sangat nyaman.

Sungguh tempat yang cocok untuk bersantai!

Aku tidak sendirian di tempat yang indah ini.

Di tempat ini ada kami berdua, Aku dengan seorang paman berambut putih.

Aku sudah berkali-kali melihat paman ini namun Aku tidak tahu siapa namanya, setiap kami bertemu dia selalu mengeluarkan senyum yang terlihat sangat misterius dan banyak menanyakan pertanyaan yang tidak penting.

“Jadi, bagaimana kehidupanmu yang baru?”

Paman itu bertanya.

Aku yakin yang dimaksud adalah kehidupanku yang baru di dunia lain, dunia fantasy yang selama ini Aku impikan.

“Ahh, awalnya Aku jadi seorang budak, namun Aku ditolong oleh kakek Ars, walaupun Aku tidak ditolong secara suka rela, Aku berhutang budi padanya”

“Begitu”

Paman itu kembali tersenyum.

Normalnya pasti Aku akan bertanya banyak hal pada paman ini, tentang dunia yang baru, tentang alasan kenapa Aku datang ke dunia itu, Aku ingin menanyakan semuanya pada paman yang sepertinya tahu arti hidupku, paman yang Aku anggap tahu segalanya.

Namun entah kenapa pertanyaan itu tidak keluar dari mulutku.

“Yah, apapun yang kau lakukan tetaplah jadi dirimu sendiri, jalani hidupmu dengan cara yang kau mau, jangan berubah!”

Paman itu berbicara dengan nada yang agak serius, namun dalam perkataannya Aku juga mendengar nada yang terlihat seperti bercanda.

“Tentu saja”

“Haha, sungguh, kau orang yang sangat menarik, oiah Aku punya satu pesan untukmu”

“Hmmp, apa itu?”

“Kadang kau harus mengorbankan sesuatu untuk mencapai hal yang kau inginkan, jika pada saatnya kau harus mengorbankan sesuatu, ingatlah kalau kau tidak sendirian

Ada orang yang berani menemanimu bahkan jika kau jatuh ke dalam neraka!”

Paman itu berbicara dengan menatap mataku, bagiku itu terlihat seperti sebuah peringatan, Aku tidak tahu kenapa, Aku hanya menganggapnya begitu.

Aku tidak mengerti dengan maksud dari perkataan paman ini, tapi tiba-tiba sebuah kalimat keluar dari mulutku.

“Baik, Aku akan mengingat itu”

Kemudian paman itu kembali mengeluarkan senyum yang terlihat misterius.

Kami melanjutkan percakapan kami yang tidak penting sepanjang hari sampai kemudian paman itu berkata:

“Berjuanglah, Aku selalu mengawasimu”

“Baik”

Kemudian Aku terbangun dari mimpi ini, mimpi yang mungkin tidak akan pernah Aku ingat ketika sudah terbangun.

Sejujurnya di salah satu bagian hatiku yang terdalam Aku ingin mengingat mimpi ini, mimpi saat Aku berbicara dengan paman dengan senyum yang misterius.

*****
Chapter Sebelumnya | Chapter Selanjutnya | Index Cerita

Postingan populer dari blog ini

[Jangan Liat] 37+ Anime Hentai Terbaik Yang Seharusnya Tidak Kamu Tonton!

41 Anime Harem Ecchi Terbaik Yang Dijamin Mantab! | 2016