OS-Brain Bab 11: Aku Tidak Punya Banyak Waktu!


Pak Murhadi berteriak di depan Nui, tiap kalimat yang keluar dari mulutnya menusuk hati Nui, namun setelah mendengar perkataan pak Murhadi, Nui berusaha mencerna tiap kalimat yang dia keluarkan.

‘Soal nomor 3 itu yang paling sulit? Lalu kenapa aku bisa mengerjakan soal yang lainnya? Apa ada masalah di OS-Brain, maksudku, di otak-ku?’

Saat Nui masih berpikir, pak Murhadi kembali berteriak, “Aku sudah menjawab pertanyaanmu, jadi pergilah, aku sedang sibuk!”

Pak Murhadi berbalik dan berjalan ke mejanya,  namun Nui tidak bergerak dari tempatnya.

Pernyataan pak Murhadi barusan mengejutkan, namun jika pak Murhadi saja berkata soal nomor 3 itu sulit sampai pak Darma tidak bisa mengerjakannya, bukankah itu keuntungan bagi Nui?

Dia berhasil mengerjakan soal tersulit di soal Paket E, dan karena ini hanya ujian saringan ....

“Bapak mau ke mana?” tanya Nui, “Bapak bilang soal nomor 3 di paket E adalah soal yang paling sulit sampai pak Darma tidak bisa mengerjakannya kan?”

Pak Murhadi dengan wajah yang terlihat garang berbalik dan berkata, “Begitulah.”

“Tapi bagaimana bapak tahu kalau aku tidak bisa mengerjakannya?” tanya Nui.

Mendengar ini pak Murhadi terlihat ingin berteriak, namun dia tidak jadi berteriak setelah membuka mulutnya beberapa detik, “Kamu adalah murid yang bodoh, jadi mana mengerti dengan hal itu?” pak Murhadi diam sebentar, “Aku adalah guru matematika, selama lebih dari sepuluh tahun aku mengajar matematika. Jadi normalnya, penilaianku tentang matematika lebih baik darimu kan? Kamu hanya murid, ditambah, murid dengan otak yang sangat lambat dan bermasalah, jadi kamu tidak akan mengerti dengan apa yang aku maksud.”

Pak Murhadi tertawa sambil mendengus, “Aku bertanya-tanya bagian mana dari  kalimatku yang tidak bisa kamu mengerti, namun akhirnya aku sadar,” pak Murhadi mendekat ke arah Nui, “Otakmu tidak sanggup menelan perkataanku yang terlalu cepat. Jadi aku harus bicara dengan pelan padamu.”

“Aku pikir kamu cuman bodoh, jadi aku tidak menyangka kamu adalah anak autis!” pak Murhadi meletakan tangannya di dagu, “Tapi ini masuk akal. Hanya anak autis yang bisa mencetak nilai satu digit.”

Mendengar ini Nui tentu saja marah, dia dulu memang bodoh, tapi dia bukan autis, sikap pak Murhadi keterlaluan, dan dia benar-benar mengerti seberapa arogannya bapak ini, Nui mengepalkan tangannya dengan keras dan berkata, “Kalau begitu pak, bisakah kamu menilai hasil ujian anak autis ini?” kata Nui sambil menunduk, namun dia mengatakan itu dengan nada sarkastik.

Mendengar ini alis pak Murhadi naik dan kemudian dia berkata, “Aku tidak sudi!”

“Begitu,” kata Nui sambil menaikkan kepalanya, “Tadi bapak mengatakan kalau aku adalah murid sampah yang tidak tahu tata krama, murid dari guru sampah yang hanya asal mengajar saja, dan lulusan dari SMP sampah kan? Tapi menurutku,” Nui menatap mata pak Murhadi, “Yang sampah itu bapak!”

Mendengar ini pak Murhadi murka dan menggebrak meja di sampingnya, “Kurang ajar kamu! Apa kamu tahu siapa aku!?”

“Bapak adalah guru matematika yang sangat hebat kan?” kata Nui dengan nada sarkastik, Nui mendengus dan kemudian berkata, “Tapi aku tidak tahu kenapa guru seperti bapak bisa melupakan hal yang sangat penting. Peran guru adalah mendidik, bukan menilai. Bagiku, guru yang hanya menilai bukanlah guru yang sebenarnya, tapi bapak.” Nui diam sebentar, “Bapak bahkan tidak menilaiku!”

“Itu karena kamu tidak pantas dinilai!” teriak pak Murhadi.

“Siapa yang bilang kalau aku tidak pantas dinilai?!” jawab Nui sambil berteriak.

Dari sini Nui berpikir, ‘Ah, sial, aku kelewatan. Dari sini, aku benar-benar tamat! Kalau jawabanku salah maka aku hanya tidak akan mendapatkan rasa malu, tapi juga amarah pak Murhadi. Kata pak Adi, pak Murhadi punya pengaruh yang besar, jadi mungkin saja dia bisa meminta sekolah lain agar tidak membolehkanku masuk!’

Namun Nui juga sadar kalau ini sudah kepalang. Ini satu-satunya pilihan yang bisa dipikirkan oleh Nui.

“Kamu!” pak Murhadi murka dan dengan wajah yang mulai memerah. “Kamu itu anak sombong yang hanya bisa mengerjakan dua soal! Dan kamu ingin mengikuti olimpiade besok?! Jangan bercanda!”

“Aku tidak bercanda,” jawab Nui dengan serius.

“Tahukah kamu, minimal kamu harus mendapat nilai 80 di ujian saringan! Misalkan langit ini runtuh dan kamu berhasil menjawab dua soal itu dengan benar, maka kamu hanya akan mendapatkan nilai 20!”

“Tapi bukankah ini cuman ujian saringan? Soal itu dibuat untuk menyaring anak yang bisa mengerjakan soal olimpiade besok!” jawab Nui, “Kata bapak soal nomor 3 sangat sulit sampai pak Darma tidak bisa mengerjakannya kan? Jadi kalau aku berhasil menjawabnya, bukankah itu artinya aku layak mengikuti olimpiade besok?”

Mendengar ini wajah pak Murhadi makin merah, ini pertama kalinya pak Murhadi tidak bisa berkata apa-apa.

“Baiklah!” kata pak Murhadi sambil mendengus, “Namun jika jawabanmu salah, maka aku tidak akan membiarkanmu pulang dengan mudah! Kamu harus bersujud dan minta maaf kepadaku!”

Mendengar ini, pak Darma yang wajahnya pucat akhirnya berkata, “P-pak Murhadi, bukankah itu agak berlebihan?”

“Tidak ada yang berlebihan!” jawab pak Murhadi, “Bukankah tadi anak ini mengajariku apa itu guru? Guru adalah pendidik, jadi aku akan mendidik anak ini agar dia bisa jadi anak yang lebih baik! Otak anak ini mati! Dia tidak punya kesempatan untuk belajar! Jadi setidaknya aku harus mengajarinya bersikap sesuai dengan otaknya itu!”

Pak Murhadi melihat Nui, “Apa kamu takut?! Apa kamu masih percaya kalau otakmu yang lemot itu bisa mengerjakan soal nomor 3? Kamu bisa aku biarkan pulang jika minta maaf sekarang!”

‘Aku tidak akan minta maaf, setidaknya untuk sekarang. Aku sudah ada di sini, jadi aku akan pulang setelah mendapatkan hasil dari usahaku.’

Nui melihat pak Murhadi, “Baiklah, aku bahkan tidak keberatan jika harus mencium sepatu bapak.”

Pak Murhadi makin murka, namun tidak berkata apa-apa dan mulai berjalan ke tempat sampah.

“Ah?”

Pak Murhadi melihat tempat sampahnya dan sadar kalau tempat sampahnya kosong, “Sepertinya kamu tidak beruntung,” kata pak Murhadi dengan senyum di wajahnya, “Aku berniat menilai hasil jawabanmu, namun petugas sampah sudah mengosongkan tempat sampahnya.”

“Eh?” kata Nui dengan spontan.

“Kemungkinan ini tanda kalau kamu tidak pantas mengikuti olimpiade besok!” kata pak Murhadi sambil menunjuk ke arah Nui.

‘Apa maksudnya ini tanda? Bukankah bapak dengan sengaja membuang hasil ujianku?’

“Karena soalnya sudah dibuang, aku tidak bisa menilainya, jadi pergilah dari sini! Aku memaafkanmu sekarang, namun aku bisa berubah pikiran kapan saja!” kata pak Murhadi dengan nada yang tinggi.

“T-tunggu dulu,” jawab Nui yang kaget, dia tidak pernah memikirkan kemungkinan kalau hasil ujiannya sudah dibuang. Dia tahu kalau soalnya dibuang ke tempat sampah, namun tidak pernah terpikirkan di kepalanya, kalau hasil jawabannya tidak ada di tempat sampah di ruang guru.

“A-aku bisa mengerjakannya lagi!”

“Aku tidak punya banyak waktu!”

Mendengar ini Nui benar-benar bingung. Barusan, dia bicara dengan nada yang percaya diri, namun itu berkat Nui yang sudah memikirkan beberapa simulasi di dalam kepalanya.

‘Apa yang harus aku lakukan?’ Melihat keadaan ini, Nui menggerakkan roda gigi di kepalanya dan kembali berpikir dengan keras.

###

Di sisi lain, Lani berhasil mengejar petugas sampah yang kemungkinan mendapat semua sampah itu dari ruang guru.

“Pak Febri, berhenti!” teriak Lani sambil berlari.

“Hah?” pak Febri kemudian berbalik dan melihat Lani yang tergesa-gesa datang ke arahnya, “Ada apa nak Lani?”

“Itu,” Lani yang sudah sampai di depan pak Febri berhenti dan berusaha menstabilkan nafasnya, “Aku perlu mengecek plastik sampah yang bapak bawa.”

“Mengecek sesuatu di dalam plastik sampah?” tanya pak Febri, namun seolah menyadari sesuatu, dia berkata, “Ah, jadi ada barang yang tidak sengaja kamu buang? Apa itu?”

“Semacam kertas ujian,” jawab Lani.

“Begitukah, kalau begitu ayo ke sini,” jawab pak Febri sambil berjalan menjauh dari jalan, “Kita akan mengacak-acak sampah, jadi agar tidak mengganggu orang lain, kita harus melakukannya di sini.” Sambung pak Febri sambil membuka plastik sampahnya.

Pak Febri mengacak-acak sampahnya, dan mengambil secarik kertas di sana, “Apa yang ini?”

Lani melihat kertas tersebut, dan kemudian menggelengkan kepalanya, “Bukan yang ini, ini cuman soal latihan yang dijadikan PR untuk kami anak kelas sebelas. Yang aku cari itu soal ujian ....” sebelum Lani menyelesaikan perkataannya, dia sadar akan sesuatu, “Tunggu.”

‘Soal latihan yang dijadikan PR? Ditambah, jika diperhatikan, ada nama orang lain di situ. PR ini belum dikumpulkan kan? Seingatku, soal ini baru akan dikumpulkan di tahun ajaran baru nanti.’

Lani sadar kalau secarik kertas yang diambil pak Febri bukanlah hal yang mungkin dibuang di tempat sampah guru, melihat ini Lani bertanya, “Pak Febri, boleh aku tahu asal dari sampah ini?”

“Ah, ini?” tanya pak Febri sambil melihat plastik sampahnya, “Bukannya kamu mengejar bapak karena ada barang kamu yang tidak sengaja terbuang? Semua sampah ini bapak ambil dari asrama kalian.”

“Eh? Bukannya bapak yang biasa membersihkan sampah di ruang guru?”

“Ah itu, mulai sekarang bapak yang mengurus sampah di asrama, sedangkan pak Emin yang membersihkan sampah di ruang guru.”

“Eh, be-begitu,” jawab Lani sambil berpikir, “Jadi, apa tempat sampah guru masih belum dibersihkan?”

Mendengar ini pak Febri berpikir sebentar, “Sebenarnya sampah itu harus dibuang di sore hari, jadi paginya tempat sampahnya sudah bersih, cuman karena tadi kepala bidang kebersihan mengadakan rapat, bapak dan teman-teman lain baru bisa membersihkannya siang ini.”

“Jadi artinya?” tanya Lani.

“Kemungkinan sama seperti bapak, pak Emin juga langsung bergegas membersihkan tempat sampah di ruang guru setelah rapat selesai.”

“Begitu, kalau begitu biasanya pak Emin buang sampah ke mana?!” tanya Lani dengan tidak sabaran.

“Biasanya beliau bakar sampah di belakang sekolah.”

“Begitu, kalau begitu aku ke sana dulu,” kata Lani sambil berbalik dan mulai berlari, “Ah, tapi sebelumnya terima kasih pak Febri.”

“Tidak masalah.”

Dari sini Lari berlari ke tempat pembakaran sampah di belakang sekolah.

‘Gawat! Aku harus segera mengambil hasil ujian Nui. Pak Murhadi itu arogan dan keras kepala, jadi butuh usaha keras agar dia mau menilai lembar jawaban Nui. Namun saat dia berniat menilainya dan hasil ujiannya tidak ada, maka dia tidak akan mau menunggu Nui mengerjakan soal yang baru!’

Lani berlari sambil memikirkan nasib pria yang dia marahi barusan.

Namun sebelum sampai ke tempat pembarakan sampah di belakang sekolah, Lani berhenti berlari. Dia melihat seseorang berjalan di jalannya dan berniat menghindarinya, “Gawat, Nadia!”

Sebelum dia berhasil menghindar, gadis yang memiliki rambut lurus sebahu, menggunakan kaca mata dan memakai seragam sekolah berteriak pada Lani, “Akhirnya aku menemukanmu! Kamu tadi beruntung karena bisa lari. Namun aku tidak akan memaafkanmu tentang kejadian tadi pagi!”

Postingan populer dari blog ini

[Jangan Liat] 37+ Anime Hentai Terbaik Yang Seharusnya Tidak Kamu Tonton!

41 Anime Harem Ecchi Terbaik Yang Dijamin Mantab! | 2016