OS-Brain Bab 2: Ini Keajaiban!

Ketika Nui membuka matanya, hal pertama yang dia lihat adalah atap yang asing, hal pertama yang dia cium adalah wangi obat yang menyengat hidung dan hal pertama yang dia rasakan adalah rasa gatal di hidungnya. Terutama rasa gatal di hidungnya, rasanya sangat menyiksa!

Nui merentangkan tangannya dan mulai menggaruk hidunya, beberapa detik setelah menggaruk hidungnya, Nui merasakan rasa nikmat yang susah digambarkan kata-kata, namun tidak lama kemudian pupil mata Nui mulai mengecil karena sadar kalau tangan yang dia pakai untuk menggaruk hidungnya dipenuhi dengan perban.

‘I-ini!’

Dia melihat sekeliling dan melihat ruangan yang benar-benar asing, namun Nui tahu ruangan apa ini, Nui juga mulai sadar alasan kenapa dia bisa berada di sini.

‘Ini rumah sakit dan ... aku tertabrak mobil AVP merah itu!’

Nui terdiam sebentar sampai akhirnya berteriak: “Aku hidup!”

Teriakan itu cukup keras untuk membuat seorang suster yang kebetulan berada di depan pintu berlari ke kamar Nui.

Suster itu terlihat kaget saat melihat Nui, dia melambaikan tangannya dengan keras dan berkata, “Tolong jangan banyak bergerak dulu!”

Mendengar teriakan itu Nui berhenti bergerak, namun tidak lama kemudian dia sadar kalau ada sesuatu yang janggal.  Yang pertama, Nui merasa tubuhnya lengket, yang kedua, rasanya tubuhnya tidak bisa dia gerakan secara bebas, seperti ada yang mengikat tubuhnya. Nui melihat kakinya dan sadar kalau ada gips di kakinya!

‘Apa kakiku patah?! Tapi rasanya tidak ada yang aneh di tubuhku!’ pikir Nui, “Tunggu ....” tiba-tiba Nui sadar akan sesuatu, ‘Ini rumah sakit, aku terbaring di rumah sakit dengan gips di kakiku, perban di tangan dan,” Nui menyentuh kepalanya, ‘Di kepalaku!’

“Siapa yang membayar biaya rumah sakitnya?!”

Nui yang hidup seadanya tentu saja khawatir tentang biaya pengobatan. Hal yang paling dia hindari di dunia ini adalah kecelakaan dan penyakit. Biaya pengobatan mahal dan Nui tidak mau merepotkan ibunya, karena itu saat bangun dari pingsannya, tentu saja hal pertama yang dia pikir adalah biaya rumah sakit.

“Tenang saja, kamu tidak perlu membayar sepeser pun ke rumah sakit ini,” kata suster yang ada di depan wajah Nui. Suster ini menggunakan seragam suster biasa, namun Nui merasa kalau wajah suster ini sangat cantik, kulitnya mulus dan putih, selain itu Nui juga sadar kalau tubuh suster ini sangat proporsional.

“Benarkah?” tanya Nui.

“Yang membayar semua biaya pengobatanmu adalah SMA Fajar Biru, karena kamu kecelakaan karena pulang dari SMA Fajar Biru, maka pihak sekolah merasa bertanggung jawab dan memindahkanmu ke salah satu ruang terbaik di rumah sakit kami.”

‘Syukurlah!’ pikir Nui.

Tidak lama kemudian, Nui mendengar suara langkah kaki dan melihat seorang pria gendut yang kira-kira berumur 50 tahun, dia menggunakan celana hitam dan jas hitam. Di dalam jas tersebut, Nui bisa melihat ada kemeja putih dan dasi merah yang menggantung di lehernya. Pria itu terlihat ramah dan tersenyum pada Nui.

“Apa kamu baik-baik saja?” tanya pria itu.

“Aku baik-baik saja,” jawab Nui.

“Kamu tidak baik-baik saja!” potong sang suster.

“Tapi aku baik-baik saja,” jawab Nui, “Tubuhku tidak merasakan sakit sama sekali, aku juga tidak merasakan ada yang salah di tubuhku. Hanya agak susah bergerak karena perban dan gips di kakiku.” Kata Nui dengan wajah yang santai.

“Apa maksudmu?” kata sang suster, “Tangan dan kakimu patah, tulang punggungmu patah dan ada luka yang cukup serius di kepalamu. Dokter bilang kalau kamu mungkin tidak akan bangun untuk selamanya, paling cepat kamu bangun sebulan lagi dan kalaupun kamu bisa bangun, kamu akan lumpuh!” namun tidak lama sang suster berhenti bicara.

“Ka-kamu bangun!” dia berbicara sambil menunjuk ke arah Nui. “Aku harus segera memanggil dokter!” suster itu berbalik dan mulai berlari. Lari suster ini aneh, karena walaupun dia terlihat ‘berlari’, dia hanya berjalan dengan cepat.

Tidak lama sang suster menghilang dan tidak terlihat, meninggalkan Nui dan seorang pria yang wajahnya kelihatan ramah ini.

“Namaku Reno, aku kepala sekolah di SMA Fajar Biru, kamu benar-benar beruntung. Setelah tertabrak mobil, kamu segera dilarikan ke rumah sakit. Banyak darah keluar dari tubuhmu dan banyak dokter berpikir kamu tidak bisa diselamatkan. Namun tidak sampai 30 menit kamus sudah bangun.”

“Jadi, hanya 30 menit berlalu setelah aku tertabrak?”

Nui merasa kalau waktu berjalan lebih lambat dari yang dia kira. Nui merasa kalau dia sudah pingsan lebih dari dua atau tiga hari, dia merasa ada sesuatu yang terjadi saat dia ‘tidur’. Rasanya dia memimpikan seseorang, tapi dia tidak tahu siapa yang dia mimpikan.

“Begitulah, namamu Nui kan?” tanya pak Reno, “Kamu tidak perlu khawatir. Semua biaya perawatanmu akan kami tanggung. Sebenarnya pihak kepolisan dan pemerintah juga berniat membayar biaya pengobatanmu, namun karena mereka hanya menyediakan kamar biasa untukmu, kami memindahkanmu ke ruang VIP, kamu adalah siswa yang mendaftar di SMA kami, jadi kami merasa bertanggung jawab atas kejadian yang menimpamu.”

Mendengar itu Nui tersenyum dengan lebar dan berterima kasih pada pak Reno.

Nui dan pak Reno basa-basi sebentar sampai akhirnya terdengar suara langkah kaki yang mendekat. Nui menengok ke arah pintu masuk dan melihat suster tadi bersama seorang dokter yang terlihat kurang lebih 28 tahun yang memasang wajah serius.

Setelah sampai di depan Nui dia segera melakukan pemeriksaan ke seluruh tubuh Nui. Setelah selesai dia mulai mengerutkan dahinya dan menaruh tangannya di dagu.

“Apa ada masalah?” tanya pak Reno.

“Tidak ada masalah,” jawab sang dokter, “Namun justru itu yang aneh. Tidak ada masalah di tubuh anak ini.”

Sang dokter kembali melihat Nui dan kemudian berkata, “Nak, tolong angkat kedua tanganmu.”

Nui tidak mengerti apa maksud dari perkataan sang dokter, namun dia tetap melakukannya. Nui mengangkat kedua tangannya seperti orang Jepang melakukan banzai, atau anak kecil yang bajunya sedang dilepas oleh orang tuanya.

“Sekarang, angkat kakimu sedikit.”

Sekali lagi, Nui melakukan hal yang diperintahkan sang dokter.

“Lihat?” kata sang dokter, “Harusnya tangan kanannya patah dan kaki kirinya remuk, namun dia bisa menggerakannya seolah tidak terjadi apa-apa.”

“Bukannya itu hal bagus,” kata pak Reno dengan senyum di wajahnya.

“Itu memang hal bagus,” kata sang dokter sambil melirik ke arah Nui, “Tapi ini juga aneh. Aku tidak melihat wajah anak tadi dengan jelas, tapi apa dia ... benar-benar anak yang sama?”

“Dia anak yang sama,” kata pak Reno.

“Aku juga bisa menjaminnya,” tambah sang suster.

“Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi aku jelas-jelas ditabrak oleh mobil APV merah itu.”

Tadi, pak Reno mengatakan kalau mobil APV merah itu dikendarai oleh seorang buronan. Dia adalah pelaku perampokan bank beberapa bulan yang lalu. Polisi berhasil melacaknya dan berusaha menangkapnya, namun sayangnya dia berhasil kabur dan malah mencelakai Nui. Katanya, orang ini masih buron dan belum tertangkap. Dia kembali kabur setelah menabrak Nui.

Sang dokter mulai menyentuh tangan, kaki dan tubuh Nui sekali lagi. Nui merasa geli karena sang dokter kadang menyentuh bagian yang aneh di tubuh Nui.

Sang dokter kemudian membuka perban yang ada di tangan Nui. Sang suster berwajah bingung dan pak Reno masih tersenyum dengan ramah.

Setelah selesai melucuti perbannya, Nui bisa melihat kulit tangannya, tidak ada apa pun di sana, bahkan luka saja gores tidak ada.

“Ini keajaiban!” kata sang suster.

“Kamu benar,” tambah sang dokter sambil melucuti gips di kaki Nui. “Aku akan memeriksa kepalamu dan jika tidak ada masalah, kamu boleh pulang.”

Nui mengangguk dan mengikuti semua perintah sang dokter.

“Apa kamu bisa berjalan?” tanya sang dokter.

“Sepertinya bisa,” jawab Nui sambil meletakan kakinya di lantai, dia berdiri dan membuat sang suster dan dokter kembali kaget.

“Kalau begitu ikuti aku,” kata sang dokter sambil memimpin jalan.

Tidak lama mereka sampai di dalam sebuah ruangan yang cukup aneh. Sang dokter memeriksa seluruh tubuh dan kepala Nui. Setelah 30 menit berlalu, sang dokter mengatakan kalau tidak ada masalah di tubuh Nui dan sekali lagi berteriak kalau ini keajaiban.

Tentu saja Nui juga berpikir begitu. Normalnya seseorang akan mati jika tertabrak mobil dengan kecepatan seperti itu. Namun daripada kaget dia malah bersyukur karena dia masih bisa hidup.

Entah kenapa, dia merasa kalau keajaiban ini diciptakan seseorang, dan entah kenapa Nui juga memikirkan ibunya dan memiliki niat yang kuat untuk membahagiakan ibunya.

Nui menanyakan tentang bajunya karena sekarang dia masih menggunakan pakaian rumah sakit. Namun sang suster berkata kalau bajunya tidak bisa dipakai karena banyak darah di kainnya. Pak Reno kemudian memerintahkan seseorang untuk membelikan baju untuk Nui, dan tidak lama, Nui melepas pakaian pasiennya dan mengenakan baju baru yang diberikan oleh pak Reno.

Sambil membawa baju lamanya yang berlumuran darah, Nui pulang diantar oleh pak Reno.

Di mobil.

Tiba-tiba pak Reno bertanya pada Nui.

“Aku sudah memeriksanya dan sepertinya kamu tidak lulus ujian penerimaan. Apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?”

Nui diam sebentar sampai akhirnya menjawab, “Aku sebenarnya tidak ingin merepotkan ibuku, kami hidup seadanya dan terus terang jika aku tidak masuk SMA Fajar Biru, biaya yang kami keluarkan akan terlalu besar, aku ingin bekerja,” Nui diam sebentar, “Namun aku juga sadar kalau aku masih di bawah umur. Tidak banyak orang yang akan mempekerjakanku, dan jika pun ada, kemungkinan bayarannya akan kecil.”

“Untuk anak yang baru lulus SMP, bekerja memang bukan pilihan,” kata pak Reno sembari melihat Nui dengan wajah yang sedikit muram.

“Aku tidak bisa menolongmu untuk masuk ke SMA Fajar Biru, namun sebenarnya ada dua cara untuk masuk ke SMA kami.”

“Benarkah? Apa masih ada kesempatan untukku?” tanya Nui dengan mata yang terlihat bersinar.

“Aku tidak yakin,” jawab pak Reno, “Seperti yang kamu tahu, cara umum adalah ikut dalam ujian penerimaan.” Dia diam sebentar, “Namun cara kedua lebih sulit. Tiap tahun SMA Fajar Biru akan mengadakan olimpiade matematika, bisanya orang yang masuk lewat jalur ini akan masuk ke kelas khusus, kelas akademik yang nantinya akan dijuruskan ke dalam penelitian di bidang tertentu. Semua orang tahu kalau banyak universitas dan perusahaan memberikan beasiswa kepada lulusan SMA Fajar Biru, namun hanya beberapa orang yang tahu kalau beberapa lembaga penelitian juga menyasar alumni SMA Fajar Biru. Kelas khusus ini yang dilirik oleh banyak lembaga penelitian.”

Nui memaksakan diri untuk tersenyum. Dia tahu kalau pak Reno sebenarnya berusaha memberikan harapan, namun pak Reno juga tahu kalau harapan ini tidak bisa dicapai oleh Nui. Nui gagal dalam ujian penerimaan, jadi bagaimana mungkin dia bisa ikut olimpiade matematika.

Melihat wajah Nui, pak Reno kembali berbicara.

“Jika kamu ingin mengikuti olimpiadenya, aku akan mendaftarkanmu, dan jika kamu tetap gagal,” pak Reno diam sebentar, “Aku mungkin bisa mencarikanmu beasiswa di tempat lain.”

Mendengar ini, Nui menjawab, “Terima kasih pak Reno, tapi aku baik-baik saja. Tawaran tentang beasiswa terdengar menggiurkan, hanya saja, aku yakin untuk mendapatkan beasiswa tersebut, aku harus menjalani tes terlebih dahulu.” Nui diam sebentar. “Aku yakin pak Reno juga sudah mengecek nilai ujianku yang kemungkinan hasilnya di angka satu digit, aku sangat berterima kasih tapi ... kemungkinan aku tidak bisa mendapatkan beasiswa tersebut. Aku tidak mau merepotkan bapak dengan hal yang sia-sia.”

Pak Reno tersenyum dan berkata, “Begitu, aku sangat menyesal karena tidak bisa membantumu.”

Nui membalas dengan senyuman yang dipaksakan dan tidak lama kemudian suasana hening di dalam mobil mulai tercipta.

Tiap tikungan membawa Nui semakin dekat ke rumahnya, dan tidak lama dia sampai di sebuah perumahan. Mobil pak Reno berhenti di depan rumah Nui dan tidak lama dia berpamitan ke Nui karena memiliki urusan lain.

‘Orang yang baik,” pikir Nui. ‘Tidak hanya dia ramah, dia juga sepertinya dermawan. Andaikan aku punya otak yang lebih encer, aku tidak akan menolak bantuan yang pak Reno tawarkan.’

Nui berbalik dan melihat rumahnya.

Nui tersenyum geli karena melihat rumahnya yang berantakan. Banyak kantong plastik berisi sampah berserakan di halaman rumah Nui yang kecil. Jendelanya penuh debu dan pintunya juga terlihat kotor. Sudah sebulan Nui tidak membersihkan rumahnya dan karena itu dia merasa ingin segera mengambil sapu dan kain lap kemudian merapikan rumahnya.

Namun tidak lama kemudian, dengan wajah yang murung, dia duduk di kursi teras rumahnya. Nui mulai menundukkan kepalanya dan entah kenapa ... air mata mulai menetes di pipinya.

Nui merasa malu untuk bertemu dengan ibunya.

Dia tidak bisa meringankan beban ibunya karena tidak bisa masuk ke SMA Fajar Biru. Nui mengusap air matanya dan mulai berniat untuk membersihkan rumahnya.

Itu sampai ... dia merasa ada yang aneh di pandangannya.

Di sudut kanan bawah pandangannya, ada dua baris hal yang membuat Nui mengerutkan dahinya.

[13.02]

[29/05/2017]

Melihat baris kedua, Nui sadar kalau itu adalah tanggal hari ini. Hanya dengan hal itu saja, Nui bisa menyimpulkan kalau 13.02, sekarang 13.03, adalah jam sekarang. Namun hal yang membuat Nui bingung adalah kenapa hal itu ada di pandangan Nui.

“Apa ini?”

Nui berusaha meraih jam dan tanggal itu dengan tangannya, namun tidak ada yang terjadi. Rasanya jam dan tanggal itu menempel pada bola matanya.

Nui kemudian sadar kalau dua hal itu bukan satu-satunya hal aneh di pandangannya, ada sebuah tanda seru “!” di ujung kiri atas pandangannya.

Nui kembali mengerutkan pandangannya sampai, “ting,” ada sebuah suara lonceng yang mendengung di kepalanya, suaranya kecil, dan dari kedengarannya terdengar seperti sebuah notifikasi yang biasa ada di social media.

Postingan populer dari blog ini

[Jangan Liat] 37+ Anime Hentai Terbaik Yang Seharusnya Tidak Kamu Tonton!

41 Anime Harem Ecchi Terbaik Yang Dijamin Mantab! | 2016