OS-Brain Bab 6: Kabur!

Nui kembali melihat soalnya dan sadar kalau ini soal Paket E, jika Nui ingat-ingat saat Kiki mengeluh, katanya soalnya sulit dan meminta panitia menukar soalnya.

‘Apa mungkin ini soal yang awalnya didapat oleh Kiki?’ pemikiran itu datang dengan sendirinya, namun sadar kalau dia tidak fokus, Nui mulai menggelengkan kepalanya dan berusaha untuk fokus ke soal yang ada di depannya.

‘Aku harus fokus mengerjakan soal ini!’

Nui kembali melihat soal nomor 2, namun sama seperti sebelumnya soal ini juga sulit. Nui kemudian meloncat ke soal nomor 3 dan kembali mengerutkan dahinya.

‘Soal ini sulit,” pikir Nui, ‘Tadi aku juga sudah melihat soal ini, namun dibandingkan dengan yang lain, soal ini terlihat lebih mudah.’

Setelah membaca soalnya berkali-kali Nui akhirnya memutuskan untuk mengerjakan soal nomor 3.

Pensil yang Nui pegang mulai dipakai untuk menulis, rumus akhir untuk mengerjakan soal nomor tiga ini ini sederhana, namun agar rumus akhir itu bisa dikerjakan, Nui harus mencari tiap nilai (value)/angka yang akan dia gunakan dalam rumus akhir. Jika diibaratkan, Nui sekarang berada di tengah ruang yang gelap. Dia tahu kalau ada pintu keluar di sini dan dia tahu cara membuka pintu tersebut, namun sebelum itu, pertama dia harus menyalakan lampu di ruangan ini, kemudian mencari dan menemukan pecahan kunci yang terpotong menjadi beberapa bagian, mencari lem untuk merekatkan potongan kunci ini, merekatkan kuncinya dengan posisi yang benar, berjalan ke pintu yang terkunci, kemudian memasukannya ke dalam lubang kunci dan memutar kuncinya. Baru dia bisa membuka pintunya.

Nui mulai mencari tiap nilai dan angka yang dibutuhkan.

Suara goresan pensil Nui mulai terdengar. Awalnya suaranya kecil dan terpotong-potong, namun makin lama suara pensil tersebut makin jelas dan berkelanjutan. Sekitar beberapa menit kemudian akhirnya tidak terdengar jeda saat Nui menulis.

Butuh waktu 20 menit bagi Nui untuk menyelesaikan soal tersebut. Nui berpikir kalau dia benar-benar lambat, namun jika pak Murhadi mendengar pemikiran Nui, dia mungkin akan muntah darah karena tidak percaya kalau anak lulusan SMP yang baru saja dia hina sebagai ‘otak tahu’ bisa menyelesaikan soal sesulit ini kurang dari 30 menit.

Nui mulai melirik jam dinding di ruangan ini.

‘Masih ada 10 menit ... aku tidak akan berhasil. Namun aku tidak akan berhenti, selagi masih ada waktu aku akan berusaha mengerjakan semua soalnya semaksimal mungkin.’

Setelah bergulat dengan soal matematika yang menguras otaknya, Nui akhirnya berhasil menyelesaikan 1 soal lainnya, Nui berhasil mengerjakan soal nomor 3 dan nomor 10.

Dibandingkan dengan soal nomor 3, soal nomor sepuluh terlihat jauh lebih rumit, namun setelah mengerjakannya, Nui sadar kalau soal ini tidak serumit yang dia bayangkan.

Jika diibaratkan, soal nomor 10 adalah seperti mencari paku dalam jerami. Jika mencarinya secara langsung maka dia tidak akan menemukannya, namun jika dia menggunakan alat seperti magnet maka dia akan menemukannya walaupun akan membutuhkan waktu.

Namun tetap, mencari paku dalam jerami menggunakan magnet bukanlah perkara mudah, karena itu Nui tetap berpikir kalau ini soal yang sulit.

“Baiklah, waktunya habis,” kata si panitia pendaftaran sambil berjalan ke arah Kiki dan temannya.

“A-aku belum selesai,” kata Andre.

“Aku juga, aku baru mengerjakan 8 soal.”

“Aku baru 9 soal!” kata Kiki.

“Waktunya habis, kalau kamu tetap mau mengerjakannya silakan saja, namun soal tersebut akan dianulir dan kamu tidak akan mendapat apa-apa walaupun selesai mengerjakannya.”

Mendengar ini Kiki CS akhirnya menyerahkan lembar jawabannya. Si panitia pendaftaran berjalan ke arah Nui dan mengatakan hal yang sama. Nui menyerahkan lembar jawabannya dengan wajah yang malu-malu.

“Berapa soal yang bisa kamu jawab?” tanya si panitia pendaftaran ke Nui, kemungkinan ini cuman basa-basi. Namun Nui tetap menjawabnya walaupun dengan senyuman palsu yang mengembang di bibirnya.

“... dua soal.”

“Begitu,” sang panitia pendaftaran tidak bicara lagi dan kembali ke mejanya.

“Seperti yang kalian tahu, hasil dari ujian saringan ini akan muncul di hari yang sama saat kalian mendaftar. Kalian bisa mengeceknya di website jam 4 sore atau menunggu di sini. Namun karena ini masih pagi, sebaiknya kalian pulang dan beristirahat.”

Nui tahu hal ini ini, di website juga dikatakan begitu.

Hasil dari ujian ini akan muncul di hari ini juga. Dan biasanya diumumkan lewat website. Hal ini dimaksudkan agar orang yang mendaftar tidak perlu menunggu dengan cemas apakah mereka berhak mengikuti olimpiade atau tidak. Jika pengumumannya di tunda, maka kebanyakan orang akan berpikir positif dan terus belajar demi mempersiapkan diri untuk olimpiade. Namun jika di saat pengumuman mereka dinyatakan gagal, hasil belajar itu akan sia-sia. SMA Fajar Biru tidak mau hal itu terjadi, mereka ingin agar yang lolos belajar untuk mempersiapkan diri untuk olimpiade sedangkan yang gagal tidak membuang-buang waktu.

Setelah mengatakan hal lain sang panitia pendaftaran bergegas pergi untuk mengantarkan hasil ujian Nui dan Kiki CS.

Nui segera keluar dari ruangan ini karena khawatir Kiki akan melakukan sesuatu, namun sebelum sempat kabur, Kiki berhasil menghentikan Nui.

“Jadi, si otak siput ini benar-benar sudah gila dan memutuksan untuk ikut olimpiade matematika? Aku tidak tahu kalau kamu seberani ini,” Kiki bicara dengan nada yang mengejek Nui. “Ah, tidak, kamu tidak berani, kamu BODOH, jadi kamu tidak tahu tempatmu sendiri. Kamu tidak sadar kalau sekarang kamu sedang mempermalukan dirimu sendiri, kamu tidak sadar kalau sekarang kamu sedang melempar kotoran ke wajahmu sendiri!”

“Ahaha, aku setuju itu,” kata Feri.

“Kalau aku tidak setuju,” jawab Andre yang membuat Kiki dan Feri seketika melihat ke arahnya, “Nui tidak perlu takut melempar kotoran ke wajahnya sendiri, karena dari awal wajahnya adalah kotoran!”

“Haha, kamu benar, kamu benar!” kata Feri sambil menunjuk ke arah Nui.

“Seperti biasa selera humormu itu luar biasa!” tambah Kiki.

Mendengar ini Nui tentu saja terbakar dengan amarah, namun dia tidak kaget dengan tiap kalimat yang muncul dari 3 orang ini.

“Kamu bilang kamu menjawab dua soal?” tanya Kiki, “Aku tidak tahu sihir apa yang kamu gunakan. Tapi jika kamu yang kamu katakan itu benar maka harusnya sekarang matahari sudah terbit dari barat!”

“Apa yang kamu katakan,” potong Andre yang sekali lagi membuat Feri dan Kiki melihat ke arahnya, “Nui itu jenius, malahan aku khawatir dengan guru yang menilai jawaban Nui tidak mengerti dengan yang Nui tulis! Seperti guru kita di SMP yang kebingungan dengan tulisan Nui! Kita semua terlalu bodoh untuk menyadari seberapa jeniusnya Nui!”

“Uwwah, seperti yang diharapkan dari raja sarkasme.” Kata Feri.

“Kamu benar, otak Nui bukanlah siput, tapi cheetah. Dia bisa berlari sangat kencang! Namun masalahnya, cheetah di otak Nui sudah mati, jadi dia tidak bisa berlari!” Kiki mengatakan itu dengan wajah yang terlihat bangga.

Mendengar ini Andre dan Feri tertawa terbahak-bahak. Nui marah, namun dia sudah biasa mendengar perkataan ini.

“Hanya itu?” jawab Nui, “Kalau begitu aku duluan. Aku harus pulang dan membantu ibuku.”

Dari luar Nui terlihat tenang, namun di dalam Nui ingin segera kabur dari sini! Dihajar dan dipalak 3 tahun sudah cukup untuk membuat Nui trauma dengan wajah Kiki.

Mendengar ini Kiki CS berhenti tertawa dan mulai berwajah serius.

Nui yang sadar kalau situasi akan berubah jadi buruk segera melangkahkan kakinya dengan cepat, dia segera keluar dari kelas dan menuju pintu gerbang, Nui melirik ke belakang dan melihat Kiki CS mengikutinya.

Nui mempercepat langkahnya, namun Kiki juga begitu.

Setelah sampai di pintu gerbang Nui berhenti dan berbalik ke Kiki.

Nui ingin memberikan serangan kejutan ke Kiki, yaitu saat Kiki tidak tahu apa yang terjadi, antara Nui telihat ingin berkelahi atau adu mulut dengannya.

Nui terdiam dan tidak lama-

“Kabur!”

-dia berteriak dan lari sekuat tenaga.

Nui lari sekuat tenaga, dia mengatur pernafasan, postur dan juga cara berlari. Nui berlari seperti atlet lari!

Namun Kiki dan temannya juga tidak kalah cepat, walaupun mereka tertinggal mereka tidak jauh dari Nui! Sepertinya mereka sedang menunggu kesempatan untuk menghajar Nui hari ini, mereka tidak berusaha mengejar Nui namun menunggu Nui kehabisan nafas.

Nui melirik ke belakang dan walaupun Kiki terlihat mengejarnya, dia tidak terlihat buru-buru.

‘Kesempatan!’

3 tahun kenal dengan Kiki, Nui sadar kalau Kiki tahu cara berpikirnya.

Dulu Nui tidak berpikir dengan cara yang rumit. Jika ada jalan lurus dan besar maka Nui akan berlari dengan jalur yang lurus, jika dia perlu menyebrang dia hanya akan melihat lampu merah saat sudah sampai di pinggir jalan.

Karena itu tidak sulit bagi Kiki untuk mengejar Nui.

Nui tidak bisa berpikir dan hanya berlari, itulah hal yang membuat kiki percaya diri.

Nui berkali-kali mengutuk dirinya, kenapa hal yang sederhana seperti ini tidak bisa dia pikirkan dari dulu!

Jika dikejar maka lari berkelok-kelok! Jika mau menyebrang di lampu merah pastikan kalau lampunya akan segera pindah ke lampu hijau! Jika tidak hijau jangan menyebrang jalan!

Namun sekarang Nui berbeda.

Saat berlari kencang, dia melihat ada gang kecil di depannya. Nui melirik ke arah Kiki sebentar, dan saat tahu kalau Kiki tetap berlari dengan santai dia berbelok ke gang tersebut dengan cepat.

Kiki kaget dengan ini, namun seperti yang diharapkan dari murid terpintar di angkatannya, dia mempercepat kecepatannya karena sadar ketika Nui masuk gang, maka dia akan sulit dilacak.

Nui berlari di sebuah gang yang sempit, jalannya hanya punya lebar 3 meter.

Nui memikirkan cara untuk keluar dari sini, sampai akhirnya pikirannya terganggu oleh teriakan Kiki.

“Hoy siput! Tunggu aku!”

Mendengar teriakan itu secara insting Nui mempercepat larinya.

‘Gawat! Dia benar-benar berniat menghajarku hari ini! Kenapa aku sial sekali, padahal sebentar lagi kami tidak akan pernah bertemu lagi. Siapa yang menyangka bahkan saat aku berniat masuk ke SMA Fajar Biru aku akan dihajar oleh Kiki lagi!’

Nui berlari sambil menggerutu dalam pikirannya.

‘Aku harus mencari jalan keluar dari sini,’ sambil memikirkan itu Nui melihat perempatan di depannya.

‘Lurus, kanan atau kiri?’ Saat memikirkan itu, Nui ingat sebuah artikel yang isinya kurang lebih sama seperti keadaannya sekarang. Di artikel tersebut dikatakan kalau kamu ragu sedang diikuti seseorang atau tidak maka berbelok 4 kali ke kiri dan lihat apakah ada orang yang mengikutimu atau tidak.

Nui ingat kalau ada alasan psikologis di balik artikel itu, namun untuk sekarang walaupun dia ingat itu tidak berguna!

‘Semoga artikel itu benar, walaupun aku tidak ragu kalau aku sedang diikuti! Aku sedang diburu di sini!’

Dengan kecepatan penuh dia berbelok ke kiri.

Dia menengok ke belakang dan melihat Kiki masih mengejarnya, Nui segera melihat ke depan dan sadar kalau ada sebuah motor yang melaju berlawanan arah dengannya.

“Awas!”

Sang pengendara motor itu memberi sebuah jalan kecil di sisi kanan, dan Nui segera bergegas melewati jalan itu.

“Jangan lari-lari di gang!” kata sang pengendara motor itu sambil berusaha menyeimbangkan motornya.

“Maaf!” teriak Nui tanpa memalingkan wajahnya.

Tidak lama persimpangan kedua terlihat, kali ini hanya pertigaan, hanya ada belok ke kiri atau kanan di depan.

Nui berlari sekuat tenaga dan tanpa ragu berbelok ke arah kiri. Kiki yang sedikit tertinggal bisa melihat bayangan Nui yang berbelok ke kiri dan segera mengikutinya.

Jalan yang dipilih Nui agak lebar dari sebelumnya, lebar gang yang sekarang kurang lebih 3 atau 4 meter dan cukup untuk mobil yang tidak terlalu besar melewati jalan ini. Ada beberapa orang yang berjalan di jalan ini, namun Nui tidak terlalu peduli dan berlari sekuat tenaga.

Tidak lama ada sebuah gang kecil di kiri jalan, tanpa pikir panjang dia langsung berbelok ke arah kiri, Nui bukan anak yang atletis dan tidak terlalu pandai dalam olahraga tim, namun setidaknya Nui bisa bangga dengan cara dia berlari. Dia berbelok dengan anggun, tanpa mengurangi kecepatan dan menabrak tembok, jika diibaratkan balapan mobil cara dia berbelok itu cepat dan anggun seperti mobil yang melakukan drift!

Nui menambah kecepatannya dan sekali lagi berbelok ke arah kiri. Dia melirik ke belakang dan tidak melihat Kiki mengejarnya.

Setelah berbelok 4 kali ke kiri, Nui melirik ke belakang dan berpikir, ‘Apa aku lolos?’

Di sisi lain, Kiki CS sampai di jalan yang lebarnya 3 atau 4 meter. Mereka berhenti dan menengok ke kiri dan kanan.

“Ke mana si sialan itu pergi?!” teriak kiki.

“Lebih baik kita berpencar,” potong Feri, “Aku dan Andre akan ke kanan, sedangkan kamu ke kiri.”

Mendengar ini Kiki berpikir sebentar, dia merasa ada yang berbeda dari Nui hari ini, dan perbedaan ini membuat Kiki semakin kesal!

“Tidak, aku akan ke arah kanan sedangkan kalian ke kiri. Aku merasa otak Nui bekerja hari ini, jadi tidak mungkin dia berbelok 3 kali berturut-turut, tapi untuk jaga-jaga kalian ke kiri. Jika menemukannya segera hubungi aku!”

“Ok!”

“Baiklah!”

Di alam bawah sadarnya Kiki merasa kalau tidak mungkin Nui berbelok ke kiri tiga kali berturut-turut. Karena itu dia berpikir kalau kali ini dia pasti berbelok ke kanan. Namun entah kenapa Kiki tiba-tiba merasa ragu.

Saat Andre dan Feri mulai berlari, Kiki tiba-tiba berteriak, “Jika di depan ada gang yang mengarah ke kiri berpencarlah, aku tidak tahu, tapi aku merasa ada yang janggal di sini.”

Andre dan Feri mengangguk dan mereka kembali berlari.

Di sisi lain, Nui sudah sampai ke pintu gang pertama, Nui berhenti dan kembali berpikir.

‘Dari sini harus ke mana?’

Postingan populer dari blog ini

[Jangan Liat] 37+ Anime Hentai Terbaik Yang Seharusnya Tidak Kamu Tonton!

41 Anime Harem Ecchi Terbaik Yang Dijamin Mantab! | 2016