OS-Brain Bab 8: Namamu Nui kan?

‘Jadi itu alasan kenapa pak satpam ini berwajah ceria!’

Hati Nui terasa hangat, namun perasaan ini tidak bertahan lama.

“Ada apa?” tanya pak satpam.

“Jika begitu, maka Kiki dan lainnya juga harusnya berhasil masuk. Aku hanya bisa mengerjakan dua soal, tapi mereka berhasil mengerjakan lebih banyak soal. Seingatku, Kiki mengerjakan 9 soal, sedangkan Feri dan Andre masing-masing mengerjakan 7 dan 8 soal.”

“Begitu,” wajah pak satpam kembali muram. Berat bagi Nui jika tiga orang yang menindasnya masuk ke SMA Fajar Biru.

Entah kenapa Nui merasa kalau pak satpam ini orang yang baik. Nui baru berbicara dengannya beberapa saat, namun dia sudah sangat peduli dengan Nui.

“Tapi kamu masih punya kesempatan!” kata pak satpam, “Aku merasa kamu anak yang baik, anak baik sepertimu pasti beruntung!”

Nui tersenyum mendengar perkataan pak satpam, “Terima kasih,” jawab Nui dari hatinya yang paling dalam.

“Haha, sama-sama,” jawab pak satpam, “Ah, aku belum memperkenalkan diriku, namaku Adi, aku sudah jadi satpam di sini selama 7 tahun. Jika kamu berhasil masuk ke SMA Fajar Biru, bapak akan mentraktir kamu makan dan melindungi kamu dari anak yang bernama Kiki itu.”

“Wah, terima kasih pak,” jawab Nui yang senyumnya yang lebar, “Tapi apa jika aku tidak berhasil, bapak tidak akan melindungiku?” Nui bertanya dengan nada bergurau.

“Tentu saja aku akan melindungimu. Aku tidak tahu, tapi entah kenapa rasanya kita bisa akur! Jarang sekali aku menemukan teman ngobrol yang usianya muda sepertimu.”

“Aku juga merasa begitu,” jawab Nui. “Aku belum memperkenalkan diri, namaku Nui, salam kenal, pak Adi.”

“Salam kenal juga,” jawab pak Adi.

Setelah itu Nui dan pak Adi kembali mengobrol, mereka yang awalnya mengobrol di depan pos keamanan mulai masuk ke dalam pos kemanan. Mereka tidak membicarakan hal yang penting, dan topiknya juga melebar ke segala arah. Mereka membicarakan segala hal yang ada di bawah langit.

“Di sekolah ini ada guru yang namanya pak Murhadi, dia S2 jurusan matematika dan memiliki kemampuan yang mumpuni sebagai guru. Hanya saja banyak anak yang kurang suka padanya karena dia terlalu arogan.”

Pak Adi menjelaskan banyak hal tentang sekolah ke Nui, mulai dari pak Murhadi yang baru saja dia sebutkan, guru bahasa inggris yang muda, cantik dan berbakat yang bernama Nina, guru pendidikan kewarganegaraan yang nasionalistik, terlihat malas, namun akan mengerjakan segalanya secara perfeksionis bernama pak Darma dan yang lainnya.

Mereka terus mengobrol sampai tidak terasa sudah jam 12 siang.

“Kita berhenti ngobrol dulu. Aku harus keliling, kamu bisa menunggu di halaman sekolah, atau kalau kamu mau, kamu pergi ke perpustakaan,”

“Terima kasih pak Adi, berkat bapak aku bisa menghabiskan waktuku,” kata Nui dengan senyuman di wajahnya.

“Tidak masalah.”

Dari sini Nui mulai pergi dari pos kemanan dan pak Adi mulai berkeliling.

Tempat yang Nui datangi selanjutnya adalah halaman sekolah. Ada banyak pohon yang lumayan rindang di sini, dari kelihatannya pohon ini lebih tua dari sekolah. Kemungkinan pohon ini dipindahkan dari tempat lain dan tidak ditanam dari sejak benih di sini.

Dia berbaring di bawah pohon dan memikirkan berbagai macam hal. Tapi yang paling menyangkut di kepalanya adalah tentang OS-Brain dan ibunya. Nui merasa dengan OS-Brain dia bisa membahagiakan ibunya.

‘Jika aku bisa masuk ke SMA Fajar Biru aku bisa meringankan beban ibuku,’ pikir Nui, ‘Tapi tetap, masalah ekonomi kami belum teratasi. Ada baiknya kalau aku bekerja. Ibu khawatir jika aku terlalu banyak bekerja maka aku tidak bisa belajar, tapi dengan otak-ku yang sekarang harusnya tidak masalah.’

‘Tapi tetap saja, aku yakin ibuku tidak akan setuju,’ Wajah Nui terlihat bingung.

Dia berbaring di bawah pohon sambil memikirkan banyak hal, dia tenggelam dalam pikirannya sampai tidak sadar dengan hal di sekelilingnya, dia tidak mendengar suara langkah kaki yang melewati tempat Nui berbaring, dia tidak mendengar suara tawa para peserta olimpiade yang datang ke halaman sekolah untuk selife dan bahkan tidak sadar ... kalau ada seseorang di sampingnya!

Dia baru sadar ketika membalikkan badannya karena punggungnya agak sakit, saat itu dia melihat ada seseorang yang berada di bawah pohon yang sama dengan Nui.

Seorang gadis yang sangat cantik, memiliki rambut yang pendek dan wajah orientalis. Dia membaca buku dan bersandar ke pohon di belakangnya, melihat ini, Nui kaget dan segera bangun.

‘Se-sejak kapan dia ada di situ?’ Nui memperhatikan gadis ini beberapa detik.

‘Gadis ini cantik!’ pikir Nui.

‘Dia putih, kulitnya halus dan ... matanya agak sipit, dia terlihat seperti gadis Jepang atau Korea, namun dilihat dari bentuk wajahnya, dia bukan orang luar negeri, setidaknya dia orang Indonesia yang memiliki darah China, Korea atau Jepang!’

‘Jika dia memakai kaca mata ....’

Jika dia memakai kaca mata, maka dia gadis yang benar-benar ideal di mata Nui. Nui tentu saja tertarik dengan perempuan, hanya saja dia tidak pernah berpikir untuk mendekati perempuan, untuk hidup sehari-hari saja Nui susah, apa lagi main-main dan mulai mendekati lawan jenis. Di umurnya yang masih 15 tahun, Nui berpikir ini terlalu cepat.

Nui bingung kenapa gadis ini duduk di dekatnya, Nui yang tentu saja tidak pernah dekat dengan perempuan berpikir kalau ... mungkin gadis ini menyukai Nui. Tapi pikiran itu segera Nui hilangkan. Wajah Nui tidak jelek, tapi dia juga tidak tampan.

‘Mungkin, dia hanya mau duduk di bawah pohon?’

Nui melihat pohon lain, tidak ada orang yang duduk atau tidur di bawah pohon lain, namun setelah diperhatikan, pohon tempat Nui berbaring memang yang paling ideal di halaman ini.

‘Aku ... tidak mau mengganggu gadis ini,’ pikir Nui sambil pergi dengan perlahan, sekarang masih tengah hari, jadi pengumuman ujian saringan olimpiade belum keluar.

‘Mungkin, aku akan pergi ke perpustakaan.’

Namun saat berjalan, gadis itu memanggil Nui.

“Namamu Nui kan?” tanya gadis itu sambil menutup buku yang dia pegang dengan kedua tangan.

###

Di ruang guru.

Pak Murhadi sedang membaca koran yang dia beli pagi tadi, pak Darma masih sibuk mempersiapkan olimpiade besok dan ibu Nina tidak terlihat di mana pun. Sedangkan guru lainnya sedang sibuk sendiri-sendiri, ada yang membaca, ada yang sedang memeriksa soal, dan lainnya.

Kebanyakan guru yang datang hari ini adalah panitia olimpiade, namun sebagian lainnya datang ke sekolah untuk menyiapkan bahan ajar di tahun pelajaran baru.

Anak kelas 12 di SMA Fajar Biru sudah dalam masa bebas karena sudah selesai melakukan ujian nasional, sedangkan anak kelas 10 dan 11 diliburkan karena sudah selesai ujian sekolah.

Suasana ruang guru sangat tenang, berbeda dengan 30 menit yang lalu saat pak Murhadi sibuk menjelaskan dengan detail segala hal tentang sekolah ke ibu Nina yang belum bekerja selama genap satu tahun.

Namun ketenangan ini tidak bertahan lama karena seorang tenaga administrasi datang dan ingin bertemu dengan pak Murhadi.

“Selamat pagi,” sapa staf administrasi itu, “Apa pak Murhadi ada?”

“Ada apa?” tanya pak Murhadi sambil menurunkan koran dari tangannya.

“Aku mendapat pesan dari pak Reno, katanya kalau pak Reno tidak ada di tempat maka hasil ujian saringan untuk olimpiade besok bapak yang nilai.” Kata staf administrasi tersebut sambil berjalan ke arah pak Murhadi, “Aku diberi tahu kalau pak Reno pergi tadi pagi.”

“Sebentar,” pak Murhadi langsung mengecek ponsel di kantongnya, “Ah, benar, katanya pak Reno ada urusan dan akan kembali jam satu siang.” Pak Murhadi kembali melihat staf administrasi dan berkata, “Ada berapa hasil ujian yang harus aku nilai?”

“4 lembar,”

“4 lembar? 4 orang kah, Lumayan banyak untuk hari terakhir pendaftaran.”

Setelah mengatakan itu sang staf administrasi memberikan 4 lembar jawaban tersebut ke pak Murhadi.

“Mari kita lihat separah apa hasil ujian ini,” kata pak Murhadi sambil mengecek lembar jawaban pertama.

“Lembar jawaban yang bapak pegang sekarang diisi oleh anak yang namanya Kiki, dia ....”

Sang staf administrasi berniat mengatakan kalau dia anak terbaik di SMP-nya, namun sebelum mengatakannya pak Murhadi tiba-tiba mengatakan, “Anak ini lumayan buruk, dia mengisi 9 soal, namun 5 diantaranya cuman benar setengahnya, 3 soal lainnya salah total, dan 1 soal lainnya hanya benar bagian rumusnya saja.”

Mendengar ini tentu saja si staf administrasi tidak mau melanjutkan perkataannya.

“Tadi apa yang ingin kamu katakan?” Namun perkataan pak Murhadi membuat si staf administrasi agak terkejut.

“Dia ..., aku sudah memeriksa ke SMP tempat dia lulus. Dia anak terbaik di angkatannya.”

“Terbaik di angkatannya?” pak Murhadi mengerutkan dahinya, “Jika anak ini yang terbaik di angkatannya, maka artinya seluruh angkatannya sampah! Sekolahnya sampah! Gurunya sampah!” kata pak Murhadi dengan nada memaki, “Itulah kenapa pendidikan di indonesia tidak maju! Gurunya hanya asal lulus kuliah saja, muridnya asal bayar SPP saja!”

Si staf administrasi: “...”

Melihat ekspresi si staf administrasi, pak Murhadi berkata, “Jangan katakan kalau 4 anak yang mendaftar hari ini dari sekolah yang sama.”

“...” si staf administrasi kembali tidak berkata apa-apa.

Pak Murhadi adalah salah satu guru yang paling terkenal di SMA Fajar Biru, dia arogan dan sering meremehkan orang lain, namun jika ditanya kemampuan, maka tidak banyak yang berani yang meragukannya.

“Kalau begitu aku tidak perlu menilai 3 lembar jawaban yang lainnya!” kata pak Murhadi sambil meremas lembar jawaban yang ada di tangannya dan melemparnya ke tempat sampah.

Si staf administrasi ingin mengatakan sesuatu, namun sebelum mengatakannya pak Murhadi kembali bicara, “Jika anak terbaik saja gagal, mana mungkin yang lain bisa lebih baik! Katakan padaku, selain si anak ‘terbaik’ ini, apa ada yang berhasil mengerjakan 10 soalnya?”

Sang staf administrasi entah kenapa berpikir dia yang dimarahi oleh pak Murhadi.

Sang staf administrasi diam sebentar dan berkata, “Tidak ada. Yang satu mengerjakan 8 soal, yang satu lagi mengerjakan 7 soal dan yang terakhir ... dia cuman mengerjakan 2 soal.”

“Lihat?” kata pak Murhadi dengan wajahnya yang terlihat bangga, “Aku adalah guru berpengalaman, jadi tidak mungkin aku salah. Jika kamu bertemu dengan anak dari sekolah yang sama dengan anak ini, maka tolak saja, mereka hanya akan membuang waktumu.”

“...” sang staf diam sebentar, sampai akhirnya dia berkata, “Baiklah.”

Pak Murhadi mengangguk dengan puas. “Apa anak-anak ini The Fallen?”

“Tidak semuanya,” jawab si staf, “Kiki, Andre dan Feri tidak mengikuti ujian penerimaan. Aku dengar mereka bertiga masuk ke SMA Negeri, namun anak terakhir ....” sang staf tidak melanjutkan perkataannya.

“Siapa anak terakhir?”

“... namanya Nui, dia-“

“Nui?!” sebelum si staf belum selesai melengkapi kalimatnya pak Murhadi tiba-tiba memotongnya.

“Anak yang mencetak nilai 1 digit di tiap mapel ujian penerimaan?! Anak yang punya otak tahu itu?! Dia benar-benar meremehkan kita! Jika aku menemukannya, aku akan memakinya! Dia benar-benar bodoh sampai aku merasa dia menghina kita! Apa dia merasa kotoran seperti dirinya bisa masuk ke SMA elit kita?! Apa dia merasa kotoran sepertinya bisa mengikuti olimpiade kita?!”

Pak Murhadi terus menggerutu dan memaki Nui, entah kenapa si staf administrasi merasa ingin menangis, dia hanya berniat mengerjakan tugasnya, namun pak Murhadi melampiaskan kemarahannya pada dia.

Sekali lagi ruang guru kembali ramai, dan orang yang meramaikannya adalah pak Murhadi.

Tidak ada orang yang sadar kalau ada seorang gadis yang duduk dekat dengan kantor guru, dia memiliki rambut hitam dan pendek, tubuhnya proporsional, dan matanya agak sipit, gadis ini bernama Lani.

Dia kelas 11 di SMA Fajar Biru dan mendapatkan beasiswa penuh dari sekolah, termasuk uang jajan dan asrama, Lani tidak berniat mendengarkan perkataan pak Murhadi, namun dia juga tidak bisa mengabaikannya.

Setelah pak Murhadi selesai menggerutu, Lani pergi ke asrama dan kembali membaca buku, namun dia merasa kalau membaca di kamar asrama membosankan dan mulai pergi berjalan-jalan di sekitar area sekolah, dia berhenti di dekat pos keamanan dan mendengar ada dua orang yang sedang asyik mengobrol.

Dia mendengarkannya sampai akhirnya Lani tahu siapa yang sedang bicara, si pak satpam itu berkali-kali menyebut nama Nui.

‘Orang yang dimaki pak Murhadi? Dia ada di sini?”

Dia duduk di kursi yang tidak jauh dari pos keamanan dan membuka bukunya, dia tidak bisa mendengar dengan jelas pembicaraan mereka berdua, namun kadang, dia mendengar gelak tawa dari pos keamanan tersebut.

‘Dia mau ikut olimpiade matematika dan sekarang, dari pada belajar dia malah asyik mengobrol?!’

Lani mulai merasa jijik dengan Nui, di ujian penerimaan dia mendapatkan nilai satu digit di tiap pelajaran, ditambah, dia berani mendaftar olimpiade matematika yang akan dilakukan besok!

Lani menganggap Nui orang yang terlalu santai dan arogan.

Tidak lama, Nui pergi dari pos satpam, Lani memperhatikan ke mana Nui pergi, namun Nui kembali membuat Lani marah.

‘Dia berbaring di bawah pohon?! Apa keuntungan yang kamu dapat dari berbaring di bawah pohon? Ada segunung kegiatan yang bisa kamu lakukan! Tapi kamu malah memilih berbaring di bawah pohon?!’

Lani mulai menganggap Nui adalah tipe anak yang terlalu dimanjakan orang tuanya, di pandangan Lani, Nui adalah tipe orang yang tidak pernah mengalami kesulitan, hanya orang yang tidak pernah kesulitan yang akan diam dan berbaring di bawah pohon!

‘Dia pemalas!’ Lani marah, namun wajahnya tidak berubah.

Lani yang marah mulai duduk di dekatnya, dia tidak tahu kenapa dia mau duduk dekat-dekat orang yang sifatnya sangat dia benci.

‘Di dunia ini tidak ada orang bodoh, yang ada hanya orang yang malas! Orang yang mendapatkan nilai ujian dengan angka satu digit bukanlah orang yang bodoh, tapi orang yang malas! Jadi kamu adalah orang yang malas!’ Lani mulai menggerutu di dalam pikirannya, ‘Kamu berani masuk ke SMA Fajar Biru dengan sikapmu yang malas itu?! Jangan bercanda! Kamu tahu seberapa susahnya aku masuk ke SMA Fajar Biru?! Ditambah, kamu berniat mengikuti olimpiade besok?! Aku tidak akan mengizinkanmu.’

‘Aku tidak akan membiarkanmu.’

‘Aku tidak memiliki dendam padamu, namun karena kamu malas ... kamu pantas untuk dibenci!’

‘Orang malas harus musnah dari dunia ini!’

Tidak Lama Nui berniat pergi, namun Lani menghentikannya. Dengan wajah yang datar Lani berkata, “Namamu Nui kan?”

Postingan populer dari blog ini

[Jangan Liat] 37+ Anime Hentai Terbaik Yang Seharusnya Tidak Kamu Tonton!

41 Anime Harem Ecchi Terbaik Yang Dijamin Mantab! | 2016