OS-Brain Bab 9: Dunia Ini Tidak Sesederhana Yang Kamu Katakan

“Eh?”

Nui kaget karena gadis yang sangat cantik ini tiba-tiba bertanya padanya, terlebih dia tahu nama Nui.

“I-itu benar, namaku Nui,” jawab Nui dengan agak gugup. “Ada yang bisa aku bantu?”

“Ada,” jawab gadis itu sambil berdiri di hadapan Nui, “Aku tidak tahu siapa kamu, siapa keluargamu, atau sebesar apa pengaruhmu, tapi sekolah ini tidak cocok untukmu! Segera pergi dari sini dan jangan kembali lagi! Aku tidak suka padamu!”

Nui kaget dengan perkataan gadis ini, perkataan ini cukup untuk membuat mata Nui terbuka dengan lebar.

Saat Nui mendaftar dan melakukan ujian penerimaan, dia tahu kalau dia akan gagal, dia tidak pintar jadi walaupun dia belajar sebulan penuh demi ujian penerimaan tersebut, dia tahu dia akan gagal, ujian penerimaan SMA Fajar Biru tidaklah mudah, mungkin hanya satu tahap di bawah olimpiade matematika yang akan diadakan besok, namun Nui tetap ingin bergantung pada sebuah harapan, sekolah lain mahal dan SMA Fajar Biru adalah satu-satunya pilihan bagi Nui. ‘Tidak cocok untuk ku?’ Nui tahu itu, Nui tidak pantas ada di sekolah anak jenius, namun ... apa pernah ada orang yang melarang orang miskin dan bodoh masuk ke SMA Fajar Biru? Tidak ada.

Nui bukanlah anak yang temperamen, dia sudah biasa dihina, Nui merasa kalau dia tidak boleh mengambil hati perkataan gadis ini, namun mulutnya tiba-tiba berbicara dengan sendirinya, “Atas dasar apa kamu menyuruhku pulang?”

Setelah mengatakan itu, Nui entah kenapa merasa menyesal. Beberapa saat yang lalu, saat dihina Kiki, dia hanya bisa lari, namun saat orang lain menghinanya, saat seorang perempuan menghinanya, dia malah melawannya. Nui berpikir kalau dia benar-benar tidak jantan, takut dengan Kiki dan malah melawan gadis yang ada di depannya.

Nui menarik nafasnya dengan panjang, “Maaf, aku akan segera pulang. Tadinya aku berniat menunggu hasil ujian saringan olimpiade di sini, tapi-”

“Olimpiade? Aku tahu hasilnya,” kata gadis ini sambil memotong perkataan Nui, “Pak Murhadi bahkan tidak sudi menilai hasil ujianmu, tanpa membacanya dia langsung melemparnya ke tempat sampah!”

Mendengar ini Nui tentu saja kaget, “A-apa maksudmu?”

Nui mendengar pak Adi berkali-kali menyebutkan nama pak Murhadi, dia guru matematika yang sangat arogan, namun tidak ada yang berani padanya karena dia memang guru yang berkualitas, setidaknya dalam bidangnya.

“Pak Murhadi melemparkan hasil ujianku ke tempat sampah tanpa membacanya?” tanya Nui dengan wajah yang pucat.

“Itu benar, aku dengar kamu anak yang gagal di ujian penerimaan dan mencoba masuk lewat olimpiade matematika, namun kamu terlalu arogan dengan sikapmu itu! Siapa yang akan menilai hasil ujian dari orang yang mendapatkan nilai satu digit di tiap mapel ujian penerimaan?!”

“Nilai satu digit di tiap mapel ujian penerimaan?” Nui mengulangi perkataan gadis yang ada di depannya, Nui kaget, dia tahu kalau nilainya tidak akan bagus, namun dia juga tidak berharap mendapatkan nilai satu digit di tiap mapel. Hasil ujian penerimaan SMA Fajar Biru tentu saja diumumkan, begitu juga dengan nilai yang tiap orang dapat. Hanya saja hal ini hanya berlaku bagi orang yang lulus ujian penerimaan, jadi Nui tidak tahu hal ini. Yang dia tahu, dia hanya gagal.

‘Jika memang begitu, ada kemungkinan pak Murhadi tidak akan sudi membaca hasil ujian saringan hari ini! Ya ampun, kenapa aku sesial ini?!’

“Apa maksudmu pak Murhadi yang menilai hasil ujian saringanku?” Nui tahu kalau pak Murhadi guru matematika, namun menurut pak Adi, pak Murhadi bukanlah panitia olimpiade matematika besok, agak aneh ketika guru matematika tidak jadi panitia olimpiade matematika, namun hal itu benar-benar terjadi. Katanya pak Murhadi capek karena tiap tahun jadi panitia, jadi tahun ini dia tidak menjadi panitia olimpiade matematika.

“Apa kamu tuli? Sudah aku katakan kalau dia tidak menilai hasil ujianmu. Dia melemparnya ke tempat sampah tanpa membaca hasil ujianmu!”

Wajah Nui makin pucat.

Dia berharap kalau di antara dua soal yang dia kerjakan, ada soal yang bisa membuat Nui masuk ke SMA Fajar Biru, Nui berharap dua soal itu adalah soal yang disiapkan langsung oleh pak Reno. Namun siapa sangka dia akan gagal bahkan sebelum ada orang yang membaca hasil jawabannya.

‘T-tunggu dulu, aku masih punya harapan. A-aku tidak tahu siapa gadis yang ada di depanku ini, tapi kenapa dia tiba-tiba bicara padaku dan mengatakan kalau aku gagal di ujian saringannya? Karena dia bukan panitia, maka ucapannya tidak berdasar kan?’ Nui berharap kalau pemikiran optimisnya itu benar. Nui tahu tidak ada asap kalau tidak ada api, tidak ada rumor kalau tidak ada sumbernya, jadi gadis ini pasti mendengarnya dari seseorang.

“Setelah kamu tahu hal ini tolong jangan kembali! Sekolah ini bukanlah untuk orang MALAS sepertimu!” kata Lani sambil menaikkan nada bicaranya.

Mendengar ini Nui mulai melihat gadis ini dengan wajah yang serius, ‘Malas? Aku?’

Di dunia ini, dia tidak masalah disebut bodoh, karena dulu dia memang bodoh, dia juga tidak masalah disebut miskin, karena dia memang miskin. Namun di antara semuanya, malas adalah hal yang tidak pernah Nui lakukan. Bagaimana mungkin orang yang begadang 30 hari untuk ujian penerimaan disebut malas? Bekerja sekeras mungkin adalah satu-satunya hal yang bisa Nui lakukan.

“Apa maksudmu?!” tanya Nui dengan nada yang agak tinggi, “Aku? Malas? Aku tidak tahu siapa kamu, tidak pernah mengusikmu, dan tidak tidak tahu kenapa kamu mengusirku, aku tidak masalah dihina asalkan ada alasannya, jadi apa alasan kamu menghinaku? Apa bukti yang kamu punya dan menyebutku malas?!”

Mendengar ini gadis ini berkata, “Di dunia ini tidak ada orang yang bodoh, yang ada hanyalah orang yang malas! Kamu mendapatkan nilai satu digit di tiap mapel yang diujikan, jadi tidak mungkin kamu bodoh, kamu hanya malas! Di dunia ini tidak ada orang bodoh yang mendapatkan nilai sekecil itu, hanya orang malas yang mendapatkan nilai seperti itu!”

Nui mulai mengepalkan tangannya dengan keras, ‘Orang yang mendapat nilai satu digit itu malas? Karena aku mendapatkan nilai satu digit, jadi aku malas?’

Nui memikirkan logika di balik perkataan gadis ini, gadis ini setengah benar, ‘kebanyakan’ orang bodoh di dunia ini tidaklah bodoh, dia hanya malas, di sekolah Nui juga begitu, banyak orang yang nilainya sedikit jauh lebih baik dari Nui, namun berbeda dengan Nui, mereka tidak belajar. Mereka mendapatkan nilai yang buruk bukan karena otaknya, namun karena sikapnya yang malas.

‘Tapi bukan berarti semuanya begitu, bagaimana denganku?’ pikir Nui.

Dia belajar lebih keras dari yang lain, namun sekeras apa pun dia belajar, hasilnya tidak terlihat.

“Aku tidak setuju dengan perkataanmu,” jawab Nui sambil menatap mata gadis ini dengan serius, “Pernahkah kamu diajarkan untuk tidak menilai buku dari sampulnya? Hanya karena aku mendapat nilai satu digit, bukan berarti aku malas. Kamu tidak tahu apa pun tentangku.”

“Aku tidak tahu kamu,” jawab gadis ini, “Namun aku tahu orang yang seperti kamu!”

Mendengar ini Nui melemaskan tangannya. Nui menyadari sesuatu.

Gadis yang ada di depannya ini memarahi Nui tanpa sebab apa pun, tipe orang seperti ini banyak tersebar di seluruh dunia dan ini bukan pertama kalinya Nui bertemu dengan tipe orang seperti ini.

Salah satunya Kiki, dia bisa menghajar Nui bahkan ketika alasannya sepele, Nui pernah dihajar Kiki karena membuang sampah ke tempat sampah saat kepala sekolah lewat, Kiki berkata kalau Nui sedang mencari muka.

Tipe orang seperti ini tidak peduli dengan ‘sebab’, ketika dia melihat orang yang tidak dia suka, apa pun yang dia lakukan, semuanya terlihat menjengkelkan baginya.

Termasuk gadis ini. Dia hanya akan puas setelah memaki Nui. Nui ingin berkata kalau gadis ini terlalu cepat menyimpulkan sesuatu, namun karena sikap gadis ini seperti ini, maka percuma berdebat dengannya.

Dan dari cara dia bicara, dia tidak menyukai Nui karena dia mendapatkan nilai satu digit dan menganggap kalau Nui malas. Tipe orang seperti ini susah dihadapi, jika melawan dia akan makin keras dan jika tidak melawan dia akan makin menginjak-nginjak Nui.

Setelah berpikir beberapa saat Nui memutuskan untuk pergi dari sini, dia tidak mau mencari masalah, dia tidak mau bertengkar dengan orang yang baru dia temui hari ini.

“Aku minta maaf jika mengganggumu,” Kata Nui sambil sedikit menundukkan kepalanya, “Tapi apa kamu tahu? Dunia ini tidak sesederhana yang kamu katakan. Tidak semua orang sama dan tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama.  Ada orang yang terlahir di keluarga kaya dan ada orang yang terlahir di keluarga yang miskin. Ada orang yang terlahir cerdas dan ada juga yang tidak, katamu tidak ada orang bodoh di dunia ini kan? Kamu setengah benar, ada orang yang bekerja siang dan malam namun dia tidak kunjung kaya, ada orang yang belajar sepenuh tenaga, namun dia tidak bisa mengalahkan orang yang cerdas.”

Gadis ini membuka mulutnya, dari kelihatannya dia ingin membantah perkataan Nui, namun sebelum dia berkata apa-apa, Nui melanjutkan, “Namun orang-orang ini berhasil bergerak maju. Banyak orang miskin yang bekerja keras, sampai akhirnya dia bisa makan dengan cukup. Dia tidak kaya, namun dia berkecukupan. Ada orang yang bodoh yang bekerja keras, dan walaupun dia tidak bisa jadi yang paling cerdas, kecerdasannya jadi tidak jauh berbeda dengan lainnya.”

Gadis ini mulai melihat Nui dengan wajah serius, dia sadar kalau yang dikatakan Nui benar, banyak orang yang bekerja keras dan walaupun tidak menjadi yang terkaya atau yang tercerdas, mereka tetap bisa mendapatkan hasil kerja keras mereka. Namun gadis ini tidak mengerti kenapa Nui mengatakan hal itu, beberapa saat yang lalu dia mengatakan kalau hal ini setengah benar, namun kenapa pemikirannya tidak jauh dari gadis ini? Dia bertanya-tanya kenapa orang malas seperti dia berbicara tentang kerja keras.

Gadis ini baru tahu maksud perkataan Nui setelah perkataan Nui selanjutnya.

“Tapi apakah kamu tahu kalau di dunia ini ada orang yang sial. Ada orang miskin yang terus bekerja, namun kehidupannya tidak berubah, dan ada juga orang yang bodoh namun sekeras apa pun dia belajar, dia hanya bisa mendapatkan nilai satu digit,” Nui mulai melihat mata gadis yang ada di depannya. “Aku bisa menebak kalau kamu adalah tipe orang yang bekerja keras dan mendapatkan hasilnya. Ibu jari, telunjuk dan jari tengahmu yang penuh tinta itu menjelaskan hal itu, tapi apakah kamu bisa menebak aku tipe yang mana?”

Gadis ini kaget karena Nui menyebutkan ibu jari, telunjuk dan jari tengahnya yang penuh tinta, secara refleks dia melihat tangannya.

‘Kamu tipe yang mana? Kamu tipe orang malas yang tidak bekerja keras!’ pikir gadis ini, namun dia kaget ketika pandangannya tidak sengaja melihat tangan kanan Nui.

“!” Dia kaget dengan apa yang dia lihat. Nui berada sekitar dua meter di depannya jadi jari tangannya yang terlihat kasar penuh tinta terlihat dengan jelas.

Saat ini, gadis yang bernama Lani ini sadar kalau dia salah. Orang yang malas belajar tidak akan memiliki tangan seperti itu, Lani tahu itu, karena Lani juga memiliki tangan yang sama seperti Nui.

Lani berusaha mencerna kembali apa yang Nui katakan, namun sebelum dia berhasil melakukannya, Nui berbalik dan berjalan menjauh darinya.

“Sampai jumpa,” kata Nui dengan wajahnya yang serius.

Saat itu Lani sadar kalau celana yang Nui pakai terlihat terlalu besar untuknya, jaket cokelat yang dia pakai juga memiliki warna yang terlihat agak pudar. Sekilas jaket Nui terlihat berwarna cokelat muda, namun setelah memperhatikannya, Lani sadar kalau warna asli jaket tersebut adalah cokelat tua.

Lani melihat Nui dengan perasaan bersalah.

Dia sadar kalau dia terlalu cepat menyimpulkan sesuatu.

Normalnya Lani tidak bersikap seperti ini, namun dia menyesal karena merasa melemparkan rasa marahnya ke orang yang tidak dia kenal.

Postingan populer dari blog ini

[Jangan Liat] 37+ Anime Hentai Terbaik Yang Seharusnya Tidak Kamu Tonton!

41 Anime Harem Ecchi Terbaik Yang Dijamin Mantab! | 2016