OS-Brain Bab 13: Sebutan Otak Tahu Tidak Cocok Untuknya

Mendengar perkataan pak Murhadi, Nui berpikir kalau menantang seorang guru bukanlah ide yang bagus. Pak Murhadi murka sampai mengatakan kalau dia akan membuat semua sekolah di Indonesia tidak menerima Nui. Ini sama saja dengan menghancurkan masa depan seseorang.

Namun walaupun ini bukan ide yang bagus, ini juga bukan ide yang terlalu buruk. Setidaknya, hal ini membuat Nui memiliki harapan masuk ke SMA Fajar Biru. Jika dia tidak menantang pak Murhadi, maka pintu ke SMA Fajar Biru akan tertutup 100%.

Pak Murhadi berniat mengetes Nui, dan walaupun ada ancaman di kalimatnya, ada juga hadiah di sana. ‘Jika aku bisa mengerjakan soal yang dibuat pak Murhadi, aku bisa masuk ke SMA Fajar Biru!’

Jika seseorang ingin memanen madu, dia harus berurusan dengan lebah. Jika seseorang ingin memetik mawar, dia harus berurusan dengan duri. Seseorang tidak bisa mendapatkan harta karun tanpa menginjak jebakan yang membahayakan nyawanya!

“Bapak tidak perlu bersujud padaku,” kata Nui, “Aku hanyalah seorang anak berumur 15 tahun. Aku akan dikutuk jadi batu kalau durhaka pada bapak.” Kalimat ini Nui ucapkan dengan sepenuh hati, namun tentu saja pak Murhadi menganggap perkataan Nui ini sebagai provokasi.

“Sudah telat untuk mengatakan itu! Aku sudah mengutukmu di dalam hatiku!” Jawab pak Murhadi sambil menunjuk ke Nui.

Mendengar ini hati Nui merasa sakit. Selama 15 tahun Nui hidup sebagai anak yang baik, baru pertama kali ini ada seseorang yang murka padanya, bahkan Kiki yang tiap hari kesal dengan Nui tidak pernah sampai seperti ini.

“Aku minta maaf,” jawab Nui.

Mendengar ini pak Murhadi sedikit kaget, pak Murhadi tidak menyangka anak yang dari tadi memprovokasinya akan dengan mudah minta maaf, namun perkataan Nui selanjutnya membuat pak Murhadi kembali marah. Dengan senyuman di wajahnya, dia berkata,  “Jadi, apa soal yang akan diujikan padaku sudah bapak tulis? Apa soalnya diambil dari soal ujian saringan? Atau ujian sekolah di SMA Fajar Biru? Atau mungkin ujian nasional?”

Nui memang meminta maaf, tapi dia tidak menarik perkataannya. Pak Murhadi kesal karena merasa Nui tidak meminta maaf dengan sepenuh hati.

Pak Murhadi tidak menjawab pertanyaan Nui, dia mulai duduk di mejanya dan mulai melirik buku yang ada di depannya.

###

‘Anak sinting ini, memangnya dia pikir siapa aku? Aku tahu kapasitas otakmu, jadi tidak mungkin aku memberimu soal ujian saringan, ujian sekolah, atau ujian nasional!’

Pak Murhadi duduk di kursi yang harganya 5 juta rupiah, kursi ini sangat nyaman sampai kadang pak Murhadi merasa pantatnya menempel dan tidak bisa dilepaskan dari kursi ini.

Di mejanya ada sebuah buku referensi karangan seorang professor di bidang matematika, tidak banyak hal yang bisa dikutip dari buku ini dan diajarkan ke muridnya, namun ada beberapa pola pikir di buku ini yang akan mempermudah murid pak Murhadi mempelajari materi tertentu.

Awalnya pak Murhadi berniat menutup buku ini dan mencari soal yang cocok untuk Nui di buku lain, walaupun pak Murhadi arogan dia tidak mau menang dengan soal yang tidak bisa dijawab anak SMA. Jika dia melakukannya, maka kemenangannya tidak berarti dan hanya akan membuatnya malu.

Pak Murhadi bagaikan seorang pendekar yang memiliki banyak pedang, dan kebanyakan pedang yang dia miliki bisa membelah gunung, namun Nui adalah seorang pemula dengan ranting sebagai senjatanya. Jika pak Murhadi melawan Nui yang senjatanya cuman ranting menggunakan pedang yang bisa membelah gunung, maka itu bukan kemenangan, melainkan aib. Atau setidaknya itu yang dipikirkan pak Murhadi.

Namun saat melihat buku di depannya prinsip pak Murhadi mulai goyah.

Dia ingat wajah dan cara bicara Nui yang membuatnya kesal. Jika dia tidak melampiaskan amarahnya maka dia tidak akan bisa tidur malam ini!

‘Walaupun aku sudah menamparnya, rasanya kurang! Aku ingin melihat dia tersiksa! Aku ingin melihat wajah anak yang sombong ini pucat karena melihat soal yang tidak bisa dia kerjakan! Ancamanku tidak main-main karena di-blacklist seluruh SMA di Indonesia bukanlah perkara yang ringan! Jadi dia pasti bersujud dan minta ampun padaku!’

Pak Murhadi membayangkan wajah Nui yang berlinang air mata sambil bersujud di depannya, walaupun hal itu belum terjadi, pak Murhadi sudah merasakan rasa senang luar biasa.

‘Sudah aku putuskan! Masa bodo dengan masa depan anak ini dan masa bodo dengan harga diriku! Aku akan menggunakan meriam untuk membunuh seekor nyamuk!’

Pak Murhadi membolak-balik buku yang ada di depannya dan mencari soal yang sulit.

‘Bukan ini, soal yang ini sulit namun rumus awal yang digunakan untuk menyelesaikan soal ini sudah dipelajari di SMA dan kebanyakan anak SMP setidaknya pernah mendengar rumus ini. Aku butuh soal yang membuat dia membuka mulutnya karena kaget! Aku ingin agar saat dia melihat soalnya, dia berpikir kalau ini bukan bahasa manusia!’

Pak Murhadi terus membolak-balik halaman di buku tersebut, kadang pak Murhadi tersenyum dengan wajah yang jahat namun tidak lama senyuman itu hilang dan wajahnya kembali terlihat serius.

###

Di sisi lain, Nui memperhatikan pak Murhadi yang wajahnya sangat serius.

‘Buku yang dia buka ... aku tidak pernah melihat buku seperti itu,’ pikir Nui sambil mencubit dagunya, ‘Namun ini wajar karena pak Murhadi adalah guru SMA, jadi buku yang ada di depannya sudah pasti bukan untuk anak SMP. Aku harap aku bisa mengerjakan soal itu.’

Nui berpikir sebentar sampai akhirnya ada seseorang yang menyentuh pundaknya, “Kamu, namamu Nui kan?” tanya seseorang yang namanya Darma.

‘Ini pak Darma yang pak Adi ceritakan?’ Nui memperhatikan wajah pak Darma sebentar, “Benar, namaku Nui.”

“Aku tidak tahu apa yang merasukimu, tapi kamu benar-benar dalam masalah besar!” Pak Darma berbicara dengan wajah yang pucat, keringat dingin muncul di keningnya.

Mendengar ini Nui menjawab, “Aku tahu.”

Nui datang ke ruang guru tanpa diundang kemudian menantang, menghina dan memprovokasi pak Murhadi, jadi tentu saja Nui dalam masalah besar.

“Tapi aku tidak bisa berdiam diri,” sambung Nui. “Aku harus masuk ke SMA Fajar Biru apa pun yang terjadi. Aku sudah gagal dalam ujian penerimaan jadi satu-satunya harapanku adalah olimpiade besok, namun aku mendengar kabar kalau soal ujian saringanku dibuang tanpa dinilai. Jadi aku bergegas ke sini dan berharap pak Murhadi menilai hasil ujian saringanku. Hal lain terjadi dan ... beginilah jadinya.”

Mendengar ini pak Darma hanya bisa berdiam diri. Cara Nui meringkas semua kejadian yang terjadi tidak bisa dibantah—karena memang itu yang terjadi. Namun ‘hal lain’ yang disebutkan Nui terdengar kalau itu bukanlah hal yang besar.

Nui melirik ke pak Murhadi sebentar dan sadar kalau dia terlalu sibuk sampai tidak mendengar pembicaraan Nui dan pak Darma.

“Apa kamu tidak masalah?” tanya pak Darma.

“Tidak masalah apanya?” jawab Nui sambil mengerutkan dahinya.

Pak Darma mendekat ke Nui dan berkata, “Hal yang kamu lakukan membuat kamu berada di ujung tanduk. Pertama, pak Murhadi orang yang, kamu tahu, dia, dia agak ... arogan,” pak Darma kesusahan mengatakan hal itu, “Jadi salah satu hal yang dia benci adalah kekalahan. Dia akan menyiapkan soal yang sangat sulit untuk kamu kerjakan atau mungkin soal yang mustahil kamu kerjakan. Ditambah, jika kamu kalah akan sulit bagimu untuk masuk SMA lain, pak Murhadi adalah guru veteran dan profesional jadi dia punya banyak koneksi. Perkataan pak Murhadi tentang kamu yang akan di-blacklist di seluruh SMA di indonesia memang dilebih-lebihkan, tapi minimal semua sekolah akan mempersulitmu.”

Nui mulai menarik nafas dalam-dalam dan berusaha menenangkan diri.

Pak Darma tidak berdiam diri dan kembali berbicara, “Jika kamu minta maaf sekarang mungkin pak Murhadi bisa melupakan kejadian hari ini. Aku juga akan membantumu meminta maaf.”

Nui tersenyum ke pak Darma, dari perkataannya Nui tahu kalau pak Darma adalah guru yang baik, namun untuk sekarang Nui tidak menerima kebaikannya, “Aku sangat berterima kasih, tapi ini satu-satunya kesempatanku. Aku tidak akan melepaskan kesempatan ini, jika aku melepaskannya, saat aku tua, aku akan mengingat hari ini dan menyesal seumur hidup.”

Pak Darma tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia tahu kalau anak yang di depannya sebenarnya adalah anak yang baik, namun sepertinya anak ini tidak punya banyak pilihan, pak Darma kemudian bicara, “Kalau begitu duduk di sini,” pak Darma menarik sebuah kursi dan mempersilakan Nui duduk.

“Terima kasih,” jawab Nui. “Oiah, boleh aku meminjam pulpen dan meminta dua, tidak, tiga lembar kertas?”

“Pulpen dan kertas?” gumam pak Darma, namun dia tidak bertanya, dia mengambil tiga lembar kertas HVS dan sebuah pulpen di mejanya dan menyerahkannya pada Nui.

Sesaat setelah menerima pulpen dan kertas tersebut, Nui mulai menulis sesuatu di sana, awalnya pak Darma tidak tahu apa yang Nui tulis, namun seiring waktu berlalu, hal yang Nui tulis semakin jelas dan terasa familiar untuk pak Darma.

“Ini soal ujian saringan kan?” kata pak Darma.

“Lebih tepatnya soal ujian saringan nomor 3 di paket soal E. Karena aku sudah mengerjakannya maka aku ingin tetap dinilai. Karena itu aku menulis kembali soal beserta jawabannya,” jawab Nui sambil menengok ke pak Darma beberapa detik kemudian kembali menulis jawabannya.

Pak Darma kaget dengan apa yang dia lihat, dia bukanlah guru matematika dan dia dari awal juga tidak terlalu suka matematika, jadi dia tidak tahu jawaban yang Nui tulis benar atau tidak.

Namun yang membuat pak Darma kaget adalah karena Nui bisa menulis semuanya dengan lancar, soal yang ditulis Nui agak susah dimengerti, apalagi untuk diingat,  selain itu jawaban Nui juga membuat pak Darma membuka mulutnya dengan lebar, awalnya jawaban yang Nui tulis menggunakan rumus sederhana namun makin lama hal yang dia tulis makin susah dimengerti. Ditambah, Nui mengerjakannya tanpa jeda, seakan dia mengerti dengan seluk beluk soal ini.

Pak Darma sadar kalau anak ini tidaklah sesederhana yang dia pikirkan, di pikiran pak Darma ada dua kemungkinan yang terlintas, satu Nui memiliki ingatan yang bagus, karena dia sudah mengerjakan soal ini tadi pagi, maka dia menulis semuanya berdasarkan ingatannya, ini membuat Nui tidak perlu menghitung jadi Nui bisa menulisnya dengan lancar, hal ini mungkin dilakukan, namun hanya orang yang memiliki ingatan sangat bagus yang bisa mengingat semua hal ini, bahkan pak Darma tidak yakin bisa mengingat semua jawaban yang Nui tulis.

Kemungkinan kedua adalah Nui memang pandai dalam matematika, dia tahu rumus yang harus dia gunakan dan bisa berhitung dengan cepat.

‘Yang mana pun kemungkinannya, Nui bukanlah anak biasa dan sebutan otak tahu tidak cocok untuknya.’ Pikir pak Darma.

###

Selamat tahun baru 2018! OS-Brain kembali dimulai.

Postingan populer dari blog ini

[Jangan Liat] 37+ Anime Hentai Terbaik Yang Seharusnya Tidak Kamu Tonton!

41 Anime Harem Ecchi Terbaik Yang Dijamin Mantab! | 2016