OS-Brain Bab 14: Apa Ini?!

Di sisi lain, Nui sedang menyalin semua jawaban yang sudah dia kerjakan. Tidak sulit bagi Nui untuk mencari ‘ingatan’ tadi pagi, dia hanya perlu menyortirnya berdasarkan tanggal di fitur Cari.

‘Setelah selesai aku perlu memeriksanya sekali lagi, siapa tahu ada kesalahan yang tidak sengaja aku buat.’

Tangan Nui tidak berhenti menulis, dari luar dia terlihat seperti orang jenius yang bisa menghitung dengan cepat atau memiliki ingatan yang luar biasa, namun yang dia lakukan hanyalah menyalin jawaban yang sudah dia kerjakan.

‘Tapi saat aku melihat soal dan jawaban ini, aku merasa semuanya tidak sesulit saat pertama kali aku melihatnya, aku tahu logika di balik soal ini dan bahkan berhasil menemukan dua cara lain untuk menyelesaikannya.’ Pikir Nui saat memeriksa jawaban yang sudah selesai dia salin.

Namun walaupun dia menemukan dua cara baru untuk mengerjakan soal nomor 3, dia tidak berniat mengubah cara yang dia gunakan.

Saat dia memeriksa jawabannya dan yakin kalau tidak ada yang salah, Nui melirik ke arah pak Murhadi yang belum menemukan soal yang cocok untuk Nui.

 ‘Sepertinya masih ada waktu sebelum pak Murhadi menemukan soal yang cocok untukku, kalau begitu sebiaknya aku juga tulis jawaban untuk nomor 10.’

Nui tidak butuh waktu lama untuk menemukan file soal dan jawaban nomor 10, dia kemudian menulis soal dan jawabannya hanya dalam waktu kurang dari satu menit, soal nomor 10 pendek dan jawabannya juga pendek, jadi Nui tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikan soal ini.

Setelah selesai Nui kembali melirik ke pak Murhadi, ‘Masih belum ketemu juga? Kalau begitu sekalian saja aku jawab semua soal tadi.’

Nui kemudian mencari file gambar tiap soal yang dia lihat tadi pagi dan mulai mengerjakannya.

‘Nomor 1 ini agak rumit, namun anehnya tidak serumit soal nomor 3. Malahan, soal nomor 3 ini jauh lebih sulit dari nomor 1. Apa mungkin soal nomor 3 ini adalah soal yang paling sulit?’

Saat melihat soal ujian saringan untuk olimpiade matematika tadi pagi, Nui berpikir kalau soal nomor 3 adalah yang paling mudah, namun sekarang Nui sadar kalau soal nomor 3 adalah soal yang ‘terlihat’ paling mudah namun pada kenyataannya adalah soal yang paling rumit.

Senyum mulai mengembang di wajah Nui.

‘Jika soal yang paling sulit saja bisa aku kerjakan, maka soal lain harusnya juga bisa aku kerjakan! Aku awalnya khawatir tidak bisa mengerjakan soal yang lain, namun sepertinya rasa khawatirku ini percuma saja.’

Dengan senyum di wajahnya dia menyalin soal di ‘ingatannya’ ke kertas yang ada di depannya dan mulai mengerjakan tiap soalnya dengan mudah.

‘Hahahaha.’ Nui tertawa di dalam hati. ‘Ini benar-benar menyenangkan. Ini pertama kalinya aku merasa senang saat mengerjakan soal.’

Semalam Nui sempat mengerjakan beberapa soal, dan dia senang karena bisa mengerjakan soal tersebut. Namun kali ini perasaan berbeda muncul di hati Nui, dia tidak senang karena berhasil mengerjakan soal tersebut, namun justru senang karena mengerjakan soal di depannya.

Awalnya dia senang dengan ‘hasil’, namun sekarang dia senang karena ‘proses’.

Nui pernah mendengar ada beberapa orang yang melakukan hobi yang tidak berguna seperti balapan liar, orang-orang ini biasanya tidak peduli dengan uang hasil balapan liar, namun mereka senang karena bisa ‘balapan’. Nui awalnya tidak mengerti dengan pemikiran mereka, jika yang mereka butuhkan adalah uang maka ada banyak pekerjaan yang bisa mereka lakukan. Namun sekarang Nui mengerti dengan orang-orang tersebut.

Tangan Nui tidak berhenti sampai akhirnya 3 lembar kertas yang diberikan pak Darma mulai terisi penuh.

‘Di sini aku cuman perlu mengalikan nilai n ke sini, kemudian membaginya di sini, dan ... melakukan ini ... selesai.’

Nui meletakan pulpennya dan melihat jawaban yang dia tulis. Nui mengangguk dengan puas dan memalingkan wajahnya ke pak Darma, “Aku selesai.”

“Selesai?” tanya pak Darma, dia menarik nafasnya dan berkata, “Sebelumnya aku mau bertanya padamu, namamu Nui kan? Dan saat di ujian saringan tadi pagi, kamu hanya mengerjakan dua soal?”

 “Begitulah,” jawab Nui sambil mengangguk.

“Lalu kenapa kamu membutuhkan 3 lembar kertas bolak-balik untuk menulis semuanya? Setahuku, jawabanmu sebelumnya hanya satu lembar saja.”

“Ah itu,” Nui melirik ke arah pak Murhadi, “Karena pak Murhadi belum selesai aku sekalian mengerjakan semua soal di paket soal E.”

Mendengar ini pak Darma kaget, “Semua soal? Maksudmu dari soal nomor 1 sampai 10? Hanya dalam waktu kurang dari 5 menit?”

Semenjak pak Murhadi sibuk mencari soal yang tepat untuk Nui, baru 5 menit terlewati, Nui kaget karena waktu berjalan lebih lambat dari yang dia kira. Dan jika dipikir-pikir, seseorang mengerjakan 8 soal matematika yang lumayan sulit (terlebih ini essay) dalam waktu kurang 5 menit memang agak susah dimengerti, jadi Nui mengerti kenapa pak Darma kaget.

“Emm,” Nui berpikir sebentar dan berkata, “Sebenarnya setelah ujian saringan tadi pagi, aku mencari buku referensi untuk mengerjakan sisa soal yang belum sempat aku kerjakan, jadi sekarang aku bisa mengerjakannya dengan mudah.”

Nui berbohong, dan karena kebohongannya ini kemungkinan 8 soal yang dia kerjakan barusan tidak bisa dinilai, karena jika dilihat dari sudut pandang pak Darma, Nui curang. Dia keluar dari ruang ujian dan mengerjakan soalnya dengan bantuan buku referensi. Namun jika Nui berkata jujur maka Nui akan lebih dicurigai, Nui sudah bisa membayangkan pak Murhadi yang berteriak padanya, kemungkinan dia akan berkata kalau Nui tidak mungkin bisa mengerjakan 8 soal yang sulit ini dalam waktu kurang dari 5 menit.

‘Namun jika dipikir-pikir, bukankah pak Murhadi tetap akan mencurigaiku? Maksudku, dia mungkin saja akan berkata, ‘Kamu pasti curang! Ini pasti bukan jawabanmu yang tadi!’ dan mengatakan kalau bukan aku yang mengerjakan soal nomor 3 ini. Sepertinya apa pun yang aku lakukan, soal yang aku kerjakan ini tidak akan dinilai.’

Pak Darma menjawab, “Begitu, tidak heran kamu bisa mengerjakannya dengan mudah. Namun aku memujimu, kamu punya ingatan yang bagus.”

“Ah, terima kasih.” Nui tersenyum ke pak Darma, dan tidak lama pandangannya kembali ke tiga lembar kertas yang ada di tangannya, “Karena aku mengerjakan ini di luar waktu dan ruang ujian, maka otomatis ini tidak bisa dinilai kan?” tanya Nui sambil berharap pak Darma mau menerima jawaban yang sudah susah payah dia tulis.

“Sejujurnya, apa pun yang kamu tulis pak Murhadi tidak akan mau melihatnya. Kamu sudah membuat dia kesal, dan butuh keajaiban agar dia mau menilai hasil ujianmu.” Jawab pak Darma.

“Begitu, kalau begitu aku akan menyimpan ini sebagai kenang-kenangan.” Pengalamannya hari ini sangat luar biasa, dan sebagai pengingat kalau dia merasa senang saat mengerjakan soal, maka dia berniat menyimpan tiga lembar kertas yang ada di tangannya.

Pak Darma tidak segera menjawab perkataan Nui, dia diam beberapa detik dan mulai melihat ke kanan dan kiri. Tidak lama kemudian dia mendekatkan wajahnya ke Nui sambil berbisik, “Sebenarnya orang yang harusnya menilai hasil ujian saringan hari ini bukan pak Murhadi, melainkan pak Reno, namun karena pak Reno pergi, maka dia menyerahkan tanggung jawabnya ke pak Murhadi, aku bisa menyimpan jawabanmu dan menyerahkannya ke pak Reno, karena bagaimana pun aku ketua panitia untuk olimpiade besok.”

Nui tersenyum dan segera menyerahkan jawabannya ke pak Darma.

“Namun seperti yang kamu ketahui, kemungkinan besar hasil ujianmu akan dianulir oleh pak Reno karena kamu mengerjakannya di luar waktu dan tempat ujian. Namun aku akan berusaha membujuk pak Reno. Pak Murhadi tidak menilai ujianmu, jadi jika dilihat dari sudut pandang lain, kamu tidak bisa digagalkan oleh beliau.”

Nui tersenyum dengan lebar dan berkata, “Terima kasih,” ke pak Darma. Sekali lagi harapan Nui kembali terbuka.

 “Sama-sama.”  Jawab pak Darma.

Pak Darma segera menyimpan tiga lembar kertas jawaban Nui di mejanya dan duduk dengan wajah serius, tidak lama kemudian pak Murhadi berteriak dengan wajah yang terlihat bahagia.

“Ini dia, aku menemukannya!”

Dia melihat Nui dan berkata, “Bersiaplah untuk bersujud padaku!”

###

Nui duduk di depan meja pak Murhadi, sedangkan pak Murhadi sibuk menyalin soal yang dia anggap bisa membuat Nui bersujud di sebuah kertas kosong, wajah pak Murhadi terlihat senang, seperti dia baru menang lotre yang hadiahnya dua miliar. Senyumnya yang lebar ini terkesan kurang cocok dengan wajahnya yang sedikit sangar.

“Ini kesempatan terakhirmu,” kata pak Murhadi ketika berhenti menulis di kertas kosong tersebut, “Apa kamu tidak mau minta maaf padaku? Jika kamu mau minta maaf dan bersujud padaku, aku akan melupakan masalah ini.” tanya pak Murhadi dengan wajah yang seram.

‘Bersujud pada pak Murhadi dan minta maaf kah? Aku pikir itu terlalu berlebihan, namun entah kenapa aku juga berpikir kalau aku memang berlebihan.’ Pikir Nui.

Untuk pak Murhadi harga diri adalah segalanya, jadi tidak mungkin dia membiarkan orang yang melukai harga dirinya pergi begitu saja, di sisi lain, Nui sudah membuang harga dirinya, jika harga diri akan membuat Nui terbunuh, maka Nui lebih memilih untuk membuang harga diri tersebut, jika harga diri akan membuat susah ibunya, maka dia akan dengan senang hati bersujud di depan pak Murhadi.

‘Namun jika aku minta maaf sekarang, maka pak Murhadi akan melupakan kejadian ini. Aku tidak mau itu, aku ingin dinilai dan bisa masuk ke SMA Fajar Biru.’

Nui kemudian menatap pak Murhadi dan berkata, “Taruhan tetap taruhan,” kata Nui dengan wajah serius, “Jika aku tidak bisa mengerjakan soal ini aku akan minta maaf dan bersujud pada bapak.”

Mendengar ini wajah pak Murhadi kembali memerah namun dia tidak berteriak, pak Murhadi malah melemparkan kertas yang ada di tangannya ke wajah Nui.

“Kerjakan ini dan tutup mulutmu!” teriak pak Murhadi, “Waktumu 30 menit!”

Nui kemudian mengambil kertas yang ada di depannya dan mulai membuka matanya dengan lebar,  ‘Apa ini?!’

Kejadian yang sering terjadi kembali terulang. Nui sama sekali tidak mengerti dengan soal yang ada di tangannya!

Postingan populer dari blog ini

[Jangan Liat] 37+ Anime Hentai Terbaik Yang Seharusnya Tidak Kamu Tonton!

41 Anime Harem Ecchi Terbaik Yang Dijamin Mantab! | 2016