OS-Brain Bab 19: Ibu Nina

Pak Murhadi berjalan ke arah Nui dan menggeledah pakaian Nui, namun tidak ditemukan apa-apa di sana.

“Aku tidak curang,” jawab Nui, “Aku kebetulan pernah membaca soal ini.”

 “Apa katamu?!” Tanya pak Murhadi, “Kamu pernah membaca soal ini?! Di mana?!”

“Di toko buku,” jawab Nui.

Keadaan Nui yang sekarang buruk, dia dituduh curang oleh pak Murhadi, namun keadaan ini tidak seburuk saat Nui melihat soal yang sama sekali dia tidak mengerti, yang perlu dia lakukan hanya satu, yaitu: ‘Aku hanya tinggal membuktikan kalau aku tidak curang.’

Nui berada di posisi yang menguntungkan, dan dengan mudah menemukan cara untuk membalikkan tuduhan pak Murhadi.

Nui melihat ke arah pak Murhadi dan berkata, “Bapak adalah seorang pendidik, jadi aku yakin bapak tahu kalau seorang guru adalah suri tauladan bagi generasi muda, tapi apa bapak tahu kalau fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan?”

Mendengar ini Pak Murhadi kembali mengepalkan tangannya, namun Nui tidak berhenti, “Di buku yang bapak pegang barusan, halaman 112, paragraf kedua, ada soal yang bapak berikan padaku, dan di halaman 113 tertulis rumus, cara mengerjakan dan jawaban soal tersebut. Aku tidak sengaja pernah melihat soal ini dan mengingat jawabannya.”

Pak Murhadi kaget dengan apa yang dia dengar, dia mengambil buku itu dari laci mejanya dan segera membuka halaman 112.

“Saat aku melihat soalnya, aku merasa pernah melihat soal itu di suatu tempat, namun aku perlu berusaha mati-matian untuk mengingatnya, bapak melihat aku yang bahkan menangis karena berusaha mengingat jawaban ini kan? Lalu kenapa bapak menuduhku curang? Jika memang aku mau curang, aku tidak akan pura-pura menangis.”

Pak Murhadi tidak menanggapi perkataan Nui, namun wajahnya terlihat kaget karena memang soal yang diujikan pada Nui ada di halaman 112, dan jawabannya ada di halaman 113.

“Ba-bagaimana mungkin?!” Kata pak Murhadi dengan wajah yang kaget namun penuh amarah.

###

Pak Murhadi adalah orang yang arogan, dia tidak akan membiarkan dirinya diinjak-injak oleh orang lain, dia tidak memiliki bukti kalau Nui curang, dan dia berada di posisi yang tidak menguntungkan, terlebih, fakta tentang Nui yang tahu ada di halaman berapa soal ini membuktikan kalau dia memang pernah membaca buku ini dan mengingat isinya.

‘Sial!’ Pikir pak Murhadi, ‘Bahkan aku yang sudah 3 bulan memegang buku ini tidak ingat ada di halaman berapa soal barusan!’

Namun pak Murhadi adalah guru yang profesional, walaupun dia marah dia masih bisa berpikir dengan lancar, ‘Melihat dari hasil ujian saringan anak ini, dia tidak mungkin bisa mengerjakan soal ini! Namun nyatanya dia bisa, itu artinya dia memang ingat dengan soal ini atau cuman beruntung karena bisa mengingat soal ini!’

Seketika ingatan Nui yang air matanya menetes diingat oleh pak Murhadi, dalam waktu 30 menit, sebagian besar waktu yang dipakai oleh Nui adalah diam, melihat soal itu, bengong dan menangis, hanya di saat-saat terakhir Nui bisa mengerjakan soalnya.

‘Apa mungkin saat itu dia memang berusaha mengingat jawaban soal ini?’

Sebuah rencana untuk menggagalkan Nui muncul di kepala pak Murhadi, ‘Aku tidak akan membiarkan dia lulus! Aku menolak untuk membuat dia lulus! Aku akan kehilangan harga diriku jika meluluskan dia, dan saat itu terjadi semua orang akan menginjak-injak harga diriku!’

Pak Murhadi dengan sifatnya yang arogan memiliki banyak musuh, namun semua musuhnya tidak berani melakukan sesuatu ke pak Murhadi, karena walaupun dia arogan, dia punya alasan untuk bersikap arogan, dia adalah guru veteran yang sudah mengajar lebih dari 20 tahun dan karirnya mulus seperti kulit bayi. Dia tidak akan membiarkan harga diri yang sudah dia tempa selama 20 tahun diinjak oleh anak berumur 15 tahun!

‘Jadi dia hanya mengingat soal dan jawabannya kan? Artinya dia tidak mengerti dengan soalnya dan hanya mengandalkan ingatan!’

“Jadi kamu mengerjakannya dengan cara mengingatnya? Bukan karena kamu memahaminya?!” Pak Murhadi kemudian mengambil sebuah pulpen merah dan menulis angka 0 besar di kertas ujian Nui.

“Segera pergi dari sini!” Tambah pak Murhadi sambil melemparkan lembar jawaban itu ke Nui.

Semua orang kaget dengan apa yang pak Murhadi lakukan, sebelumnya dia bilang jawabannya sempurna, namun sekarang dia memberikan nilai 0 pada jawaban sempurna itu.

“A-apa maksud bapak? Kenapa bapak memberiku nilai 0? Jika aku memang curang tolong buktikan kalau aku curang!” Kata Nui dengan wajah yang serius.

“Bukankah tadi aku mengatakannya? Kalau kamu bisa mengerjakan ujian ini maka kamu layak untuk mengikuti olimpiade besok.”

Nui dan semua orang di ruangan ini mengangguk, kecuali Lani, karena dia tidak tahu tentang hal ini.

“Dan kamu bilang kamu ‘kebetulan’ pernah membaca soal ini kan? Kamu menulis jawabannya berdasarkan ingatan ini, dan beruntungnya kamu benar.”

Semua orang kembali mengangguk.

“Karena itu kamu tidak layak mengikuti olimpiade besok!” Pak Murhadi berbicara sambil menunjuk Nui.

“Kamu ‘kebetulan’ mengingat soal ini, dan ‘kebetulan’ ingat jawabannya, kamu sangat beruntung, aku akui itu, namun apakah kamu akan beruntung dan ‘kebetulan’ mengingat 50 soal dan jawaban untuk olimpiade matematika besok!? Jadi aku tanya padamu, apa orang yang hanya beruntung layak untuk mengikuti olimpiade matematika besok?!”

Pak Murhadi tersenyum di dalam hatinya, dia membalikkan perkataan Nui untuk menggagalkannya, walaupun perkataan pak Murhadi ini tidak beralasan, cara dia mengatakannya membuat semua orang tidak mau berdebat dengannya.

Dilihat dari sudut mana pun, Nui harusnya bisa mengikuti olimpiade besok, dia berhasil mengerjakan soal yang diberikan pak Murhadi, dan pak Murhadi juga sudah berjanji jika Nui bisa mengerjakan soalnya maka dia akan bisa mengikuti olimpiade besok, bahkan bisa masuk ke SMA Fajar Biru.

‘Jika dia bisa membalikkan perkataanku barusan, aku hanya perlu mengatakan kalau ujian ini tidak resmi, jadi hasilnya tidak menentukan apa-apa!’

“Apa maksud bapak?” Tanya Nui, “Aku gagal karena kebetulan bisa mengingat jawabannya? Bukannya ini tidak beralasan? Bapak bilang kalau aku bisa mengerjakannya bapak akan membiarkanku ikuti olimpiade besok dan masuk SMA Fajar Biru, dan seperti yang bapak lihat,” Nui memperlihatkan jawaban yang barusan dilemparkan oleh pak Murhadi, “Aku. Berhasil. Mengerjakan. Soal. Ini!” Tiap kata yang Nui sebutkan bernada agak keras. Membuat pak Murhadi ingin menampar anak yang pakaiannya lusuh ini!

Pak Murhadi ingin berteriak, sampai akhirnya suara langkah kaki mendekat ke arah mereka, suara langkah kaki ini tidak spesial, namun karena keadaan di ruang guru terlalu tegang, maka suara langkah kaki ini membekukan ketegangan di ruangan ini.

Tidak lama seorang guru melewati pintu masuk, dia seorang perempuan, umurnya kurang lebih 25 tahun, usia yang bisa dibilang muda untuk ukuran guru SMA, dia memakai sepatu hak tinggi berwarna hitam, memakai rok selutut dan jas hitam yang di dalamnya terdapat kemeja putih, rambutnya panjang sepunggung, dan dia memakai kaca mata.

Saat masuk, guru ini kaget karena banyak orang yang berkumpul di satu tempat, dia juga agak bingung karena semua orang tiba-tiba melihat ke arahnya.

Namun pak Murhadi segera meruntuhkan ketenangan ini dengan kembali berteriak ke Nui, “Keluar dari ruangan ini dan jangan pernah muncul kembali di hadapanku! Aku bisa anggap kejadian ini tidak terjadi!”

“Tapi bagaimana dengan olimp-”

“Kamu gagal! Dan kamu tidak berhak mengikuti olimpiade besok!” Potong pak Murhadi

“Tapi kan-”

“Ujian yang kamu lakukan barusan tidak resmi! Jadi hasilnya juga tidak resmi! Bahkan saat kamu belum datang ke ruangan ini, kamu sudah gagal!” Teriak pak Murhadi sambil menunjuk Nui dari dekat.

“Dengan mengatakan itu, artinya bapak menarik ucapan bapak sebelumnya, bapak menjilat kembali ludah yang sudah bapak buang!” Nui mengatakan itu dengan nada provokasi.

‘Anak ini! Dia bermain-main denganku!’ Pikir pak Murhadi.

###

Nui sendiri berharap kalau pak Murhadi akan kembali termakan oleh provokasinya, Nui tidak memiliki banyak pilihan karena dia mengatakan kalau ujian yang dimulai sekitar 30 menit yang lalu itu tidak resmi.

‘Sialan! Aku tidak menyangka pak Murhadi akan se-ekstrem ini, setinggi apa harga dirinya sampai dia mau melakukan hal seperti ini?!’

Nui mengepalkan tangannya dengan keras.

‘Aku harus memikirkan sesuatu!”

Namun saat Nui berpikir ada suara seseorang yang menggema di ruangan ini, “Ada ... apa ini?” Tanya guru perempuan yang barusan masuk ke ruang guru, wajahnya terlihat canggung, namun dia memaksakan diri untuk bertanya.

“Ibu Nina,” Pak Darma melihat ke arah guru yang namanya ibu Nina ini, dia mendekat ke ibu Nina dan menjelaskan semua yang terjadi.

Beberapa saat kemudian ibu Nina memasang wajah yang seolah berkata, “Oh, begitu, aku mengerti.” Dan kemudian berbicara, “Pak Murhadi, boleh aku bicara sebentar?”

“Apa?!” Tanya pak Murhadi dengan wajah yang sangar.

“Aku adalah guru baru di sini, jadi sebelumnya aku minta maaf jika berbicara tidak sopan pada bapak.”

Pak Murhadi tidak menjawab perkataan ibu Nina, jadi ibu Nina melanjutkan perkataannya, “Bapak ingat pembicaraan kita tadi pagi kan? Bapak bilang SMA Fajar Biru adalah salah satu sekolah terbaik di Indonesia, lulusan atau yang bapak sebut ‘output’ dari SMA Fajar Biru adalah anak yang terbaik. Dan bapak yang bilang sendiri, SMA Fajar Biru menerima para ‘input’ yang terbaik--murid cerdas dan yang luar biasa, namun saat sekarang ada anak yang layak masuk ke SMA Fajar Biru, bapak malah mengusirnya.”

Ibu Nina berbicara dengan halus, namun tiap perkataan ibu Nina itu menyayat tiap daging di tubuh pak Murhadi, “Guru baru sepertimu tahu apa?!” Teriak pak Murhadi, “Anak ini memiliki otak seperti tahu! Dia tidak masuk kriteria cerdas atau luar biasa! Bukannya kamu juga melihat hasil ujian saringan anak ini?!”

Ibu Nina mengangguk, “Tapi bapak tidak melihat hasil ujian saringan olimpiade anak ini kan?”

Perkataan ini membuat pak Murhadi makin marah, sekarang dia merasa kalau musuhnya bertambah satu. Namun sebelum pak Murhadi sempat bicara, dia malah mengarahkan pandangannya ke Nui, “Aku ingin melakukan tes sederhana, apa kamu mau melakukannya?”

“Tes sederhana?” tanya Nui, “Tes seperti apa.”

“Hanya perkalian, apa kamu mau melakukannya?”

“Tentu saja!” Jawab Nui, namun tentu saja-

“Aku tidak setuju!”

-Pak Murhadi tidak mau Nui beralama-lama di sini.

Ibu Nina mengarahkan pandangannya ke pak Murhadi dan berkata, “Aku sangat menghormati bapak, jadi aku minta maaf sebelumnya karena aku ingin melakukan tes kecil pada anak yang namanya Nui ini, pak Darma bilang kalau bapak melakukan tes yang bapak bilang tidak resmi kan? Tes pribadi yang tidak memengaruhi apa-apa? Aku juga ingin melakukan itu. Karena bapak bisa melakukannya, artinya aku juga bisa kan?”


===

Di mana bagian action-nya? Well, belum ada kesempatan untuk itu, namun action-nya akan dimulai setelah Nui menyelesaikan semua urusannya di SMA Fajar Biru. Hint: Ada yang ingat kalau si perampok bank yang menabrak Nui di Bab 1 masih berkeliaran?

Postingan populer dari blog ini

[Jangan Liat] 37+ Anime Hentai Terbaik Yang Seharusnya Tidak Kamu Tonton!

41 Anime Harem Ecchi Terbaik Yang Dijamin Mantab! | 2016