OS Brain Bab 20: Aku Membuangnya Ke Tempat Sampah!

Pak Murhadi untuk pertema kalinya tidak membalas perkataan seseorang. Pak Murhadi tidak punya hak untuk menghentikan ibu Nina karena dia sendiri mengadakan ‘tes pribadi’. Jadi pak Murhadi diam dan tidak mengatakan apa-apa.

Karena pak Murhadi diam, ibu Nina menganggap kalau dia tidak keberatan, dia bertanya pada Nui, “Pak Darma memujimu karena memiliki ingatan yang bagus, dan dia juga yakin kalau kamu pandai dalam matematika, jadi perkalian tidak menyulitkanmu kan?”

Nui mengangguk.

“Bagus, kalau begitu mari mulai dari yang mudah, berapa hasil dari 27 x 86?”

“Dua ribu tiga ratus dua puluh dua.” Jawab Nui secara refleks. Dia tidak butuh waktu lebih dari satu detik untuk menjawabnya. Nui kaget karena otaknya berjalan dengan sendirinya!

Sehari yang lalu perkalian adalah sesuatu yang membuat Nui menggaruk kepalanya karena stress, jika dia adalah Nui yang dulu dia butuh waktu beberapa saat untuk mendapatkan hasilnya, ditambah, Nui tidak akan bisa mengerjakannya jika dia tidak memegang pulpen dan kertas.

 Mendengar ini pak Darma dan Lani agak kaget, sedangkan pak Murhadi hanya mendengus, namun ibu Nina tersenyum, dia mengambil kalkulator dari salah satu meja guru dan menekan beberapa tombol di sana, tidak lama kemudian senyuman ibu Nina makin lebar.

 “Lumayan, kamu benar.” kata ibu Nina dengan senyumannya, “Dari sini akan lebih sulit, kamu boleh berpikir beberapa saat sebelum kamu menjawabnya, siap?” Nui kembali mengangguk, “Bagaimana kalau 76 x 92”

“Enam ribu sembilan ratus sembilan puluh dua.” Sekali lagi Nui menjawabnya dengan cepat, dari luar dia sama sekali tidak terlihat berpikir.

Ibu Nina mengecek hasilnya dan kembali tersenyum, “Jawabanmu benar.”

Perkalian bukanlah hal yang istimewa, semua orang bisa melakukannya, namun menjawab perkalian hanya dalam waktu kurang dari 1 detik memanglah luar biasa. Nui tahu ada banyak trik untuk melakukan perkalian, namun kali ini dia tidak perlu melakukan semua trik tersebut, jawabannya tiba-tiba muncul di kepalanya.

“Kalau 127 x 64?”

“Delapan ribu seratus dua puluh delapan!” Jawab Nui dengan senyum di wajahnya.

“321 x 147?”

“Empat puluh tujuh ribu seratus delapan puluh tujuh.” Jawab Nui secara refleks.

Wajah pak Darma dan Lani makin terlihat kaget, sedangkan senyuman ibu Nina mulai hilang, ekspresi ibu Nina berubah menjadi kaget. “3278 x 6758!”

Ibu Nina sedikit menaikkan nadanya saat melontarkan pertanyaan itu, namun sama seperti sebelumnya, Nui menjawab pertanyaan tersebut tanpa ada jeda sedikit pun. “Dua puluh dua juta seratus lima puluh dua ribu tujuh ratus dua puluh empat!”

“9327 x 7987!”

“Tujuh puluh empat juta empat ratus sembilan puluh empat ribu tujuh ratus empat puluh sembilan!”

Mendengar ini semua orang kaget, pak Murhadi membuka mulutnya dengan lebar, pak Darma membuka mulutnya dengan lebar, Lani membuka mulutnya dengan lebar dan ibu Nina juga sangat terkejut sampai keringat mulai mengalir dari keningnya.

Namun di antara semuanya Nui adalah yang paling kaget!

‘Uwwoh! Ini mukjizat, semua angka itu tiba-tiba muncul di kepalaku!’

Ibu Nina yang masih kaget kemudian berpura-pura batuk dan kembali bertanya, “Kalau 7658 dibagi 3478?” Ibu Nina tiba-tiba mengubah pertanyaannya menjadi pembagian, Nui tidak tahu apa yang dipikirkan ibu Nina sekarang namun Nui menjawab.

“Dua koma dua nol satu delapan empat nol satu tiga delapan nol satu nol tiga lima satu!”

Semua orang kembali kaget, mulut pak Murhadi terbuka lebar sampai dua buah telur bisa dimasukan ke dalamnya, pak Darma kaget dengan mata yang menatap Nui, namun Nui merasa kalau dia memandang ke kejauhan, sedangkan Lani merasa kakinya lemas dan tanpa sadar jatuh terduduk di atas lantai.

“Semua jawabanmu benar,” kata ibu Nina yang terlihat sangat kaget, matanya terbuka dengan lebar, dia mengusap keringat di keningnya dan berkata, “Katakan, apa saat ujian penerimaan siswa kamu sakit, atau ada sesuatu yang terjadi padamu sampai akhirnya kamu tidak bisa menulis jawaban yang benar?”

“A-aku,” Nui segera mencari alasan untuk menjawab pertanyaan ibu Nina, “Sebenarnya, aku belajar non stop sebulan sebelum ujian dimulai.” Nui jujur, karena memang dia belajar selama sebulan penuh, namun dari cara Nui bicara, dia terkesan belajar tanpa istirahat, semua orang yang mendengar perkataan Nui berpikir kalau Nui belajar non-stop dan hanya tidur beberapa jam dalam sehari.

Ibu Nina berusaha mencerna perkataan Nui dan kemudian berkata, “Begitu, mungkin itu sebabnya semua jawabanmu jawabanmu salah? Seperti salah menggunakan rumus, salah menghitung dan lain-lain, mungkin kamu berhalusinasi saat mengerjakan ujian!”

Ibu Nina sudah melihat jawaban Nui, dan dari jawaban terebut, ibu Nina tahu kalau saat mengerjakannya Nui tidak main-main, namun kebanyakan jawabannya melenceng dari soal, kadang dia menggunakan rumus yang salah, dan kadang jawabannya sama sekali tidak berhubungan dengan soal, ibu Nina berpikir, dengan otak seperti ini, mana mungkin dia gagal di ujian matematika? Karena itu dia mencari alasan yang logis tentang kegagalan Nui, walaupun jika dilihat dari sudut pandang lain, alasan logis itu sama sekali tidak logis.

Nui tidak menjawab apa-apa, dia ingin mengatakan kalau ‘Aku sebenarnya memang tidak bisa mengerjakan soalnya.’ Namun memutuskan untuk diam karena situasinya mendukung Nui. Nui akan membiarkan ibu Nina untuk berpikir seperti itu.

Pak Murhadi yang dari tadi diam membatu mulai bicara, “Namun gagal tetaplah gagal!”

Beberapa saat yang lalu pak Murhadi masih kaget, dia sadar kalau anak ini tidak sesederhana yang dia bayangkan. Namun Nui adalah anak yang menantang pak Murhadi, jadi pak Murhadi tidak akan melepaskannya begitu saja, “Di ujian penerimaan siswa baru kamu gagal! Salahmu sendiri karena tidak menjaga kesehatan!”

Pak Murhadi mendengus dan meneruskan perkataannya, “Nilaimu satu digit di ujian penerimaan, dan apa pun yang kamu lakukan tidak akan mengubah hasilnya!”

“Tapi pak Murhadi, anak ini-”

“Diam!” Kata pak Murhadi memotong perkataan ibu Nina. “Dia tidak bisa masuk ke SMA Fajar Biru!”

Semua orang di ruangan ini tahu kalau pak Murhadi hanyalah seorang guru, dia tidak punya hak untuk menolak dan menerima murid ke SMA Fajar Biru, namun dia adalah senior di sini, jadi tidak ada orang yang mau membantah perkataannya, apalagi dengan wajah pak Murhadi yang terlihat sangat seram.

Normalnya pak Darma juga tidak akan berani untuk bicara, namun sekarang dia berani bicara! “Tapi setidaknya, dia punya hak untuk mengikuti olimpiade besok!”

Pak Darma mengatakan itu dengan wajah yang serius, semua orang tahu kalau pak Darma adalah guru yang tidak suka hal yang merepotkan, namun saat dia memutuskan melakukan sesuatu, dia akan melakukannya dengan sempurna dan sepenuh hati. Dari wajahnya, pak Darma berniat membantu Nui sampai titik darah penghabisan.

“Tidak, dia tidak bisa mengikuti olimpiade besok!” Teriak pak Murhadi sambil menunjuk ke arah pak Darma, “Aku yang diberi amanah pak Reno untuk menilai hasil ujian saringan hari ini! Dan aku yang memutuskan kalau anak ini-” Pak Murhadi menunjuk ke arah Nui, “Tidak akan bisa mengikuti olimpiade besok!”

“Tapi ketua penyelenggara olimpiade besok adalah aku!” Teriak pak Darma, “Jadi aku punya hak untuk membiarkan anak ini mengikuti olimpiade besok!”

“Kamu tidak memiliki hak untuk itu! Kamu baru mengurus satu olimpiade matematika dan sikapmu sudah selangit! Aku sudah menyelenggarakan olimpiade ini selama 13 kali!” Wajah pak Murhadi kembali memerah, namun kali ini kemarahannya bukan diarahkan ke Nui, melainkan ke pak Darma.

“Tapi tahun ini aku ketuanya!” Jawab pak Darma sambil berteriak, “Jadi bapak tidak punya hak untuk melarang anak ini mengikuti olimpiade besok!”

Mendengar ini pak Murhadi mengepalkan tangannya, bibirnya membentuk bulan sabit yang mengarah ke bawah dan alisnya naik karena marah.

Pak Murhadi memang sadar kalau ketua olimpiade tahun ini adalah pak Darma, dia sadar posisinya sebagai ketua panitia olimpiade selama 13 kali tidaklah berarti di sini, namun dia masih punya sebuah kartu AS, kartu ini sebenarnya sudah dia keluarkan, namun ini alasan yang valid untuk menggalakan Nui.

“Apa pun yang kamu katakan-” Pak Murhadi berbicara dengan suara yang dalam, “Aku menggagalkan anak ini! Aku yang menilai hasil ujian saringan olimpiade matematika miliknya, dan nilainya nol.”

‘Tapi bapak tidak menilainya!” Teriak pak Darma.

“Aku menilainya!” Jawab pak Murhadi.

“Apa bapak pikir aku buta?!”

“Jaga perkataanmu!” Kata pak Murhadi sambil menunjuk pak Murhadi, “Inikah caramu bicara dengan orang tua?! Mana sopan santunmu?!”

Pak Darma mengepalkan tangannya dengan keras, dia berusaha keras menahan amarahnya. Dia tahu pak Murhadi adalah orang yang tidak mau kalah, namun dia baru tahu kalau sifat tidak ingin kalah pak Murhadi separah ini. Tadi, saat Nui datang ke ruang guru, dia jelas-jelas mengatakan kalau dia tidak menilai hasil ujian Nui.

“Lalu mana bukti kalau bapak menilainya?” Tanya pak Darma, “Perlihatkan padaku!”

Pak Murhadi diam sebentar dan melotot ke pak Darma, “Aku membuangnya ke tempat sampah! Pak Enim kemungkinan sudah membakar sampahnya sekarang!”

Pak Darma ingat beberapa saat yang lalu pak Enim membersihkan semua tempat sampah yang ada di kantor guru, ini membuat dia kesal, pak Darma merasa ingin berteriak!

Namun tiba-tiba dia ingat tentang tiga lembar kertas yang diberikan Nui setengah jam yang lalu. Pak Darma berniat untuk memperlihatkannya ke pak Murhadi, namun setelah memikirkannya beberapa saat, dia melupakan ide itu, pak Darma tahu kalau pak Murhadi akan menolak Nui habis-habisan, dia akan menganggap jawaban yang Nui tulis setengah jam yang lalu tidak sah karena dikerjakan di luar ruang dan waktu ujian.

Postingan populer dari blog ini

[Jangan Liat] 37+ Anime Hentai Terbaik Yang Seharusnya Tidak Kamu Tonton!

41 Anime Harem Ecchi Terbaik Yang Dijamin Mantab! | 2016