OS Brain Bab 21: Apa Itu Artinya Aku Boleh Ikut Olimpiade Besok?

Saat pak Darma masih berpikir, tiba-tiba seseorang memotong pembicaraan pak Darma dan pak Murhadi, suaranya kecil, dan dia mengatakannya sambil menunduk, dia jelas-jelas agak ketakutan saat melihat dua orang guru bertengkar di depannya.

“A-aku sebenarnya datang ke sini,” Lani menyodorkan secarik kertas ke pak Darma, “Untuk mengembalikan ini.”

Pak Darma mengambil secarik kertas yang diberikan Lani dengan wajah yang sedikit kebingungan, namun ekspresi kebingungan itu berubah menjadi ekspresi kaget yang beberapa detik kemudian menjadi ekspresi bahagia.

“I-ini kan?” Pak Darma melihat Nui dengan senyuman di wajahnya, “Ini hasil ujian saringanmu tadi pagi! Pak Enim belum membakarnya!”

###

Pak Darma awalnya berencana untuk menunggu pak Reno. Dia memiliki jawaban yang Nui tulis, dan berniat membujuk pak Reno untuk membiarkan Nui masuk ke SMA Fajar Biru—atau setidaknya membiarkan Nui mengikuti olimpiade matematika besok. Pak Darma merasa kalau Nui layak masuk ke SMA Fajar Biru, dan SMA Fajar Biru selalu menerima murid yang cerdas seperti Nui.

‘Nui bisa melakukan komputasi mental. Dia bisa mengkali dan membagi angka 4 digit dengan mudah. Itu artinya dia punya dasar yang kuat di bidang matematika. Belum lagi ingatannya sangat bagus, dia memerlukan sekolah, fasilitas dan guru terbaik agar kemampuannya bisa berkembang!’

Di tangan pak Darma sekarang adalah hasil ujian saringan Nui tadi pagi, kertasnya sedikit lusuh, namun soal dan jawabannya masih bisa dibaca dengan jelas.

Pak Darma melihat lembar jawaban Nui beberapa saat, dan senyum kembali merekah di bibirnya, sekarang pak Darma tidak perlu menunggu pak Reno, karena di tangannya ada hal yang bisa membuat pak Murhadi menutup mulutnya.

Pak Darma mengalihkan pandangannya ke pak Murhadi, “Anak ini layak mengikuti olimpiade besok.”

Pak Darma mengatakannya dengan nada yang lembut, dia tahu dia akan menang di perdebatan ini, karena itu dia tidak perlu berteriak.

“Aku tidak mengizinkannya!” Teriak pak Murhadi.

“Aku tidak memerlukan izin bapak,” jawab pak Darma, “Tujuan dari olimpiade besok adalah mencari anak yang berbakat dalam bidang matematika, sekaligus menjalankan tradisi yang sudah berlangsung selama 14 tahun. Olimpiade ini juga bukti kalau SMA kita adalah salah satu SMA terbaik di Indonesia, karena hanya yang terbaik saja yang mengikuti olimpiade yang kita selenggarakan.”

Pak Murhadi tidak bisa membantah perkataan pak Darma, karena pak Murhadi juga percaya kalau hanya anak terbaik saja yang bisa mengikuti olimpiade matematika di SMA Fajar Biru.

Namun pak Murhadi tidak diam, dia melihat pak Darma dengan tatapan yang tajam. “Aku setuju dengan ucapanmu, tapi anak ini,” dia mengalihkan pandangannya sebentar ke Nui, “Dia tidak layak mengikuti olimpiade besok!”

“Tidak layak apanya?” Jawab pak Darma sambil tertawa kecil, “Apa bapak ingat pembicaraan kita tadi pagi? Bapak berkata seperti ini, ‘Aku tidak bisa mengerjakan soal ini jika hanya diberi waktu 30 menit’, soal nomor 3 di paket soal E, soal yang bapak bilang terlihat mudah namun rumit.”

Saat Nui masuk ke ruang guru, dia bilang dia berhasil mengerjakan soal nomor 3 di paket soal E, namun pak Murhadi tidak percaya dengan perkataannya, begitu juga pak Darma, sampai akhirnya dia melihat Nui menyalin kembali jawabannya saat pak Murhadi masih sibuk mencari soal.

Saat itu pak Darma kaget dan sadar kalau Nui bukanlah anak yang sederhana, namun Nui berkata, “Setelah ujian saringan, aku mencari buku referensi untuk mengerjakan soal yang belum sempat aku kerjakan.”

Perkataan ini membuat pak Darma secara tidak sadar berpikir, ‘Mungkin, anak ini juga mencari referensi untuk soal nomor 3? Pak Murhadi saja tidak bisa mengerjakan soal nomor 3 dalam waktu setengah jam, jadi bagaimana mungkin anak ini bisa mengerjakannya dalam 30 menit? + satu soal lain?’

Namun pemikiran ini dipecahkan oleh lembar jawaban Nui.

Pak Darma tersenyum dan kemudian berkata, “Anak ini berhasil mengerjakan soal nomor 3 di paket soal E dalam waktu 30 menit + satu soal lain. Jika bapak saja tidak bisa mengerjakannya dalam waktu 30 menit, bukankah anak ini hebat karena bisa mengerjakannya? Jika anak ini tidak layak mengikuti olimpiade matematika besok, maka siapa yang layak?”

Pak Murhadi sedikit kaget dengan perkataan pak Darma, sekali lagi, seseorang membalikkan keadaan menggunakan perkataannya, pertama ibu Nina, sekarang pak Darma.

Namun pak Murhadi tidak gentar, dia berkata, “Aku hanya melebih-lebihkan perkataanku waktu itu! Semua orang bisa mengerjakan soal itu dalam waktu 30 menit!”

“Tapi aku tidak bisa,” jawab pak Darma.

“Itu karena kamu bukan guru matematika!” Teriak pak Murhadi.

“Tapi aku guru!” Jawab pak Darma sambil menaikkan nada bicaranya, “Jika aku bersaing dengan anak SMA untuk mengerjakan soal matematika, aku yakin bisa menang.”

Pak Murhadi mulai mengepalkan tangannya dengan keras, dia tidak bisa menjawab perkataan pak Darma!

Pak Murhadi tidak tahu apa yang harus dia lakukan, namun tubuhnya bergerak secara otomatis, dia menaikkan tangannya dan berusaha menampar pak Darma, namun dia berhenti karena di sudut pandangannya, ada seseorang yang berdiri dan melihat pak Murhadi dengan tenang.

Saat melihatnya, pak Murhadi kaget karena orang ini adalah kepala sekolah di SMA Fajar Biru!

“Pak Reno?”

Pak Reno berjalan dengan lembut sampai semua orang tidak sadar kalau dia datang, dia adalah kepala sekolah dan memiliki aura yang kuat, namun anehnya kali ini aura tersebut tidak bisa dirasakan siapa pun.

Pak Darma yang mendengar perkataan pak Murhadi berbalik dan melihat sosok yang wajahnya terlihat sangat ramah, dia terlihat sudah berkepala lima, namun semua orang tahu kalau pak Reno berumur 60 tahun.

“Ada apa ribut-ribut?” tanya pak Reno dengan suara yang lembut.

Pak Darma merasa kalau Nui sangat beruntung. Dengan hadirnya pak Reno di sini, maka kemungkinan Nui bisa mengikuti olimpiade besok cukup besar, ditambah, di sekolah ini hanya pak Reno yang bisa membungkam pak Murhadi.

‘Pak Murhadi bilang selama pak Reno tidak ada, maka keputusan ada di tangannya? Haha, tidak lagi, karena pak Reno ada di sini!’

Pak Murhadi menelan ludahnya, dia tahu kalau situasi sekarang benar-benar buruk. Namun wajah marahnya tidak hilang, malahan, wajahnya terlihat makin seram, namun wajahnya ini tidak ditujukan ke pak Reno. Dia mengalihkan wajahnya ke pemuda yang memakai pakaian yang agak lusuh. Di dalam hatinya, dia mengutuk Nui sampai tujuh turunan.

Nui juga ikut melihat ke pak Reno, dia tersenyum karena akhirnya dia bisa melihat pak Reno.

“Pak Reno, selamat siang.” Sapa Nui.

“Ah, Nui, apa tubuhmu tidak apa-apa?” Tanya pak Reno dengan senyuman di wajahnya.

“Tidak masalah, aku bisa menggerakkan badanku dengan leluasa, dan rasanya tidak ada yang salah pada tubuhku.”

“Begitu, syukurlah.” Jawab pak Reno, “Walaupun begitu, jika kamu merasa tidak enak badan sebaiknya kamu istirahat, karena walau bagaimana pun kemarin kamu tertabrak mobil yang melaju dengan kencang.”

“Terima kasih atas perhatian bapak.” Jawab Nui sambil memperlihatkan wajah yang penuh rasa hormat.

Kemarin adalah pertama kalinya Nui bertemu dengan pak Reno, dan setelah lumayan banyak mengobrol dengannya, Nui tahu kalau pak Reno adalah orang yang sangat baik.

“Tunggu, apa yang bapak bilang?” Percakapan Nui dan pak Reno dipotong oleh pak Darma, “A-anak ini yang kemarin tertabrak di depan sekolah kita?!”

Mendengar ini ibu Nina, Lani, pak Murhadi dan semua guru yang ada di ruang guru kaget. Mereka semua tahu kalau kemarin ada hal besar yang terjadi. Ada seorang anak yang tertabrak oleh perampok bank yang melarikan diri, dan kejadian ini terjadi di depan sekolah mereka.

Kejadian ini cukup heboh, karena banyak orang yang menyaksikan kejadiannya, mobilnya melaju dengan cepat—ada banyak orang yang mengatakan kecepatan mobilnya lebih dari 100 kilometer per jam, menabrak seorang anak yang baru keluar dari SMA Fajar Briu, anak yang ditabrak terpental cukup jauh, dan bahkan setelah mendarat di aspal, tubuhnya terseret beberapa belas meter sebelum akhirnya berhenti.

Banyak orang yang berpikir kalau kemungkinan besar anak ini meninggal atau minimal mengalami luka yang berat, namun Nui berdiri di sana tanpa luka sedikit pun, tidak hanya itu, bahkan anak ini sempat bertengkar dengan pak Murhadi.

Melihat banyak wajah yang kaget dan kebingungan pak Reno berkata, “Aku juga tidak mengerti dengan apa yang terjadi, bahkan dokter juga kebingungan.” Pak Reno berhenti sebentar, “Dan kalian juga tidak perlu bertanya apa aku salah orang, salah masuk ruangan, salah lihat dan lain-lain, karena Nui yang ada di sana itu adalah anak yang kemarin aku antarkan pulang dari rumah sakit.”

Semua orang berniat melontarkan pertanyaan ke pak Reno, namun sebelum mereka mengatakannya pak Reno sudah menjawabnya.

“Jadi,” Pak Reno melihat ke arah pak Darma dan pak Murhadi, “Boleh aku tahu apa yang terjadi di sini? Apa yang menyebabkan dua orang guru berdebat dengan heboh di sini?”

Pak Reno melirik ke Nui sebentar, dari wajahnya, dia tahu kalau penyebab semua ini adalah Nui, namun tetap memutuskan untuk bertanya.

Pak Murhadi mulai menggeritkan giginya, posisinya benar-benar tidak menguntungkan, jadi dia tidak berani bicara, walaupun pak Murhadi tidak menganggap pak Reno lebih baik darinya, pak Murhadi menghormati pak Reno sebagai kepala sekolah.

Pak Reno melihat pak Murhadi, namun karena tidak mendapatkan jawaban, dia mendaratkan wajahnya ke pak Darma. Pak Darma kemudian mendekat ke pak Reno dan kemudian menjelaskan semua yang terjadi hari ini. Mulai dari pak Murhadi yang tidak menilai hasil ujian Nui, Nui yang menantang pak Murhadi, tes yang diberikan pak Murhadi, Nui yang dianggap curang, bahkan tes yang diberikan oleh ibu Nina.

Setelah mendengar semuanya pak Reno mengangguk, ini menandakan kalau pak Reno sudah mengerti sepenuhnya dengan semua kejadian yang terjadi. Dia melihat ke arah Nui dan bertanya, “Nui, apa kamu ingat pembicaraan kita kemarin? Saat di mobil?”

Nui mengangguk. Saat di mobil pak Reno mengatakan kalau jalan lain masuk ke SMA Fajar Biru adalah lewat olimpiade matematika, dan pak Reno juga mengatakan kalau dia akan mencarikan Nui beasiswa. Namun Nui menolaknya, saat itu dia yakin kalau dia dicarikan beasiswa, maka dia akan gagal saat di tes. Beasiswa bukanlah hal yang murah, jadi orang yang memberikan beasiswa harus yakin kalau anak yang diberi beasiswa adalah anak yang layak mendapat beasiswa.

“Kemarin kamu menolak tawaranku untuk dicarikan beasiswa di SMA lain, saat itu kamu bilang tidak ingin merepotkanku karena kalau pun kamu di tes, kamu akan gagal.” Pak Reno diam sebentar dan melihat ke arah pak Darma, pak Darma secara refleks memberikan kertas ujian Nui ke pak Reno + tiga lembar kertas yang tadi dia simpan di mejanya.

Pak Reno melihatnya sebentar dan senyuman merekah di bibirnya, “Tapi apa sebenarnya ini? Kalau kamu pikir kamu tidak pantas diberi beasiswa, maka semua anak baru di SMA Fajar Biru tidak layak menerima beasiswa.”

Nui hanya tersenyum mendengar perkataan ini, Nui menggaruk kepalanya karena malu dipuji oleh pak Reno.

“Apa kamu mau masuk ke SMA Fajar Biru?” Tanya pak Reno dengan senyuman di wajahnya.

Nui mengangguk berkali-kali dengan keras. “Tentu saja aku mau!”

“Kalau begitu besok datanglah ke aula jam 8 tepat, jangan sampai telat, dan persiapkan dirimu untuk mengerjakan 50 soal essay yang akan menguras habis otakmu.”

“A-apa itu artinya aku boleh ikut olimpiade besok?” Tanya Nui dengan senyum di wajahnya.

Pak Reno tidak menjawab pertanyaan Nui, dia hanya tersenyum dengan lembut dan mengangguk dengan halus.

Melihat ini Nui merasa kalau ini adalah hari terindah dalam hidupnya. Dia tidak pernah tahu kalau anggukan halus seperti itu bisa membuat hatinya melayang karena senang! Nui berjalan ke arah pak Reno dengan terburu-buru, meraih tangannya dan menciumnya.

“Terima kasih pak!”

“Sama-sama,” Jawab pak Reno dengan lembut.

Melihat ini ibu Nina tersenyum, pak Darma ingin bersorak, dan Lani juga ikut merasa senang, di antara semuanya hanya pak Murhadi yang tidak senang dengan perkataan pak Reno.

Pak Murhadi mengepalkan tangannya dan mulai berjalan ke mejanya, langkah kakinya berat dan keras. Saat dia melangkah, rasanya dunia bergetar, dia sangat kesal dengan apa yang terjadi hari ini, selama 20 tahun, baru kali ini dia kalah. Biasanya pak Murhadi yang menginjak orang lain, namun sekarang dia merasa diinjak-injak oleh anak yang umurnya bahkan tidak separuh pak Murhadi.

Nui di sisi lain merasa senang luar biasa, pak Reno mengizinkan Nui mengikuti olimpiade besok, yang artinya, jika Nui berhasil menjadi juara, otomatis dia akan masuk ke SMA Fajar Biru. Nui ingat perkataan pak Adi kalau tahun kemarin ada anak yang walaupun tidak juara, dia tetap bisa masuk ke SMA Fajar Biru karena berhasil mengerjakan soal yang pak Reno buat. Nui berhasil menjawab soal pak Reno, jadi harusnya walaupun Nui tidak juara besok, dia bisa masuk ke SMA Fajar Biru.

‘Namun hal yang tidak pasti seperti itu tidak cukup.’ Pikir Nui.

Karena Nui akan mengikuti olimpiade besok, dia akan mengincar juara satu. Jika dia adalah Nui yang dulu, memenangkan olimpiade matematika hanyalah mimpi di dalam mimpi, namun sekarang Nui percaya kalau dia bisa meraih juara 1 di olimpiade matematika!

Setelah mencium tangan pak Reno, tangan pak Darma dan tangan ibu Nina dan berterima kasih terus menerus, Nui akhirnya keluar dari ruang guru.

Dia ingin bersorak. Namun mengerti kalau ini bukanlah tempat yang tepat untuk bersorak. Karena selain Nui berada di depan kantor guru, ada seorang gadis di sebelahnya. Gadis yang Nui pikir memiliki sifat yang buruk.

Namun setelah apa yang dia lakukan barusan, Nui merasa kalau penilaiannya salah.

“Itu, aku sangat berterima kasih padamu,” kata Nui sambil menggaruk kepalanya, “Kalau bukan karena kamu, aku tidak akan datang ke ruang guru, aku tidak akan menantang pak Murhadi dan otomatis tidak akan bisa mengikuti olimpiade besok. Ditambah, kamu mau repot-repot mencari hasil ujian saringanku yang dibuang pak Murhadi.”

Lani mulai berjalan, dan Nui mengikutinya, setelah beberapa langkah berjalan, mulut Lani akhirnya terbuka, “Anggap itu bayaranku karena memarahimu tanpa sebab yang jelas.”

Nui mengangguk dan tersenyum ke Lani. Dia merasa kalau gadis ini benar-benar cantik, dia terlihat seperti boneka, bahkan artis saja kalah cantik olehnya.

“Baiklah, kalau begitu aku harus segera pulang, aku ingin menyampaikan kabar ini pada ibuku.”

Lani mengangguk dan Nui mulai berjalan dengan lebih cepat, namun setelah Nui berjalan beberapa langkah, Lani bicara, “Hey, kalau kamu memang ada waktu, dari pada tidur dan mengkhayal di siang bolong, lebih baik memanfaatkannya dengan hal yang lebih baik.”

Mendengar ini Nui berbalik, dengan wajah yang penuh semangat dia berkata, “Aku mengerti!”

“Kalau begitu sampai jumpa lagi, semoga beruntung di olimpiade besok.” Lani berbicara dengan senyuman kecil di wajahnya, Nui agak malu karena senyuman itu ditujukan padanya. Nui tidak menjawab perkataan Lani dan hanya mengacungkan jempol padanya.

Setelah itu dia mulai berlari keluar dari gedung SMA Fajar Biru.

‘Aku penasaran bagaimana reaksi ibu saat mendengar kabar ini!’

Nui berlari sekuat tenaga dengan senyum yang lebar.


===

Arc perkenalan (prolog), selesai! Arc 1 dimulai!
Judul Arc 1: Fragment.
Keterangan Arc: "Tahukah kamu siapa yang menciptakan bumi yang kita injak? Tahukah kamu siapa yang menciptakan langit biru yang memayungi kepalamu? Bagaimana kalau aku katakan alam semesta ini bukanlah diciptakan oleh sosok yang disebut 'tuhan', melainkan ujung dari kisah cinta seseorang?  Ini adalah rahasia yang hanya diketahui oleh kamu dan aku.
 Alam semesta yang kita tempati sekarang adalah pecahan dari hati seseorang."

Postingan populer dari blog ini

[Jangan Liat] 37+ Anime Hentai Terbaik Yang Seharusnya Tidak Kamu Tonton!

41 Anime Harem Ecchi Terbaik Yang Dijamin Mantab! | 2016