OS Brain Bab 22: Di Mana Kiki?

Nui berlari di trotoar dengan wajah yang bahagia, beruntungnya, tidak banyak orang yang berjalan di trotoar, jadi dia bisa berlari sekencangnya, Nui juga bersyukur trotoar di Bogor dipenuhi oleh pohon yang rindang. Nui berlari seperti orang yang dikejar sesuatu, kadang, orang yang berpapasan dengan Nui mencari apa yang sebenarnya mengejar Nui.

Di pikiran Nui hanya satu, yaitu ingin segera pulang dan bertemu ibunya. Dia ingin segera mengatakan kalau ‘Aku bisa ikut olimpiade besok!’, di dalam pikirannya ibu Nui tidak akan melakukan sesuatu yang dramatis seperti memeluk Nui atau menangis karena bahagia. Di pikiran Nui, ibunya hanya akan diam dan mengangguk kemudian meneruskan pekerjaannya. Namun di dunia ini Nui adalah orang yang paling mengerti dengan ibunya, walaupun di luar dia tidak mengeluarkan ekspresi apa-apa, di dalam hatinya ibu Nui senang luar biasa.

‘Namun akan lebih baik kalau ibu memujiku,’ pikir Nui sambil berlari menghindari orang yang kebetulan berada di jalannya.

Nui terus berlari, namun lama-lama mulai memperlambat larinya sampai akhirnya berhenti berlari. Nui percaya kalau lari adalah salah satu hal yang bisa Nui banggakan, namun pada akhirnya Nui bukanlah atlet lari. Dia tidak bisa berlari dengan kecepatan penuh dari SMA Fajar Biru ke rumahnya yang jaraknya lebih dari 1 kilometer.

Nui mulai berjalan dengan terburu-buru.

‘Oiah, aku kembali ke SMA Fajar Biru karena takut Kiki akan mencegatku di depan rumah.’

Harusnya pengumuman ujian saringan olimpiade matematika akan diumumkan jam 4 sore, namun Nui memilih kembali ke SMA Fajar Biru karena berpikir di sana dia bisa aman dari Kiki, sekarang kira-kira masih jam satu siang, dan ada kemungkinan Kiki masih belum lelah menunggu Nui.

‘Ada kemungkinan Kiki dan temannya mencegatku di depan rumah, tapi memangnya kenapa?’

Kiki adalah teman sekelas Nui, dia membuat kehidupan SMP Nui yang susah menjadi makin susah, dia ditindas oleh Kiki selama tiga tahun, membuat Kiki menjadi orang yang kemungkinan tidak akan pernah bisa dilupakan oleh Nui.

Namun sekarang dia tidak peduli dengan Kiki.

‘Jika dia menungguku di depan rumah, biar saja!’

Hal yang paling ingin Nui lakukan sekarang adalah bertemu dengan ibunya, bahkan jika ada ratusan Kiki di depan rumahnya, Nui tetap ingin pulang dan bertemu dengan ibunya.

Nui yang berjalan dengan terburu-buru merasa staminanya kembali, jadi dia memutuskan untuk kembali berlari. Langkah kaki Nui terasa ringan, rasanya seperti ada per di kakinya. Ini pertama kalinya berlari bisa menyenangkan seperti ini.

Namun rasa senang Nui diganggu oleh sebuah suara sirene!

Dua hari terakhir ini Nui sudah sering mendengar suara sirene, kemarin dia mendengar suara sirene mobil polisi yang sedang mengejar perampok bank, dan tadi pagi juga begitu.

‘Jangan katakan padaku kalau kejadian yang sama akan terjadi tiga kali?’

Nui secara refleks melihat ke belakang dan melihat sumber dari suara sirene tersebut, berbeda dari kemarin dan tadi pagi, suara sirene sekarang dihasilkan oleh mobil pemadam kebakaran.

Suara “wiiuu wiiuu,” menggema di sepanjang jalan. Ada 3 mobil pemadam kebakaran yang melesat dengan kencang, dan tidak lama mobil tersebut berhasil mendahului Nui.

‘Kebakaran?’

Nui secara refleks melihat ke mana arah mobil itu melaju, di depan ada persimpangan jalan, dan jika belok ke arah kiri, maka itu arah yang sama dengan rumah Nui.

Nui mulai menelan ludahnya, entah kenapa dia merasakan firasat buruk. Keberuntungan selalu datang dengan hal buruk, Nui percaya dengan hal itu.

Nui merasa dirinya sangat beruntung hari ini, dia merasa keberuntungannya sudah dia habiskan agar bisa mengikuti olimpiade besok sehingga mungkin hal sial akan terjadi padanya. Mobil pemadam kebakaran itu terlihat seperti pertanda buruk bagi Nui!

Nui memerhatikan ke mana 3 mobil kebakaran itu akan pergi, jantungnya berdebar dengan kencang dan berharap kalau 3 mobil pemadam kebakaran itu akan pergi ke arah lain, dia berharap mobil pemadam kebakaran itu tidak pergi ke arah rumahnya.

3 mobil pemadam kebakaran tersebut tidak lama sampai di persimpangan jalan, semua mobil yang berada di depan mobil pemadam kebakaran bergerak ke pinggir dan membiarkan mobil pemadam kebakaran melewatinya.

Jantung Nui bergerak dengan kencang dan memerhatikan ke mana 3 mobil kebakaran itu akan pergi.

Saat 3 mobil pemadam kebakaran itu berbelok, jantung Nui berdetak sangat kencang, dia merasa kalau jantungnya akan meloncat keluar dari dadanya. Nui menggeritkan giginya dan mempercepat larinya, Nui benar-benar merasakan firasat yang sangat buruk.

3 mobil pemadam kebakaran itu berbelok ke arah kiri, ke arah rumah Nui!

Nui mengepalkan tangannya dengan keras dan segera melihat ke arah langit, Nui bisa melihat asap hitam yang mengepul naik ke udara.

‘Sial!’ Nui segera mempercepat larinya sampai pada titik dia merasa kalau dunia terlihat kabur, ‘Semoga firasatku salah! Semoga firasatku salah!”

Nui berdoa di dalam hatinya kalau hal buruk tidak akan terjadi.

Namun semakin dekat ke rumahnya, semakin banyak orang yang berada di jalan Nui, banyak orang yang berdiri dengan wajah yang pucat, banyak juga yang berlarian dengan panik!

Nui berlari sekuat tenaga dan berusaha menghindari semua orang yang menghalangi jalan, namun Nui yang berlari dengan sekuat tenaga menabrak beberapa orang.

“Hati-hati kalau lari!” Kata seorang pria paruh baya.

“Maaf,” jawab Nui sambil terus berlari.

Kerumunan orangnya makin banyak, Nui mendengar banyak orang yang berteriak, dan Nui juga merasa udara makin panas, mobil pemadam kebakaran terparkir tidak jauh dari rumah Nui dan banyak orang berlarian sambil membawa ember ke rumah Nui.

‘I-ini tidak nyata.’

Dengan wajah yang pucat dan pupil mata yang mengecil ....

... Nui melihat rumahnya terbakar!

###

Nui berdiri sekitar 50 meter dari rumahnya yang terbakar, dia merasakan panas yang luar biasa, keringat mengalir dari seluruh tubuhnya, dan Nui juga mulai batuk karena menghirup banyak asap.

Puluhan orang dengan mulut yang ditutup kain, pakaian, dan lainnya, membawa ember ke rumah Nui dan berusaha memadamkan apinya.

“Mana ember lainnya?!”

“Ini dia!”

“Pemadam kebakaran sudah datang, kenapa mereka belum melakukan apa-apa?!”

“Aku dengar mereka kesulitan mencari hydrant untuk sumber airnya!”

“Ini embernya! Aku akan pergi memberi tahu pemadam kebakaran itu di mana letak hydrant-nya!”

Nui mendengar teriakan banyak orang, namun dia masih terpaku karena melihat rumahnya yang terbakar.

‘Kebakaran? Di bogor? Dan lagi, tepat di rumahku!?’

Nui tidak bisa mencerna apa yang dia lihat, seakan dia kembali ke dirinya yang dulu, dia tidak bisa berpikir, dan sekaligus tidak bisa memahami apa yang terjadi, namun seketika sebuah suara keras yang terdengar seperi bunyi bel mulai berdentang di kepala Nui, dan suara bel itu membuat Nui  yang membatu kembali berpikir.

Seketika perasaan Nui dipenuhi dengan horor, keringat dingin keluar dari tubuh Nui dan detak jantung kembali mengamuk.

‘Rumahku terbakar!’ Roda gigi di kepala Nui seketika bekerja dengan sangat cepat, ‘Di mana ibuku?!’

Nui merasa kalau di detik ini, dia adalah orang yang paling bodoh sedunia, dia bahkan lebih bodoh dari dirinya yang sebelumnya, bagaimana mungkin dia lupa kalau ibunya selalu berada di kamar dan bekerja? Jika rumahnya terbakar ....

Nui secepat kilat menarik seseorang yang berada di depannya dan dengan wajah yang seram dia bertanya seperti seorang preman, “Di mana ibuku?!”

Orang yang ditarik kaget karena Nui tiba-tiba menarik pundaknya dan berteriak di depan wajahnya, namun tidak lama kemudian dia kaget karena melihat wajah Nui, Nui juga kaget melihat orang ini karena dia adalah teman Kiki.

Dia Feri!

Seketika wajah Feri ketakutan, pupil matanya berenang ke sana kemari seperti orang yang gelisah, dia tidak berani melihat mata Nui, dan berusaha keluar dari genggaman tangan Nui, namun Nui tidak melepaskannya.

“A-aku bersumpah aku tidak tahu apa yang terjadi!” Feri yang ketakutan berteriak sambil berusaha melepaskan diri dari Nui.

“Di mana ibuku?!” Teriak Nui, dia sangat khawatir pada ibunya, dia tidak berani memikirkan hal paling buruk yang bisa terjadi pada ibunya, namun saat dia berteriak, ada seseorang yang menyadari keberadaan Nui. Dia segera berlari ke arah Nui dan meraih pundaknya.

“Nui, apa kamu baik-baik saja?” Nui seketika melihat wajah orang yang meraih pundaknya, dia pria yang kelihatan berumur 30 tahun, dengan kulit kecokelatan dan kumis tebal yang menggantung di bawah hidungnya. “Syukurlah, aku pikir kamu ada di dalam! Ibumu sudah dilarikan ke rumah sakit!”

Orang ini adalah ketua RT di tempat Nui, namanya Dedi, Nui sering bertemu dengan pak Dedi dan kadang mengobrol dengannya.

“Benarkah? Apa ibuku baik-baik saja?!” Teriak Nui sambil melepaskan Feri.

“Aku tidak tahu, tapi sebaiknya kamu pergi ke rumah sakit! Kita beruntung karena tidak ada angin yang berhembus jadi kebakarannya tidak merambat ke rumah lain.”

“Rumah sakit yang mana?”

“Rumah sakit cempaka ungu.” Teriak pak Dedi.

Setelah mendengar perkataan pak Dedi, Nui berusaha mengingat di mana rumah sakit cempaka ungu, ingatan tersebut mengalir seperti air dan segera muncul di kepala Nui, dalam waktu kurang dari satu detik dia ingat alamat detil rumah sakit tersebut.

Nui berniat berlari ke rumah sakit cempaka ungu. Nui beruntung rumahnya berada tidak jauh dari pusat kota sehingga akses ke mana-mana mudah, dia tidak peduli dengan rumahnya yang terbakar atau barang-barang yang ada di dalamnya, ‘Apa pentingnya semua itu dibandingkan ibuku?’

Namun sebelum mulai berlari Nui berhenti, dia berbalik dan melihat wajah Feri yang terlihat gelisah.

Kebakaran, apa kebakaran bisa dikategorikan sebagai bencana alam? Banyak kasus kebakaran yang terjadi secara alami, seperti terbakarnya hutan yang kering dan lain sebagainya, namun kebanyakan kasus kebakaran terjadi di pemukiman—terjadi di tempat manusia tinggal. Sebabnya bermacam-macam, mulai dari hubungan pendek arus listrik, sampai anak yang bermain api.

Apa kebakaran yang tidak disebabkan alam disebut bencana alam? Nui tidak tahu, dia juga tidak peduli. Jika rumahnya mau terbakar, silakan terbakar. Yang penting ibunya aman. Ada banyak benda di rumah Nui, namun benda tersebut tidak terlalu berharga, setahu Nui, benda paling berharga di rumahnya adalah laptop milik ibunya karena banyak file pekerjaan di sana.

Namun Nui tentu saja ingin tahu kenapa rumahnya terbakar. Kenapa Feri bersumpah tidak tahu apa yang terjadi? Kenapa wajahnya gelisah, di mana Kiki dan Andre dan kenapa Nui mencium bau bensin dari tubuh Feri?

Semua pertanyaan itu muncul di kepala Nui, dan bagaikan titik yang mulai terhubung jadi garis, Nui mulai mengambil sebuah kesimpulan.

Namun dia tidak tahu kesimpulannya ini benar atau tidak, karena itu dia berjalan ke Feri dengan wajah serius, Feri ketakutan dengan tatapan Nui, ini membuat Nui makin curiga dengan Feri.

Dengan suara yang dalam, Nui bertanya, “Di mana Kiki?”

Postingan populer dari blog ini

[Jangan Liat] 37+ Anime Hentai Terbaik Yang Seharusnya Tidak Kamu Tonton!

41 Anime Harem Ecchi Terbaik Yang Dijamin Mantab! | 2016