OS-Brain Bab 24: Aku Tidak Akan Memaafkanmu!

Pihak rumah sakit mengatakan kalau jam besuk sudah selesai, dan Nui sudah tidak bisa melihat ibunya. Namun dia memohon ke sang dokter sampai akhirnya dokter mengizinkan Nui menemui ibunya.

Nui berjalan ke ruang tempat ibunya dirawat, ruangan tempat ibu Nui dirawat memiliki 5 pasien lain, jadi Nui berusaha setenang mungkin saat masuk ke dalam ruangan, tiap tempat tidur dipisahkan oleh kain berwarna biru muda, Nui berjalan ke tempat tidur ibunya dan menarik sebuah kursi ke dekat tempat tidur.

Dia duduk dan memerhatikan ibunya yang masih belum sadar.

Saat melihat ibunya, air mata mengalir di matanya.

Dia akhirnya melihat sosok ibu yang sangat dia khawatirkan.

Ibu Nui adalah perempuan yang diberkahi dengan wajah yang cantik, walaupun kulitnya pucat karena terlalu sering berada di dalam ruangan, ibu Nui tetaplah sehat. Umurnya lebih dari 40 tahun, namun semua orang berkata kalau ibu Nui terlihat baru berumur 28 tahun. Tubuhnya juga ramping dan terlihat enak dipandang. Namun Nui tahu tubuh ramping ibunya terbentuk bukan karena sering olahraga, melainkan karena dia sering menunda makan.

Namun sekarang di kulit ibunya yang pucat, dia melihat banyak perban. Di kaki, tangan, bahkan pipinya, ada perban yang membalut luka bakar, Nui juga sadar kalau rambut ibunya yang panjang dipotong agar luka di bagian kepalanya bisa diperban.

Nui ingin memegang tangan ibunya, namun menahan diri karena kedua tangannya juga di perban.

Nui hanya duduk dan memerhatikan ibunya.

1 menit, 3 menit, 10 menit, 15 menit, 20 menit, ... Nui hanya duduk diam seperti batu, namun matanya terlihat sedih namun sekaligus bersyukur.

Nui bersyukur ibunya masih hidup, namun dia juga sedih karena ibunya harus menderita. Jika dia diberi kesempatan untuk menggantikan ibunya, maka Nui akan dengan senang hati menggantikannya. Bagi Nui ibunya adalah yang paling penting.

“Ibu tahu, besok Nui bisa ikut olimpiade matematika.” Kata Nui dengan suara yang kecil, Nui khawatir mengganggu pasien lain jadi dia tidak berani bicara dengan suara yang keras.

Dia berniat menceritakan apa yang terjadi padanya hari ini, namun sebelum melakukannya seorang suster datang dan menyuruh Nui pulang.

“Sebaiknya kamu pergi, ibumu butuh istirahat.”

Sang suster bicara dengan nada yang lembut, suster ini memiliki wajah yang cantik dan tubuh proporsional, namun di antara semuanya, yang paling mencolok dari suster ini adalah matanya, dari wajahnya dia orang asia, namun anehnya dia memiliki pupil mata berwarna biru, Nui melihat pupil mata itu beberapa detik dan kemudian mengalihkan pandangannya.

Nui enggan pulang, namun pada akhirnya mengangguk dan menuruti perkataan sang suster.

Nui keluar dari ruang tempat ibunya dirawat dan mulai berpikir, ‘Malam ini aku tidur di mana?’

Rumahnya terbakar dan ibunya ada di rumah sakit. Jika bisa Nui ingin tidur di rumah sakit, namun Nui tahu kalau itu tidak mungkin. Jadi dia memutuskan untuk pergi ke rumah pak Dedi, dia tahu kondisi Nui, dan kemungkinan besar akan mengizinkannya menginap.

Namun setelah beberapa langkah berjalan keluar dari ruangan-

“Dor!”

-Nui mendengar suara keras, suara itu bagaikan suara petir, namun yang membuat Nui kaget adalah sumber dari suara itu.

Suara itu berasal dari ruangan ibu Nui!

Nui berlari secepat kilat ke ruangan ibunya dan membuka matanya dengan lebar. Sang suster yang memiliki pupil mata berwarna biru sedang memegang sebuah pistol yang diarahkan ke ibunya! Suara tembakannya sudah terdengar, itu artinya suster ini sudah menembak seseorang!

Nui membeku beberapa mili detik dan dengan wajah yang seperti baru melihat hantu, namun beberapa saat kemudian Nui berlari secepat kilat ke arah ibunya. Namun sang suster yang berdiri tidak jauh dari ibu Nui mulai mengarahkan pistol yang dia pegang ke Nui yang sedang berlari dan kemudian menekan pelatuknya.

“Dor!” Suara tembakan kedua mulai terdengar.

Sang suster membuka mulutnya, dia terlihat mengatakan sesuatu, namun Nui tidak bisa mendengar apa yang dikatakan suster ini.

Nui berada dalam bahaya, sebuah peluru melesat dengan cepat ke arah keningnya, namun Nui tidak berhenti, tubuhnya tidak bisa dihentikan, dia ingin melihat ibunya, dia khawatir dengan ibunya!

Dia tidak berhenti berlari dan memutar lehernya ke kanan, dia memutar lehernya dengan keras sampai akhirnya Nui bisa melihat sosok ibunya.

Seketika hati Nui hancur.

Di ranjang, Nui bisa melihat ibunya yang berlumuran darah. Darah itu keluar dari keningnya seperti mata air yang baru digali.

‘IBU!’

Nui ingin berteriak, namun mulutnya tidak bergerak secepat pikiran Nui.

Dia ingin segera menolong ibunya! Namun Nui tidak bisa melakukannya. Saat dia berhasil melirik ibunya, dia tahu kalau ada sesuatu yang menghantam kepalanya, rasanya seperti ada palu raksasa yang menghantam kepala bagian kirinya.

Nui tertembak.

Nui yang sedang berlari tiba-tiba berhenti. Dia melirik sang suster dengan pupil mata berwarna biru, dia tersenyum dengan lembut dan senyumnya terlihat seperti senyum ibu ke anaknya.

‘Si sialan ini!’

Nui tiba-tiba merasakan panas di kepalanya, dia merasa ada bola api yang menyala di dalam kepalanya. Saat seseorang tertembak, dia tidak akan merasakan apa-apa, namun beberapa saat kemudian rasa panas akan muncul dari dalam luka tembak. Dan rasa panas ini yang sedang Nui rasakan.

Namun Nui tidak menghiraukan rasa sakit ini.

Nui melotot ke arah sang suster, tatapan Nui tajam dan dia menggeritkan giginya dengan keras.

Saat seseorang ditembak di kepala, kemungkinan besar orang tersebut akan mati. Ibu Nui ditembak di kepala, jadi kemungkinan besar ibunya mati.

Ibu Nui mati. Dan yang membunuhnya adalah suster di depannya!

Rasa benci yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya muncul di hatinya, dia ingin melumat habis gadis yang membunuh ibunya!

Nui ingin menghantam kepala gadis ini dengan palu sampai otaknya berceceran di lantai!

Nui ingin menghajar wajah gadis yang tersenyum ini sampai yang tersisa hanya tulangnya saja.

Rasa sakit, perasaan yang hancur dan kebencian. Semua perasaan itu bergabung dan membuat Nui menatap suster di depannya dengan penuh rasa benci. Jika kebencian Nui dibandingkan dengan kebencian satu juta orang maka kebencian Nui lebih kuat 1000 kali lipat!

“Aku tidak akan memaafkanmu!” Dengan sisa tenaga yang tersisa, Nui mengucapkan kalimat itu ke suster yang ada di depannya. “Aku tidak akan memaafkanmu!”

Air mata kembali mengalir di wajah Nui yang penuh kebencian.

Di dalam hatinya Nui bersumpah, ‘Aku akan mengadilimu! Aku tidak akan membiarkanmu lepas setelah membunuh ibuku! Aku akan menangkapmu dan kemudian membunuhmu!’

Nui ingin berdiri dan menghajar suster ini, namun dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Pandangannya mulai gelap dan Nui mulai jatuh ke lantai, telinga Nui berdengung dan seketika kegelapan mulai memakan kesadaran Nui.

Normalnya, Nui akan mati, namun saat Nui mulai kehilangan kesadaran, OS-Brain mulai aktif dengan sendirinya.

[Peringatan: Tubuh pengguna dalam keadaan krisis!]

[Menjalankan program pemulihan otomatis.]

[Mencari luka dan zat yang membahayakan pengguna.]

[Luka ditemukan. Mencoba melakukan perbaikan sistem saraf otak yang rusak.]

[Memproses perbaikan luka pengguna.]

[Proses perbaikan gagal.]

[Mencoba kembali proses perbaikan.]

[Proses perbaikan gagal.]

[Mencari solusi lain untuk memperbaiki sistem saraf otak yang rusak.]

[Mencari ....]

[Solusi ditemukan.]

[Mencoba memperbaiki sistem saraf otak yang rusak dengan mempercepat regenerasi pada tubuh pengguna.]

[Proses perbaikan gagal. ]

[Mencari solusi lain untuk memperbaiki sistem saraf otak yang rusak.]

[Solusi ditemukan.]

[Mencoba mengubah DNA pengguna agar proses percepatan regenerasi bisa dilakukan.]

[Pengubahan DNA selesai.]

[Mencoba memperbaiki sistem saraf otak yang rusak dengan mempercepat regenerasi pada tubuh pengguna.]

[Memulai kembali proses perbaikan luka.]

[Loading ....]

[Proses perbaikan berhasil.]

[Aplikasi Pengubah DNA berhasil dibuat.]

[Memasang aplikasi Perubah DNA di OS-Brain]

[Proses pemasangan berhasil.]

[Membuat dokumen pengenalan aplikasi Pengubah DNA.]

[Proses selesai.]

###

Ketika kecil, Nui hidup bahagia dengan kedua orang tuanya, saat itu adalah waktu paling menyenangkan dalam hidup Nui. Ayahnya bekerja dengan keras dan ibunya mengurus rumah serta Nui yang masih kecil, mereka bertiga menghabiskan hari-harinya di rumah yang tidak terlalu besar namun sangat nyaman bagi keluarga kecil seperti mereka.

Nui ingat saat pertama dia menaiki sepeda mainan, ibunya mendorong sepeda tersebut dan ayahnya hanya tersenyum di pinggir jalan.

Masa kecil Nui bahagia.

Namun itu semua berubah ketika Nui menginjak umur 5 tahun. Suatu hari ayahnya tidak pulang berhari-hari, namun saat ayahnya akhirnya pulang, ibu dan ayahnya bertengkar hebat. Baru saat dewasa dia tahu kalau ayahnya menikah lagi.

Setelah ayahnya pergi, ibu Nui yang bekerja. Ibu Nui adalah penulis, namun berbeda dengan penulis biasa yang menulis novel atau buku, ibu Nui menjadi seorang penulis lepas di sebuah surat kabar nasional. Saat itu walaupun ibunya tidak sempat bermain dengan Nui, kehidupan mereka masih stabil.

Sampai suatu hari, tidak ada lagi orang yang mau menerima artikel dari ibu Nui. Dari sini hidup Nui mulai mengalami kesulitan.

Saat berumur 10 tahun, Nui sempat mencari pekerjaan. Saat itu ada sebuah toko yang iba dengan Nui dan membiarkannya bekerja, namun keesokan harinya ibunya menghajar Nui dan berkata kalau anak kecil itu tugasnya belajar dan bukan bekerja.

Ini adalah pertama kalinya Nui dihajar dan dimarahi oleh ibunya, Nui menangis, namun pelukan ibunya membuat Nui berhenti menangis. Saat itu dia tahu walaupun ibunya sedikit berubah—menjadi agak keras dan kasar—namun kasih sayangnya tidak berubah.

Dari sini Nui mulai belajar mati-matian agar bisa menyenangkan ibunya, walaupun hasilnya tidak sepadan dengan kerja keras yang dilakukan oleh Nui, ibunya tidak pernah marah. Dia bahkan tidak marah ketika Nui menjadi peringkat terakhir di kelasnya.

Ibunya selalu meminta Nui untuk bersyukur. “Tidak masalah kamu peringkat terakhir, kamu harus bersyukur karena bisa naik kelas.”

Nui tumbuh menjadi anak baik yang selalu berusaha sekuat tenaga, sekaligus menjadi anak yang selalu bersyukur.

Saat berumur 13 tahun, dia mengerti ibunya kesulitan mencari uang jadi kadang dia pergi diam-diam dan mencari uang tambahan.

Nui bersyukur ibunya tidak pergi seperti ayahnya, Nui juga bersyukur walaupun ibunya sering telat dan menunda makan dia tidak pernah sakit.

Setiap perkataan ibu Nui singkat padat dan jelas, Nui juga tidak pernah dipuji oleh ibunya, namun Nui tahu tiap kalimat yang keluar dari mulutnya dipenuhi kasih sayang, karena itu dia menyayangi ibunya, dia menghormati ibunya, dan dia mementingkan ibunya.

Nui selalu berpikir setelah lulus kuliah, dia akan bekerja dan membuat ibunya pensiun, dia tidak perlu bekerja karena Nui yang akan mengurus segalanya.

Sampai hari ini, dia selalu berpikir begitu.

Namun ....

Hari ini, di langkah pertama Nui mempermudah hidup ibunya, kebakaran terjadi, ibu Nui terluka dan dibawa ke rumah sakit.

Nui bersyukur karena ibunya masih hidup.

Namun rasa syukur itu tidak bertahan lama.

Sang suster dengan pupil mata berwarna biru membunuh ibunya.

Nui ingin menyelamatkan ibunya, dia tidak ingin ibunya berakhir seperti ini. Nui belum bisa membahagiakan ibunya, dan dia ingin sebuah kesempatan agar keinginannya bisa tercapai.

Dia akan melakukan agar impiannya bisa tercapai.

Bahkan jika harus menukar jiwanya dengan iblis, Nui tidak keberatan.

Bahkan jika harus bertarung sendirian melawan sejuta orang, Nui tidak keberatan.

Hal yang dia inginkan sederhana, namun hal sederhana itu serasa berada terlalu jauh dari jangkauannya, Nui merasa seperti katak yang berusaha melompat ke bulan, sekuat apa pun dia melakukannya dia tidak akan berhasil, dan saat dia memiliki kesempatan untuk menaiki roket dan mendarat di bulan, bulannya tiba-tiba hilang dari pandangannya.

Kenapa dunia ini begitu tidak adil?

Apa salah jika aku berusaha membahagiakan ibuku?

Siapa orang yang mengatur hidupku?

Jika hidupku memang benar-benar diatur oleh seseorang, aku ingin sekali menghajarnya!

Nui sudah menyerah, jika memang ibunya sudah meninggal, untuk apa Nui hidup? Alasan dia hidup dan bekerja keras selama ini adalah karena ibunya. Dan karena alasan itu direbut dari Nui, maka tidak ada lagi yang tersisa untuk Nui.

... Nui merasa kegelapan mulai menelannya.

Tapi apa tidak masalah?

Ibunya membesarkan Nui dengan sekuat tenaga, jadi apa tidak masalah kalau Nui mati begitu saja? Apa yang akan dia katakan kalau Nui menyerah? Bukankah ibunya akan datang dan sekali lagi menghajar Nui?

Dan lagi, suster dengan pupil berwarna biru. Apa tidak masalah membiarkannya hidup? Jika dia tidak ada maka ibunya tidak akan meninggal. Jika dia tidak ada, Nui akan bisa membahagiakan ibunya. Apa tidak masalah kalau membiarkannya hidup?

.............. tidak.

Orang yang membunuh ibu Nui tidak berhak hidup!

Orang yang membunuh ibu Nui harus merasakan rasa sakit yang tidak ada tandingannya! Dia tidak boleh tersenyum, dia tidak boleh bisa berjalan, dia tidak boleh bisa menggerakkan tangannya, dia tidak boleh bisa bicara, dan dia tidak boleh bisa berpikir!

Nui tidak akan memaafkannya!

Nui akan memburu orang yang membunuh ibunya!

Karena itu dia tidak boleh mati.

Dia harus hidup.

Nui membuka matanya dan melihat atap yang tidak dia kenal. Bau obat mulai menyengat hidunya, dan Nui juga merasa kalau kepalanya sakit luar biasa.

Nui bangun dari tidurnya dan yang dipikirkan olehnya hanya satu.

‘Aku akan membunuh si bedebah itu!’

Postingan populer dari blog ini

[Jangan Liat] 37+ Anime Hentai Terbaik Yang Seharusnya Tidak Kamu Tonton!

41 Anime Harem Ecchi Terbaik Yang Dijamin Mantab! | 2016