OS-Brain Bab 25: Kilatan Listrik

Nui kemudian melihat seisi ruangan, beberapa detik kemudian, dia merasa kalau pernah melihat ruangan ini, dia juga merasa kalau dia pernah mengalami hal yang serupa.

Seketika, Nui ingat kenapa ruangan ini terlihat tidak asing. Setelah dia ditabrak mobil, dia dilarikan ke rumah sakit dan bangun di ruangan ini.

Namun Nui segera menghilangkan pikirannya, bagi Nui, tidak ada hal yang lebih penting dari ibunya. Karena itu dia mulai keluar dari ranjang dan segera berlari ke luar ruangan. Hal yang pertama ingin dia lakukan adalah memeriksa ibunya, dia ingin memastikan kondisi ibunya. Nui tahu kalau ibunya sudah meninggal, namun dia juga berharap kalau keajaiban terjadi, mungkin ibunya masih hidup? Nui tahu semakin seseorang berharap maka akan semakin hancur hatinya saat tahu harapan itu tidak terkabul, namun Nui tidak mau berhenti berharap.

Saat dia keluar dia melihat seorang suster berjalan berlawanan arah dengannya, Nui memperhatikan mata suster yang berada di depannya namun suster ini memiliki pupil mata berwarna hitam.

“Apa yang kamu lakukan?!” Teriak sang suster, “Jangan berlari di lorong rumah sakit! Dan pakaian itu, apa kamu pasien? Berhenti!”

Nui seketika berhenti dan langsung bertanya padanya, “Di mana ibuku?!”

“Ibumu?” Sang suster kebingungan dengan pertanyaan Nui. Namun seketika wajahnya berubah seolah tiba-tiba menyadari sesuatu, “Kamu anak yang tadi sore ditembak seseorang kan?! Kamu sudah sadar?!”

Namun Nui tidak menjawab pertanyaan sang suster dan kembali bertanya, “Di mana ibuku?!”

Mendengar ini wajah sang suster yang masih kaget mulai berubah, dia terlihat sedih dan berkata: “Aku turut berbelasungkawa atas ...,” sang suster diam sebentar, “Kematian ibumu.”

Mendengar ini Nui merasa kalau jantungnya hancur berkeping-keping. Pikirannya membeku beberapa detik, sampai akhirnya Nui mulai mengepalkan tangannya dengan keras. Sekali lagi air mata mengalir dari matanya dan kali ini air matanya mengalir seperti air terjun.

“Kemarilah, kamu belum pulih dan harus istirahat.”

Namun Nui menggelengkan kepalanya, “Aku ingin melihat ibuku.”

Sang suster diam sebentar dan berpikir. Nui adalah anak yang tragis, hari ini rumahnya kebakaran dan ibunya dilarikan ke rumah sakit. Namun di rumah sakit ada seseorang yang menyamar sebagai suster dan kemudian menembak Nui dan ibunya.

Polisi sebenarnya sudah datang ke rumah sakit dan akan bertanya ke ibu Nui tentang kebakaran yang terjadi, namun saat mereka sampai, mereka dikejutkan karena ada seseorang yang telah membunuh ibu Nui dan sekaligus melukai Nui.

Pihak polisi meminta rumah sakit untuk mengabari mereka jika Nui sudah sadar.

Sekarang Nui sudah sadar, dan harusnya pihak rumah sakit segera menghubungi kepolisian, namun sang suster kebingungan karena Nui berkata kalau dia ingin segera menemui ibunya.

Dia membayangkan bagaimana jika hal ini terjadi padanya, ditambah, Nui tidak memiliki ayah, jadi sang suster yakin kalau dia sangat menyayangi ibunya.

“Apa tubuhmu tidak apa-apa? Apa ada bagian yang sakit?” Tanya sang suster.

“Tidak ada, aku sedikit pusing, namun pusing seperti ini bukan apa-apa.”

Sang suster terkejut mendengar perkataan Nui.

Sang suster tahu kalau sekitar jam 5 sore tadi, seseorang menembak kepalanya, peluru bersarang di kepalanya dan rumah sakit segera bertindak cepat dan mengeluarkan peluru tersebut, perban di kepala Nui adalah bukti kalau kepalanya memang tertembak. Namun sekarang Nui sudah bisa berlari dan mengatakan kalau dia cuman sedikit pusing.

Sang suster berpikir kalau ini adalah kekuatan kasih sayang seorang anak ke ibunya.

“Kalau begitu kamu harus mengganti bajumu dulu, setelah itu aku akan mengantarkanmu ke ... ibumu.” Sang suster sedikit susah mengatakan kalimat itu, karena walaupun kalimatnya terdengar biasa saja, ada makna dalam di kalimatnya. Sang suster akan membawa seorang anak ke mayat ibunya. Sang suster membayangkan bagaimana kalau dia berada di posisi Nui?

Nui yang air matanya tidak berhenti mulai mengangguk dengan lembut, kemudian sang suster berjalan dan Nui langsung mengikutinya.

Saat berjalan sang suster mendengar Nui menangis tersedu-sedu, melihat ini sang suster merasa hatinya sakit, dia percaya kalau hati anak yang ada di sampingnya hancur berkeping-keping.

Setelah sampai ke ruangan Nui, Nui mengganti pakaiannya dengan pakaian yang sudah disiapkan sang suster, setelah itu mereka berdua pergi tanpa berbicara sepatah kata pun.

Setelah berjalan beberapa saat, mereka sampai.

Sang suster menunggu di luar ruangan sedangkan Nui masuk sendirian.

Sang suster mencoba membayangkan apa yang akan dilihat oleh Nui.

Wajah ibunya yang pucat, kulit yang dingin, dan sebuah lubang di kepalanya. Membayangkannya saja sudah membuat hati sang suster sakit.

Sang suster diam dan menunggu. Satu detik, dua detik, sepuluh detik.

Tidak terdengar apa pun dari dalam ruangan. Saat sang suster berencana melihat keadaan Nui-

“AAAAAAAAA!”

-sebuah teriakan terdengar dari dalam ruangan.

Nui berteriak dan menangis dengan kencang, suaranya gemetar dan sedikit serak.

“AKKKH!”

Tangisan Nui terdengar seperti tangisan anak kecil yang kehilangan mainan kesayangannya, hanya saja suara Nui lebih dalam karena Nui sudah remaja.

Sang suster khawatir dan segera masuk ke dalam ruangan, di sana dia melihat Nui meringkuk di lantai dengan kedua tangan yang menggenggam keras dadanya.

“AAAAAAAKKHHH!”

Air mata keluar dari matanya bagaikan air terjun ditemani oleh lendir yang keluar dari hidungnya. Wajah Nui merah seperti terbakar matahari dan wajahnya terlihat tidak sedap dipandang.

Dia menangis dan berteriak seperti anak kecil. Sang suster mendekati Nui dengan wajah yang sangat khawatir, namun saat sang suster berada di depan Nui, Nui sudah berhenti menangis.

Nui pingsan.

###

Jam 1 pagi di hari berikutnya.

Nui kembali bangun dan melihat atap yang sudah agak dia kenal. Wajah Nui terlihat pucat dan kepalanya terasa sakit.

Tidak ada kata yang dapat menggambarkan perasaan Nui, namun Nui merasa kalau jantungnya terasa sakit.

Air mata kembali mengalir dari wajahnya dan senyum ibunya tergambar jelas di pikiran Nui.

Nui kemudian bangun dari tempat tidur dan pergi ke dekat jendela.

Saat kecil ibu Nui sering menggendong Nui dan melihat ke luar jendela rumah. Dulu hal yang Nui lihat dari luar jendela adalah sebuah jalan aspal yang berwarna hitam, pepohonan yang menghiasi sisi jalan, dan mobil tua yang kadang melewati rumahnya.

Namun sekarang Nui tidak berada di rumahnya, dia berada di rumah sakit.

Karena ruangan Nui berada di lantai dua, tidak banyak hal yang bisa Nui lihat. Hanya gedung yang gelap, jalan dan hujan ringan yang menimpa aspal.

Bogor tidak disebut kota hujan tanpa alasan.

Namun selain pemandangan di luar jendela, ada hal lain yang Nui bisa lihat dan benda itu melayang di pojok kiri atas pandangan Nui.

Itu adalah sebuah tanda seru “!” yang berkedip-kedip.

Tanpa memikirkan banyak hal, Nui menekan tanda seru tersebut dan sebuah kotak dialog muncul di hadapan Nui.

Dia membacanya beberapa saat dan mulai menggeritkan giginya.

Perasaan Nui tidak bisa digambarkan, namun pikirannya bisa.

‘Hey suster sialan! Aku akan segera datang dan membunuhmu!’

Nui kemudian mengepalkan tangannya dan memukul jendela di depannya dengan keras, “Prang!” jendela yang Nui pukul pecah berkeping-keping!

###

Jam 3 pagi di kantor Dishub kota Bogor.

Ada sebuah layar besar yang menggantung di salah satu ruangan. Layar tersebut menampilkan puluhan jalan yang rawan kemacetan, namun karena malam hari, tidak banyak mobil yang lalu lalang ditampilkan di layar tersebut.

Ini adalah ruangan untuk memonitor lalu lintas, dan layar besar yang tergantung itu terhubung dengan puluhan kamera CCTV yang tersebar di seluruh kota bogor.

Pada siang hari ruangan ini dipenuhi oleh orang, namun karena sekarang masih dini hari tidak ada siapa pun di sini.

Normalnya tidak akan ada yang terjadi, namun hari ini, jam 3 dini hari, layar tersebut tiba-tiba mati, beberapa detik kemudian seluruh layar menjadi buram seperti TV yang kehilangan sinyal dan baru kembali normal lima menit kemudian.

###

Di sebuah kantor asuransi di salah satu sudut kota, ada seorang penjaga keamanan yang tengah memperhatikan monitor di depannya, dan di layar tersebut ada 16 rekaman CCTV yang memperlihatkan tiap sudut kantor.

Namun tiba-tiba salah satu rekaman yang memperlihatkan tempat parkir tiba-tiba mati dan beberapa detik kemudian rekaman tersebut kembali menyala, namun walaupun menyala, CCTV tersebut tidak menampilkan apa-apa.

Hanya tulisan “No Signal”.

Sang penjaga keamanan mulai mengerutkan dahinya, “Apa yang terjadi?”

Sang penjaga keamanan mencoba memukul monitor yang ada di depannya, namun tidak ada yang terjadi.

“Apa monitornya rusak?” Pikir sang penjaga keamanan, “Tapi kenapa cuman kamera nomor 12 yang rusak?”

Dia mulai berdiri dan pergi dari pos keamanan, yang dia tuju adalah tempat parkir. Kamera 12 berada di tempat parkir, jadi sang petugas keamanan ingin memeriksanya.

“Karena cuman satu saja yang error itu artinya yang masalah bukan monitornya, tapi kameranya. Apa kameranya rusak? Apa yang terjadi?”

Dia berjalan dengan terburu-buru ke tempat parkir dan sesampainya di sana dia segera melihat kamera CCTV yang terpasang di dinding.

“Kameranya masih ada.” Gumam sang penjaga keamanan, “Kamera CCTV tidak mungkin rusak tanpa ada sebab, karena kamera CCTV-nya masih utuh artinya masalahnya bukan ada di kameranya. Kalau bukan di monitor dan di kamera, artinya yang masalah kabelnya.”

Sang penjaga keamanan segera menyimpulkan sesuatu dan kembali ke pos keamanan. “Aku bukan tukang kabel, jadi ini bukan pekerjaanku. Jika terjadi hal aneh yang perlu aku lakukan cuman mencatat dan melaporkannya.”

Sang penjaga keamanan sampai ke pos keamanan dan segera masuk, sekarang masih jam 3 dini hari, jadi dia enggan berjalan ke mana-mana, di tambah hujan juga belum reda, jadi udara di sini terasa semakin dingin.

“Eh?” Namun sesampainya di pos keamanan dia melihat kalau kamera nomor 12 aktif kembali, kamera tersebut menampilkan tempat parkir.

Namun si penjaga keamanan tidak ambil pusing dan kembali menikmati kopi hangat yang belum sempat dia minum.

###

Kejadian serupa terjadi di seluruh kota Bogor, kamera CCTV akan mati beberapa saat dan kemudian menyala kembali, beberapa orang penjaga keamanan sadar kalau ada hal yang aneh, namun sebagian besar penjaga keamanan menghiraukan kejadian ini. Mereka berpikir ini bukan hal yang besar.

Namun semua ini bukanlah kebetulan.

Penyebab dari semua ini adalah Nui.

Nui berdiri di sebuah atap gedung ditemani dengan hujan yang perlahan membasahi bumi, matanya tertutup dan seluruh tubuhnya diselimuti oleh kilatan berwarna biru.

Kilatan tersebut ... adalah listrik.

Postingan populer dari blog ini

[Jangan Liat] 37+ Anime Hentai Terbaik Yang Seharusnya Tidak Kamu Tonton!

41 Anime Harem Ecchi Terbaik Yang Dijamin Mantab! | 2016